logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan

Budidaya Anggrek Ramah Lingkungan: Mengubah Limbah Kaca Menjadi Hutan Mini di Laboratorium

  • 22 Maret 2026
  • Dibaca 223 Kali
Bagikan Via:
budidaya-anggrek-ramah-lingkungan-mengubah-limbah-kaca-menjadi-hutan-mini-di-laboratorium-20260323

Budidaya Anggrek Ramah Lingkungan: Mengubah Limbah Kaca Menjadi Hutan Mini di Laboratorium

JEMBER, 22 MARET 2026 - Isu keberlanjutan kini menjadi perhatian serius di Laboratorium Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Jember. Salah satu inovasi menarik ditunjukkan melalui pemanfaatan limbah botol kaca bekas sebagai media budidaya anggrek.

Hal tersebut disampaikan oleh Chandra dalam wawancara yang dilakukan baru-baru ini, di laboratorium setempat. Ia menjelaskan bahwa penggunaan botol bekas merupakan bagian dari penerapan prinsip ramah lingkungan sekaligus efisiensi biaya. “Botolnya saya belinya di rongsokan. Kan murah, cuci bersih baru kita pakai,” ujarnya.

Menurutnya, botol kaca bekas, khususnya botol saus, dipilih karena memiliki ukuran yang cukup besar dan mudah ditemukan. Selain itu, bahan kaca dinilai lebih aman digunakan dalam proses sterilisasi dibandingkan plastik.

“Kita ambil botol yang khusus anggrek, yang ini saus. Saus Monte gitu. Biasanya sudah umum di mana-mana karena isinya bisa banyak dalam satu botol,” jelasnya.

Untuk menjaga kualitas bibit, botol tersebut dilengkapi dengan penutup khusus yang dipesan secara daring guna mencegah kontaminasi dari luar. Langkah ini tidak hanya mendukung keberhasilan budidaya, tetapi juga memperkuat konsep laboratorium yang berkelanjutan.

Lebih dari sekadar efisiensi, inovasi ini juga menjadi bagian dari upaya pelestarian anggrek, terutama jenis yang mulai langka. Melalui teknik pembibitan dari biji di dalam botol, kebutuhan tanaman dapat dipenuhi tanpa harus mengambil dari habitat aslinya di hutan.

Proses tersebut membutuhkan ketelatenan dan waktu yang cukup lama. Dalam beberapa kasus, pertumbuhan anggrek bisa memakan waktu hingga satu tahun.

“Ada kadang-kadang yang lambat, satu tahun baru bisa keluar. Iya ada kayak anggrek besi itu, lama itu,” tutur Chandra.

Selain fokus pada produksi, kegiatan ini juga memiliki nilai edukasi. Laboratorium DTPHP dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran langsung bagi siswa agar memahami pentingnya bertani secara ramah lingkungan.

“Ini kan kita di sini untuk edukasi anak-anak. Namanya anak belajar kan mesti langsung praktik,” katanya.

Melalui inovasi sederhana ini, Chandra menunjukkan bahwa limbah dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi. Botol bekas yang sebelumnya tidak terpakai kini berubah menjadi “hutan mini” yang tidak hanya indah, tetapi juga mendukung pelestarian lingkungan dan memiliki nilai ekonomi. (ima)

Galeri Foto