Cabai Merah Besar Sumberejo Gerakkan Ekonomi, Kesejahteraan Petani Jadi Perhatian
- 02 September 2026
- Dibaca 35 Kali
Bagikan Via:
Cabai Merah Besar Sumberejo Gerakkan Ekonomi, Kesejahteraan Petani Jadi Perhatian
JEMBER, 2 SEPTEMBER 2026 — Di balik hamparan cabai merah besar di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, ada roda ekonomi yang ikut berputar. Panen berarti pekerjaan bagi warga, pemasukan bagi pedagang, sekaligus perputaran pembiayaan bagi petani. Namun, besarnya aktivitas ekonomi tersebut belum selalu membuat petani berada di posisi yang aman.
Gambaran tersebut disampaikan Ketua Kelompok Tani Harapan Maju, M. Suyatno Diantoro, saat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengunjungi petani cabai merah besar di Desa Sumberejo, Selasa (1/9/2026).
Menurut Suyatno, usaha tani cabai merah besar mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Saat panen, petani bahkan harus mencari pekerja hingga ke luar dusun dan desa. Ibu rumah tangga turut terlibat untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di lahan.
“Enggak ada pengangguran di sini, kurang tenaga kerja, Pak. Gitu loh. Kalau dampaknya pedagangnya cabai ini sampean dulu, dengan harga gini, ya otomatis mereka juga enggak mampu,” ujarnya.
Perputaran ekonomi tersebut juga terlihat dari tingginya kebutuhan pembiayaan petani cabai merah besar. Suyatno menyebut penyerapan KUR di wilayahnya cukup tinggi. Namun, ketika harga cabai turun, kemampuan petani membayar pinjaman ikut tertekan. Ia bahkan menyebut ada anggota kelompok tani yang harus menjual sawah karena kesulitan melunasi pinjaman setelah mengalami kerugian.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan cabai merah besar Sumberejo tidak hanya berhenti di lahan. Rantai pemasaran dan kemampuan menyerap hasil panen menjadi bagian penting yang menentukan apakah produksi yang besar benar-benar menghasilkan pendapatan yang layak bagi petani.
Dari sisi perdagangan, pemerintah daerah melihat peluang untuk memperpendek jalur pemasaran. Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan Kabupaten Jember, Lilik Makhfiyah, S.Pd., M.Pd., menyebut petani dapat diarahkan memasok langsung kebutuhan pasar melalui kerja sama yang lebih terstruktur.
“Kalau semua pasar itu menampung hasil dari petani kita, otomatis kita tidak perlu menjual keluar. Di tempat kita saja sudah kita surplus,” ujarnya.
Sementara itu, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Jember turut mendampingi BRIN untuk menyerap persoalan petani cabai merah besar Sumberejo. Kepala Bidang Hortikultura Agung Satrio Setiawan, S.P., M.P., menilai kemampuan produksi petani sudah kuat, sehingga perhatian berikutnya perlu diarahkan pada pemasaran dan kesejahteraan petani.
“Jadi petani nggak hanya sukses nanam dan juga panen, tetapi duitnya ya juga sukses,” kata Agung.
Masukan tersebut menjadi bagian dari diskusi BRIN dalam penyusunan naskah kebijakan strategi pemenuhan kebutuhan cabai melalui substitusi impor. Penguatan pengolahan pascapanen, pembentukan asosiasi petani, serta kemitraan dengan pasar dan industri menjadi sejumlah gagasan yang muncul.
Petani cabai merah besar Sumberejo telah menunjukkan kemampuannya dalam menggerakkan produksi dan ekonomi desa. Tantangannya kini adalah memastikan hasil kerja tersebut tidak berhenti pada tingginya produksi, tetapi juga memberikan nilai tambah dan kesejahteraan yang lebih baik bagi petani. (fan)