Dinkes Dorong Pesantren Ubah Sampah Menjadi Peluang Ekonomi
- 20 September 2026
- Dibaca 39 Kali
Bagikan Via:
Dinkes Dorong Pesantren Ubah Sampah Menjadi Peluang Ekonomi
JEMBER, 20 SEPTEMBER 2026 – Persoalan sampah di lingkungan pondok pesantren tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk melahirkan inovasi dan peluang ekonomi. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Musyawarah Masyarakat Pondok Pesantren (MMPP) di Pondok Pesantren Nurul Inaroh (NURINA), Sabtu, 19 September 2026.
Melalui pemaparan hasil Survei Mawas Diri (SMD), kondisi lingkungan pesantren dipetakan bersama dengan melihat berbagai potensi, tantangan, peluang, serta hambatan yang ada. Pemetaan tersebut kemudian menjadi bahan musyawarah untuk mencari persoalan yang dapat ditindaklanjuti melalui solusi yang sesuai dengan kondisi pesantren.
Salah satu perhatian yang muncul adalah bagaimana pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih terarah. Lingkungan pesantren yang dihuni banyak santri memiliki aktivitas sehari-hari yang menghasilkan berbagai jenis sampah. Kondisi tersebut membutuhkan kesadaran bersama, mulai dari pemilahan hingga pengolahan sampah agar tidak berhenti sebagai persoalan kebersihan.
Hadi Purwanto, S.Km., staf Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes PPKB Jember, menyampaikan bahwa kebiasaan memilah sampah dapat dibangun sebagai bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan pesantren.
“Santri perlu dibiasakan untuk memilah sampah sejak dari sumbernya. Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dipisahkan untuk didaur ulang atau diolah kembali. Dengan pengelolaan yang baik, sampah tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga bisa memiliki nilai ekonomis,” ujarnya.
Menurut Hadi, pesantren memiliki peluang untuk mengembangkan inovasi pengelolaan sampah yang disesuaikan dengan kondisi dan potensi yang dimiliki. Inovasi tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti pemilahan sampah, pengumpulan bahan yang masih bernilai guna, hingga pengembangan produk atau kerja sama dengan pihak yang memiliki kapasitas dalam pengolahan sampah.
Pendekatan tersebut sekaligus dapat menjadi sarana edukasi bagi santri. Kebiasaan memilah dan mengelola sampah sejak di lingkungan pesantren diharapkan dapat terbawa dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Ketua Tim Kerja Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Triyaningsih, S.KM., M.Kes., mengatakan hasil musyawarah tidak akan berhenti pada pembahasan, tetapi akan dilanjutkan melalui pendampingan bersama jejaring layanan kesehatan.
“Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti di musyawarah. Bersama Puskesmas Bangsalsari dan Rumah Sakit Paru, nantinya akan ada tindak lanjut berupa pendampingan, skrining kesehatan, dan edukasi,” katanya.
Melalui MMPP, persoalan kesehatan dan lingkungan di pesantren diharapkan dapat dipandang sebagai peluang untuk membangun perubahan. Pengelolaan sampah menjadi salah satu langkah yang dapat dikembangkan secara bertahap untuk menciptakan lingkungan pesantren yang lebih bersih sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang memberikan manfaat bagi warga pesantren. (ken)