logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan

Drama Kolosal "KISAH PAHLAWAN BURA"

  • 19 Agustus 2024
  • Dibaca 2933 Kali
Bagikan Via:
drama-kolosal-kisah-pahlawan-bura

Drama Kolosal "KISAH PAHLAWAN BURA"

Pada Upacara Penurunan Bendera Merah Putih dalam rangka HUT RI ke 79, Pemerintah Kabupaten Jember yang dikemas oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember bekerja sama dengan SMK Ibu Pakusari, SMPN 1 Silo, SDN Sumber Pinang 2, Teater Sepikul, serta Linkrafin dengan bangga mempersembahkan Drama Kolosal "Kisah Pahlawan Bura".

Jember adalah kota yang indah, damai, tentram dan sejahtera. Anugerah tersebut merupakan hasil dari jerih payah perjuangan para pahlawan yang tak gentar melawan para penjajah. Para pahlawan tersebut memiliki andil yang besar dalam kemerdekaan Indonesia di kawasan Jember, mereka rela mengorbankan seluruh jiwa dan raganya. Para syuhada tersebut diantaranya adalah Letkol. Muhammad Sroedji, dr. Soebandi, Letnan. Suhitman, Kopral. Soetomo, Pasukan Mastrip dan pahlawan Bura. Pahlawan Bura adalah komandan laskar rakyat di kawasan Jember bagian utara.

Bura adalah pendekar hebat dan memiliki ilmu kanugaran yang sangat mumpuni. Ia dikenal kebal terhadap sejanta tajam dan bahkan senjata api. Hebatnya lagi, ketinggian ilmu kanugaran Bura digunakan untuk kebaikan, yaitu berjuang mengusir penjajah. Kemanapun Bura pergi, ia tidak pernah lupa membawa senjata andalannya, celurit, dan semasa hidupnya sudah tidak terhitung jumlah leher penjajah yang tertebas oleh celuritnya.

Bura berjuang seangkatan dengan Muhammad Sroedji, namun Bura lebih fokus berjuang di wilayah Jember Utara. Bura tidak berjuang sendirian, ia memimpin pejuang yang tergabung dalam Laskar Rakyat dan bersama dengan pejuang lain melawan kolonial Belanda.

Sebagai manusia biasa, Bura memiliki kelemahan dan Belanda menggunakan kelemahan tersebut untuk mengalahkan Bura. Pihak Belanda menyandera ibu Bura dan pada akhirnya berhasil menangkap Bura. Kolonial Belanda tidak segera membunuh Bura akan tetapi mengaraknya melewati sejumlah desa dengan tangan terborgol dan tanpa baju. Ketika sampai di Desa Jatian, tepat di pinggir sungai Pihak Belanda membakar tubuh Bura hidup-hidup lalu membuang abunya ke sungai.