logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Sumbersari

Duduk di Kursi Roda Sejak Bayi, Devi Kini Tak Lagi Khawatir Kehilangan Akses Layanan Kesehatan

  • 13 Juli 2026
  • Dibaca 12 Kali
Bagikan Via:
duduk-di-kursi-roda-sejak-bayi-devi-kini-tak-lagi-khawatir-kehilangan-akses-layanan-kesehatan-20260713

Duduk di Kursi Roda Sejak Bayi, Devi Kini Tak Lagi Khawatir Kehilangan Akses Layanan Kesehatan

JEMBER, 13 JULI 2026 – Bagi Devi, menuju puskesmas bukan sekadar menempuh beberapa kilometer. Sejak terserang polio saat berusia empat bulan, perempuan 32 tahun asal Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung itu harus bergantung pada bantuan keluarga setiap kali hendak keluar rumah. Kini, ia tak lagi khawatir kehilangan akses pelayanan kesehatan. Petugas Puskesmas Ajung rutin datang ke rumah untuk memeriksa kondisi kesehatannya.

Bagi penyandang disabilitas seperti Devi, keterbatasan mobilitas kerap menjadi penghalang memperoleh layanan kesehatan. Karena itu, layanan kesehatan melalui kunjungan rumah yang dijalankan Puskesmas Ajung menjadi solusi agar masyarakat tetap memperoleh hak yang sama atas pelayanan kesehatan tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan.

"Kalau aktivitas di rumah masih lancar. Kalau keluar rumah tidak bisa sendiri. Ke kamar mandi masih bisa, tetapi kalau buang air besar masih perlu bantuan bapak," tutur Devi saat ditemui dirumahnya, Senin, 13 Juli 2026.

Dalam setiap kunjungan, tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan kondisi pasien, memantau perkembangan kesehatannya, memberikan edukasi, hingga memastikan apakah diperlukan pengobatan maupun penanganan lanjutan. Dengan cara tersebut, kondisi pasien tetap terpantau meski memiliki keterbatasan untuk datang ke puskesmas.

Meski hidup dengan keterbatasan fisik, Devi mengaku bersyukur karena selama ini tidak pernah mengalami penyakit serius. Namun, ia masih menyimpan harapan agar penyandang disabilitas tidak hanya memperoleh layanan kesehatan, tetapi juga kesempatan untuk hidup lebih mandiri.

"Saya ingin bisa mandiri. Orang tua juga semakin bertambah usia. Saya tidak ingin terus bergantung kepada mereka," katanya.

Kepala Puskesmas Ajung, dr. Nur Rakhman Ahadi, mengatakan layanan kesehatan melalui kunjungan rumah merupakan bagian dari pelaksanaan Integrasi Layanan Primer (ILP) yang bertujuan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, khususnya kelompok rentan yang mengalami hambatan mobilitas.

Program tersebut menyasar penyandang disabilitas, lanjut usia, ibu hamil, ibu menyusui, balita dengan kondisi tertentu, pasien penyakit kronis, hingga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Menurutnya, setiap kelompok memiliki kebutuhan pelayanan yang berbeda sehingga pendekatan yang diberikan juga disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

"Di wilayah kerja Puskesmas Ajung terdapat sekitar 140 penyandang disabilitas. Data tersebut kami lakukan verifikasi bersama Dinas Sosial dan pemerintah desa agar pelayanan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing warga," ujarnya.

Nur Rakhman menjelaskan, penyandang disabilitas terdiri atas berbagai kategori, mulai dari disabilitas sensoris seperti gangguan penglihatan dan pendengaran hingga disabilitas motorik akibat polio, amputasi, kecelakaan, cacat bawaan, maupun penyakit kronis yang menyebabkan keterbatasan gerak.

Bagi warga yang masih mampu datang ke puskesmas, pelayanan dilakukan melalui rawat jalan. Sementara bagi mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas, petugas kesehatan melakukan kunjungan secara berkala bersamaan dengan kegiatan Integrasi Layanan Primer. Apabila dalam pemeriksaan ditemukan kebutuhan pengobatan, alat kesehatan, maupun pelayanan lanjutan, puskesmas akan melakukan tindak lanjut sesuai prosedur dan berkoordinasi dengan pemerintah desa serta instansi terkait.

Kisah Devi menjadi gambaran bahwa akses pelayanan kesehatan tidak selalu ditentukan oleh dekat atau jauhnya fasilitas kesehatan. Bagi sebagian warga, tantangan justru dimulai ketika mereka harus meninggalkan rumah. Melalui layanan kesehatan yang hadir langsung ke rumah warga, Puskesmas Ajung berupaya memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal memperoleh hak atas pelayanan kesehatan hanya karena keterbatasan fisik. Di saat pelayanan publik mampu menjangkau mereka yang paling membutuhkan, kehadiran negara benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat. (dan)

Galeri Foto