logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Patrang

Gerakan Zero Waste 2026 Dimulai, Jember Lor Sulap Sampah Rumah Tangga Jadi Peluang Usaha

  • 14 Juni 2026
  • Dibaca 71 Kali
Bagikan Via:
gerakan-zero-waste-2026-dimulai-jember-lor-sulap-sampah-rumah-tangga-jadi-peluang-usaha-20260614

Gerakan Zero Waste 2026 Dimulai, Jember Lor Sulap Sampah Rumah Tangga Jadi Peluang Usaha

JEMBER, 14 JUNI 2026 - Tumpukan sampah rumah tangga yang selama ini dianggap sebagai masalah, kini mulai dipandang sebagai peluang oleh warga Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember. Melalui gerakan Jelo Zero Waste 2026, masyarakat diajak mengubah sampah menjadi sumber manfaat, bahkan bernilai ekonomi.

Gerakan tersebut diawali dengan kegiatan sosialisasi dan pelatihan pengelolaan sampah yang digagas Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kelurahan Jember Lor, Nursyamsida Tohari, S.E., M.M., bekerja sama dengan Destana Kelurahan Jember Lor dan Jelo Urban Verdant Collective (JUVC).

Kegiatan berlangsung secara bergilir di seluruh RW di Kelurahan Jember Lor selama Juni hingga Juli 2026. Pada Sabtu, 13 Juni 2026 sore, sosialisasi digelar di RW 12, RW 19, dan RW 23 dengan melibatkan pengurus PKK serta masyarakat setempat.

Nursyamsida mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan sampah rumah tangga, baik organik maupun nonorganik, sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

"Kami ingin masyarakat memahami bahwa sampah bukan hanya sesuatu yang harus dibuang. Jika dikelola dengan benar, sampah dapat dimanfaatkan kembali dan bahkan memiliki nilai ekonomi," ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan cara mengolah sampah organik dari sisa makanan menggunakan metode sederhana yang dapat diterapkan di rumah. Hasil pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai media tanam dan pupuk cair organik.

Menurut Nursyamsida, produk hasil pengolahan sampah tersebut tidak hanya dapat digunakan untuk kebutuhan sendiri, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.

"Media tanam dan pupuk cair yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk tanaman di rumah. Jika produksinya lebih banyak, hasilnya juga bisa dijual," katanya.

Sementara itu, penggagas Inisiasi Jelo Zero Waste 2026, Istono "Genjur" Asrijanto, menegaskan bahwa gerakan tersebut lahir dari kesadaran warga untuk mencari solusi atas persoalan sampah yang semakin kompleks.

Menurut dia, keberhasilan pengelolaan sampah tidak dapat bergantung pada pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dan berbagai elemen lokal.

"Kami berkolaborasi dengan TP PKK Kelurahan, Destana Jelo, PKK RW, Jelo Urban Verdant Collective, serta Wrasana Bumi Gathayu untuk memastikan pengelolaan sampah rumah tangga tidak berhenti pada wacana, tetapi menjadi praktik nyata di dapur, di gang, dan di halaman rumah," ujar Istono.

Ia menjelaskan, konsep yang diusung dalam gerakan tersebut mencakup proses memilah, mengolah, hingga memanfaatkan kembali sampah rumah tangga secara mandiri.

Bagi Istono, persoalan sampah seharusnya tidak hanya dilihat sebagai beban lingkungan, melainkan peluang untuk membangun kemandirian warga melalui kebiasaan yang sederhana dan berkelanjutan.

"Dari memilah, mengolah, hingga memanfaatkan kembali, semuanya dilakukan bersama agar darurat sampah bisa kita ubah menjadi peluang kemandirian lingkungan," katanya.

Gerakan Jelo Zero Waste 2026 mengedepankan partisipasi masyarakat, dukungan kelembagaan lokal, serta praktik pengelolaan sampah yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Melalui sinergi antara TP PKK, Destana, JUVC, dan Wrasana Bumi Gathayu, program tersebut diharapkan menjadi model pengelolaan sampah mandiri yang berkelanjutan di tingkat kelurahan.

Di tengah meningkatnya volume sampah rumah tangga, langkah warga Jember Lor ini menjadi contoh bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil di rumah. Dari sisa makanan yang biasanya berakhir di tempat sampah, kini lahir pupuk, media tanam, hingga peluang ekonomi baru bagi masyarakat. (yud)

Galeri Foto