INFOGRAFIS KEPENDUDUKAN DAN ANAK TIDAK SEKOLAH DI KELURAHAN BANJARSENGON
- 01 Agustus 2025
- Dibaca 413 Kali
Bagikan Via:
INFOGRAFIS KEPENDUDUKAN DAN ANAK TIDAK SEKOLAH DI KELURAHAN BANJARSENGON
Kamis, 24 Juli 2025. Mahasiswa KKNK (Kuliah Kerja Nyata Kolaboratif) melakukan upaya pendataan kependudukan dan anak tidak sekolah untuk pembuatan infografis dikelurahan Banjarsengon. Dari data infografis yang telah dibuat, dapat diuraikan sebagai berikut. Kelurahan Banjarsengon, dengan luas wilayah 2,71 km², memiliki total 3.511 jiwa penduduk, terdiri dari 1.736 laki-laki (49,4%) dan 1.775 perempuan (50,6%). Kelurahan ini terbagi menjadi 9 RW dan 24 RT.
Analisis demografi berdasarkan usia menunjukkan adanya potensi SDM yang signifikan. Kelompok usia 41-55 tahun memiliki jumlah rata-rata tertinggi (lebih dari 59 orang per usia), mengindikasikan dominasi penduduk usia produktif yang matang secara pengalaman. Kelompok usia muda (12-25 tahun) juga cukup besar, menunjukkan potensi sumber daya manusia baru yang siap untuk memasuki dunia kerja atau melanjutkan pendidikan. Meskipun kelompok usia lanjut (86-103 tahun) sangat kecil, ini merupakan karakteristik demografi alami.
Dalam hal mata pencarian, data menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Banjarsengon adalah petani dan buruh tani, mencerminkan sektor agraris sebagai tulang punggung ekonomi kelurahan. Keberadaan Ibu Rumah Tangga (IRT) juga cukup signifikan. Selain itu, terdapat wirausaha, pelajar, dan sebagian kecil bekerja di sektor formal (tukang batu, pekerjaan tetap). Namun, proporsi "Tidak Punya Pekerjaan Tetap" yang perlu diperhatikan, mengindikasikan adanya tantangan dalam penyerapan tenaga kerja. Potensi SDM dari usia produktif (terutama 12-55 tahun) dapat diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian, mengembangkan wirausaha lokal, atau diberikan pelatihan keterampilan untuk mengisi peluang pekerjaan tetap yang mungkin tersedia, guna mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan.
Data agama pada infografis menunjukkan mayoritas mutlak penduduk Banjarsengon, yaitu 99%, menganut agama Islam. Sisanya, 1% penduduk, menganut agama Kristen.
Di kelurahan banjarsengon distribusi mata pencaharian menunjukkan keberagaman. Proporsi terbesar adalah petani, diikuti oleh buruh petani. Ibu Rumah Tangga (IRT) juga merupakan kategori besar. Selain itu, terdapat wirausaha, pelajar, dan sebagian kecil bekerja sebagai tukang batu atau memiliki pekerjaan tetap. Persentase "Tidak Punya Pekerjaan Tetap" juga menjadi perhatian yang perlu ditindaklanjuti.
Selain melakukan pendataan infografis kependudukan, mahasiswa KKN juga melakukan pendataan anak tidak sekolah dengan beberapa tujuan yaitu
1. Pendataan anak tidak sekolah merupakan langkah krusial untuk mengidentifikasi individu-individu yang rentan terhadap putus sekolah atau tidak pernah mengenyam pendidikan, yang seringkali berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu atau menghadapi hambatan sosial dan geografis.
2. Untuk mengetahui alasan spesifik mengapa anak tidak bersekolah (misalnya, masalah ekonomi, tidak berminat, sakit), intervensi dapat dirancang secara lebih targeted dan efektif.
3. Pendataan ini menjadi dasar untuk merencanakan alokasi sumber daya, seperti program beasiswa, pelatihan keterampilan, atau program pendidikan kejar paket, agar bantuan yang diberikan tepat sasaran.
4. merupakan indikator penting dalam mengukur capaian pembangunan pendidikan dan kesejahteraan sosial di suatu daerah.
Pada data infografis yang telah dibuat, di dapatkan hasil sebagai berikut, data mengenai Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kelurahan Banjarsengon menunjukkan bahwa terdapat total 8 anak tidak sekolah, terdiri dari 5 laki-laki dan 3 perempuan. Namun, perlu dicatat bahwa dari data tersebut, 4 di antaranya dinyatakan tidak valid (2 perempuan dan 2 laki-laki), sehingga jumlah data valid adalah 4 anak.
Pendidikan Terakhir ATS dan Penyebaran di Setiap RW: Infografis menunjukkan pendidikan terakhir ATS tersebar di berbagai jenjang, mulai dari SD, SMP, hingga SMA, dengan penyebaran yang bervariasi di setiap RW.
Beberapa alasan utama mengapa anak-anak tidak bersekolah di Banjarsengon meliputi:
Perekonomian dan kurangnya biaya menjadi faktor dominan. Ketidakmampuan melanjutkan pendidikan. Tidak ada keinginan untuk sekolah. Sakit atau disabilitas. Dapat tidak sekolah (anak tetap bekerja). Meninggal.Dari uraian yang telah dijelaskan diatas, besar harapan kami dari berbagai pihak terkait, dimulai dari pihak kelurahan sampai pemerintahan
Dari pihak keluarga anak tidak sekolah solusi yang diharapkan adalah:
1. Memberikan dukungan moral dan motivasi kepada anak agar tetap semangat untuk belajar, baik di sekolah formal maupun jalur pendidikan alternatif.
2. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak untuk belajar di rumah, meskipun dalam kondisi sederhana.
3. Aktif mencari informasi mengenai program bantuan pendidikan dan tidak ragu untuk mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah atau lembaga terkait.
Dari pihak kelurahan banjarsengon solusi yang diharapkan adalah:
1. Kelurahan harus secara rutin melakukan pendataan dan pemantauan ATS, bekerja sama dengan RT/RW, untuk memastikan tidak ada anak yang luput dari perhatian.
2. Menjadi jembatan antara keluarga ATS dengan program-program bantuan pemerintah atau lembaga swasta.
3. Membentuk tim khusus di tingkat kelurahan yang bertugas menangani kasus-kasus ATS secara individual, termasuk melakukan kunjungan rumah dan mediasi.
4. Mendorong inisiatif komunitas lokal, seperti taman baca, bimbingan belajar gratis, atau program pelatihan keterampilan dasar yang relevan dengan kebutuhan lokal.
Dari pihak pemerintahan solusi yang diharapkan adalah :
1. Penyediaan Beasiswa dan Bantuan Pendidikan, pemerintah diharapkan mengalokasikan dana beasiswa yang cukup dan tepat sasaran bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, mencakup biaya sekolah, seragam, buku, dan transportasi.
2. Mengembangkan dan mengintensifkan program pendidikan non-formal seperti Paket A, B, atau C, serta pendidikan kesetaraan yang fleksibel, agar ATS dapat tetap memperoleh ijazah dan keterampilan.
3. Menerapkan program-program pemberdayaan ekonomi keluarga (misalnya, bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan kerja bagi orang tua) untuk mengurangi beban finansial yang mendorong anak putus sekolah.
Dengan pendekatan yang komprehensif dan kolaborasi dari semua pihak, diharapkan jumlah Anak Tidak Sekolah di Kelurahan Banjarsengon dapat terus berkurang, dan setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan yang layak. Data ini bersumber dari Dinas Pendidikan Aplikasi (Dispendik Jember) per Juli 2025, yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara, menunjukkan komitmen untuk mengatasi masalah pendidikan di tingkat lokal.