KARNAVAL BUDAYA DESA SUKAMAKMUR 2025 JADI VIRAL , SOUND SYSTEM HOREG BIKIN AJUNG BERGOYANG.
- 12 Oktober 2025
- Dibaca 1303 Kali
Bagikan Via:
KARNAVAL BUDAYA DESA SUKAMAKMUR 2025 JADI VIRAL , SOUND SYSTEM HOREG BIKIN AJUNG BERGOYANG.
Sukamakmur, Ajung — 11 Oktober 2025.
Suasana Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, mendadak berubah menjadi lautan warna dan sorak-sorai kebersamaan. Ribuan warga tumpah ruah mengikuti sekaligus menyaksikan Karnaval Budaya Sukamakmur 2025, sebuah agenda akbar tahunan yang selalu dinantikan masyarakat setempat.
Karnaval tahun ini mengambil rute dari Dusun Mangaran sebagai titik start dan berakhir di Balai Desa Sukamakmur yang terletak di wilayah Dusun Plalangan. Sejak pagi hari, warga sudah berbondong-bondong bersiap. Para peserta mengenakan berbagai kostum unik yang mencerminkan kekayaan budaya Nusantara — mulai dari pakaian adat Jawa, Madura, Dayak, Betawi, hingga kreasi modern bertema pahlawan nasional dan tokoh legenda.
Tak hanya anak-anak sekolah, namun juga pemuda karang taruna, bapak-bapak RT/RW, kelompok ibu PKK, pelaku UMKM, komunitas seniman jalanan, hingga para lansia ikut ambil bagian. Seluruh lapisan masyarakat bersatu dalam nuansa kegembiraan yang sulit tergambarkan dengan kata-kata.
Yang tak kalah mencuri perhatian adalah iringan sound system “horeg” — sebutan khas masyarakat setempat untuk sistem audio berdaya tinggi yang biasanya hadir saat acara hajatan atau konser jalanan.
Dengan dentuman musik dangdut koplo, sholawat hadrah, hingga remix kekinian, para peserta karnaval berjoget riang sepanjang perjalanan. Anak-anak bergoyang sambil membawa bendera, ibu-ibu melambaikan kipas kain sambil tertawa, sementara para remaja memanfaatkan momen ini untuk membuat konten video yang langsung diunggah ke media sosial.
Beberapa kelompok peserta bahkan menghadirkan atraksi tambahan seperti drum band sekolah, barongsai mini, jaranan, ogoh-ogoh, dan kostum raksasa berbahan bambu serta kertas daur ulang. Kreativitas warga benar-benar terlihat maksimal.
Kehadiran para pejabat wilayah menambah semarak acara. Tampak hadir:
Camat Ajung bersama jajaran Muspika
Kapolsek Ajung beserta anggota kepolisian yang memastikan keamanan jalur
Perangkat Desa Sukamakmur, termasuk Kepala Desa serta para Kasi dan Kadus
Dalam sambutannya sesaat sebelum pelepasan peserta, perwakilan Muspika Ajung menyampaikan apresiasi atas kekompakan warga Sukamakmur.
“Karnaval ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga simbol kekuatan persatuan masyarakat. Selama warga tetap rukun dan guyub seperti ini, desa pasti maju dan sejahtera,” ujarnya.
Kepala Desa Sukamakmur menyatakan bahwa karnaval budaya ini sengaja digelar sebagai bentuk pelestarian nilai tradisi sekaligus penyemangat generasi muda agar tidak melupakan akar budaya mereka.
“Sekarang banyak anak-anak lebih mengenal budaya luar lewat gawai daripada budaya sendiri. Dengan karnaval seperti ini, mereka bisa mengenakan pakaian adatnya sendiri, merasakan kebanggaan menjadi bagian dari bangsa yang kaya tradisi,” ungkapnya.
Untuk mendukung itu, panitia menyediakan kategori kostum terbaik, atraksi terunik, dan penampilan paling kreatif. Para juri berasal dari tokoh masyarakat dan perangkat desa. Namun, suasana kompetitif tidak menghilangkan rasa kebersamaan — semua peserta tetap saling mendukung satu sama lain.
Di sepanjang jalan, warga yang menonton tak henti-hentinya bersorak, memberikan tepuk tangan dan semangat. Para pedagang kaki lima pun ikut kebagian berkah. Penjual es tebu, cilok, sosis bakar, hingga mainan anak-anak laris manis diserbu pembeli.
Seorang warga bernama Siti Rohmah, penjual minuman keliling, mengaku dagangannya habis lebih cepat dari biasanya.
“Biasanya habis jam lima sore, ini jam dua siang sudah ludes. Alhamdulillah, acara seperti ini bikin ekonomi warga ikut bergerak,” katanya sambil tersenyum puas.
Harapan serupa datang dari para tokoh muda Sukamakmur. Mereka mengusulkan agar kegiatan tahun depan ditambah dengan festival kuliner lokal dan panggung hiburan malam agar suasana semakin lengkap.
Karnaval Budaya Sukamakmur 2025 bukan hanya pesta meriah semata. Ia adalah potret gotong royong, kebanggaan budaya, dan semangat persatuan yang masih sangat kuat di tengah masyarakat desa.
Di saat kota-kota besar mulai kehilangan ruang silaturahmi, Sukamakmur membuktikan bahwa tradisi bisa tetap hidup jika dirawat dengan cinta dan kebersamaan.
Dengan berakhirnya kirab di Balai Desa, seluruh peserta berkumpul untuk menikmati hiburan penutup dan pembagian hadiah. Namun yang paling penting bukan pialanya — melainkan kenangan yang akan terus tertinggal di hati warga: bahwa mereka pernah menari dan tertawa bersama dalam warna-warni budaya Indonesia.