logo ppid jember kim
Oleh : Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Kemarau Berkepanjangan Ancam Pasokan Air Bersih, BPBD Jember Intensifkan Distribusi Air Bersih

  • 24 Oktober 2026
  • Dibaca 128 Kali
Bagikan Via:
kemarau-berkepanjangan-ancam-pasokan-air-bersih-bpbd-jember-intensifkan-distribusi-air-bersih-20261024

Kemarau Berkepanjangan Ancam Pasokan Air Bersih, BPBD Jember Intensifkan Distribusi Air Bersih

JEMBER, 24 OKTOBER 2026 – Musim kemarau berkepanjangan menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember mencatat ribuan kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan dan harus mengandalkan bantuan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga awal Desember 2026, mengikuti perkiraan datangnya hujan.

Dampak kekeringan tersebut membuat pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi tantangan bagi warga di wilayah terdampak. Untuk memenuhi kebutuhan air minum, sebagian warga terpaksa membeli air mineral atau mengambil air dari warga lain yang masih memiliki persediaan. Warga juga mengandalkan bantuan distribusi air bersih dari pemerintah. Kekeringan turut berdampak pada fasilitas umum, termasuk tempat ibadah dan musala yang terpaksa menutup kamar mandi sehingga menyulitkan jemaah yang hendak berwudu.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam laporan hingga minggu kedua Oktober 2026, sebanyak 3.330 KK di 10 kecamatan mengalami krisis air bersih. Kepala BPBD Kabupaten Jember, Dr. Drs. Edy Budi Susilo, M.Si., menyebut jumlah tersebut kembali berkembang menjadi 3.340 KK yang tersebar di 12 kecamatan, 22 desa atau kelurahan, dan 32 dusun.

Edy Budi Susilo menjelaskan, perluasan wilayah terdampak terjadi karena musim kemarau berlangsung lebih panjang daripada perkiraan awal. Wilayah yang sebelumnya masuk kategori relatif aman dari kekeringan pun mulai mengalami dampak.

“Kalau dua hari lalu kita masih pada posisi 10 kecamatan, per sore kemarin sudah berkembang lagi menjadi 12 kecamatan, 22 desa atau kelurahan dan 32 dusun,” ujar Edy dalam wawancara yang disiarkan Kompas TV Jember, dikutip Sabtu, 24 Oktober 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan penanganan berkelanjutan melalui kerja sama lintas instansi. BPBD Kabupaten Jember terus mengupayakan distribusi air bersih untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar selama sumber air belum kembali normal.

BPBD Jember telah mendistribusikan sekitar 1,9 juta liter air bersih kepada warga terdampak. Untuk mendukung operasi tersebut, tersedia empat truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter yang berasal dari BPBD, PDAM, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, serta Palang Merah Indonesia (PMI).

Dukungan tambahan juga diperoleh dari BPBD Provinsi Jawa Timur dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Timur. Dengan dukungan tersebut, hampir enam truk tangki setiap hari dioperasikan untuk menyalurkan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak. BPBD juga telah menyalurkan lebih dari 100 tandon air untuk membantu penyimpanan air di lokasi yang membutuhkan.

Meski distribusi sejauh ini masih dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, Edy Budi Susilo mengingatkan adanya tantangan apabila kemarau terus berlanjut. Berdasarkan perkiraan cuaca, hujan diperkirakan baru mulai turun pada akhir November hingga awal Desember 2026. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap ketersediaan tandon dan kesiapan armada distribusi, terlebih sejumlah truk telah mengalami kerusakan akibat operasional yang berulang.

“Kalau ini terus berkembang sampai dengan awal Desember, kekhawatiran kami stok tandon kami juga habis. Kemudian truk-truk kami juga tentu saja sudah banyak kerusakan,” kata Edy.

Tantangan lainnya adalah kondisi geografis Jember yang memiliki wilayah perbukitan dan akses jalan yang sulit dilalui kendaraan berat. Edy Budi Susilo mencontohkan penyaluran air di Kecamatan Silo, termasuk wilayah Sumbermalang, yang membutuhkan upaya khusus agar air dapat menjangkau warga di daerah lebih tinggi. Dalam kondisi tersebut, BPBD berupaya melibatkan pemerintah desa dan masyarakat setempat untuk membantu memindahkan air dari titik distribusi yang dapat dijangkau truk tangki menuju permukiman di lereng.

Terkait pelaporan, BPBD Jember tetap membuka jalur pelaporan melalui pemerintah desa atau kelurahan, serta komunikasi langsung melalui pesan singkat dan WhatsApp kepada petugas maupun Pusdalops BPBD Kabupaten Jember. Laporan yang masuk akan ditindaklanjuti melalui asesmen untuk menentukan kebutuhan penanganan di lapangan.

Selain penanganan darurat, BPBD Jember juga mendorong langkah mitigasi jangka panjang bersama pemangku kepentingan terkait. Upaya tersebut mencakup pengembangan sarana penyediaan air melalui program Pamsimas, pembangunan sumur bor dan tandon permanen, serta pengelolaan sumber air. Pelestarian sumber mata air melalui reboisasi dan pemeliharaan infrastruktur air juga menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko kekeringan pada masa mendatang.

Kepala BPBD Kabupaten Jember mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau. Ia menegaskan bahwa distribusi bantuan terus diupayakan, sementara koordinasi lintas sektor diperlukan untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi.

Dengan potensi kekeringan yang masih berlangsung hingga awal Desember 2026, BPBD Jember bersama instansi terkait diharapkan dapat menjaga kesinambungan penyaluran air bersih sekaligus memperkuat solusi jangka panjang agar masyarakat lebih siap menghadapi kemarau berikutnya. (tgh)

Galeri Foto