logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Pendidikan

Lestarikan Budaya Pandhalungan, Ratusan Guru PAUD Jember Ikuti Pelatihan Tari Macan Raung di Aula Dinas Pendidikan

  • 29 Juni 2026
  • Dibaca 29 Kali
Bagikan Via:
lestarikan-budaya-pandhalungan-ratusan-guru-paud-jember-ikuti-pelatihan-tari-macan-raung-di-aula-dinas-pendidikan-20260629

Lestarikan Budaya Pandhalungan, Ratusan Guru PAUD Jember Ikuti Pelatihan Tari Macan Raung di Aula Dinas Pendidikan

JEMBER, 29 JUNI 2026 – Suara tabuhan kendang, gong, dan terompet khas musik Pandhalungan menggema di Aula Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Jember pada Senin, 29 Juni 2026 pagi. Suasana ruangan yang biasanya formal berubah total menjadi lautan Laskar Himpaudi yang penuh warna, riuh oleh tawa, dan getaran semangat sejak pukul 08.00 WIB.

Ratusan pendidik Anak Usia Dini yang tergabung dalam Laskar Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) dari 31 kecamatan di seluruh penjuru Jember berkumpul dengan satu misi. Mereka berkomitmen menghidupkan kembali roh budaya lokal melalui gerakan tari kolosal Macan Raung.

Acara ini bukan sekadar pementasan seni biasa, melainkan sebuah gerakan humanis yang menyentuh hati. Para guru PAUD yang sehari-hari bergelut dengan kesabaran mendidik generasi paling belia, kini menyatukan energi mereka. Dalam peluncuran dan pelatihan tersebut, gerakan khas Pandhalungan dikombinasikan dengan Tari Macan Raung yang lincah, ekspresif, serta sesekali mengeluarkan raungan teatrikal yang kompak.

Budaya Pandhalungan sendiri merupakan identitas unik Jember yang lahir dari asimilasi harmonis antara budaya Jawa dan Madura. Tari Macan Raung yang dibawakan pagi itu melambangkan kekuatan, keberanian, sekaligus perlindungan. Filosofi ini dinilai sangat lekat dengan peran seorang pendidik dalam menjaga masa depan anak-anak.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Arief Tjahyono, yang hadir langsung membuka acara, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya saat melihat antusiasme para guru. Apalagi, banyak di antara mereka yang datang dari pelosok desa terpencil di ujung Jember.

"Saya sangat tersentuh melihat dedikasi luar biasa dari para Laskar Himpaudi hari ini. Di tengah kesibukan mengajar, mereka masih meluangkan waktu dan tenaga untuk melestarikan Tari Macan Raung. Budaya Pandhalungan adalah akar jati diri kita," ujar Arief dalam sambutannya.

Arief menambahkan, jika bukan guru PAUD yang mengenalkannya sejak dini kepada anak-anak, warisan ini terancam punah. Menurutnya, aksi ini bukan sekadar tari, melainkan wujud cinta guru kepada kebudayaan dan masa depan anak didik mereka.

Lebih lanjut, Arief menekankan pentingnya pola asuh pada periode usia emas (golden age) anak usia 1–5 tahun. Pada fase ini, anak adalah peniru terbaik sehingga guru dan orang tua harus mengedepankan komunikasi serta perilaku yang baik sesuai dasar-dasar keagamaan.

"Jangan dipaksa fokus belajar (akademik konvensional). Akan lebih baik jika mereka bermain, contohnya aktivitas yang menstimulasi saraf motorik seperti menggambar dan mewarnai. Hal itu penting agar konsentrasi otak kanan dan kiri anak tumbuh seimbang," jelas Arief.

Kemeriahan acara ini merupakan buah dari konsolidasi matang yang digerakkan oleh Himpaudi Kabupaten Jember. Menyatukan perwakilan dari 31 kecamatan dengan latar belakang geografis yang kontrasβ€”mulai dari kawasan pesisir Puger hingga daerah pegunungan Argopuroβ€”bukanlah perkara mudah. Namun, ikatan batin yang kuat sebagai sesama pejuang anak usia dini membuat segalanya menjadi mungkin.

Ketua Himpaudi Kabupaten Jember, Dra. Sri Windaryati, menjelaskan bahwa persiapan acara ini dilakukan di sela-sela waktu mengajar. Pihaknya memanfaatkan teknologi digital koordinasi dan pertemuan berkala di tingkat kecamatan untuk mematangkan latihan.

"Laskar Himpaudi dari 31 kecamatan ini membawa semangat kebersamaan dan kegembiraan. Kami memilih Tari Macan Raung karena ingin anak-anak Jember bangga dengan budaya Pandhalungan mereka sendiri. Melalui tarian ini, para guru juga belajar filosofi ketangguhan," ungkap Sri Windaryati saat ditemui di sela-sela acara.

Melalui pelatihan ini, para guru diharapkan dapat mentransfer energi positif dan rasa cinta tanah kelahiran ke dalam ruang kelas. Gerakan tarian kolosal ini menjadi bukti nyata bahwa guru PAUD Jember kompak, kreatif, dan menolak lupa pada sejarah serta budaya lokal.

Suasana humanis semakin kental saat seluruh peserta melebur dalam satu formasi tari yang harmonis tanpa sekat antara wilayah kota maupun pinggiran. Beberapa guru senior yang sudah mengabdi belasan tahun tampak menari dengan penuh semangat, bersanding dengan guru-guru muda yang bergerak dinamis.

Acara yang berlangsung hingga siang hari ini ditutup dengan sesi foto bersama. Riuh rendah Aula Dispendik Jember hari itu menjadi saksi bahwa di tangan para pendidik yang peduli, kearifan lokal akan terus mengaung dan menginspirasi generasi penerus bangsa. (jea)

Galeri Foto