logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Kaliwates

Memadamkan Lapar di Ujung Gang Kaliwates, Misi LAZ Nurul Hidayah Pastikan Dapur Warga Tetap Mengepul

  • 20 Maret 2026
  • Dibaca 148 Kali
Bagikan Via:
memadamkan-lapar-di-ujung-gang-kaliwates-misi-laz-nurul-hidayah-pastikan-dapur-warga-tetap-mengepul-20260322

Memadamkan Lapar di Ujung Gang Kaliwates, Misi LAZ Nurul Hidayah Pastikan Dapur Warga Tetap Mengepul

JEMBER, 19 MARET 2026 – Malam baru saja jatuh di Kelurahan Kaliwates, Kamis malam, 19 Maret 2026. Ketika kepak aktivitas kota mulai mereda dan dingin perlahan menyusup ke sela-sela dinding bambu, sebuah pergerakan senyap dimulai. Tanpa raungan sirine atau sorot lampu yang pongah, para relawan Lembaga Amil Zakat (LAZ) Nurul Hidayah membelah pekatnya gang sempit, menjinjing amanah yang harus tiba sebelum fajar.

Di sebuah pelataran rumah yang bersahaja, seorang perempuan renta berdiri mematung. Guratan lelah yang terpahat dalam di wajahnya seketika luruh saat sebuah paket hantaran berpindah tangan. Ada bening yang menggantung di sudut matanya. Sebuah binar syukur yang lebih bicara daripada kata-kata.

Misi malam itu bukan sekadar soal distribusi logistik. Bagi LAZ Nurul Hidayah, ini adalah upaya memuliakan manusia. Strategi penyaluran di jam-jam "hening" dipilih dengan saksama: menjaga agar para penerima manfaat tak perlu menjadi tontonan publik dalam antrean panjang yang melelahkan.

"Zakat bukan hanya soal memindahkan harta, tapi soal memindahkan ketenangan," ujar H. Indra Gunawan, koordinator LAZ Nurul Hidayah, sembari menatap deretan rumah padat penduduk.

Target mereka jelas: para janda tua yang tak lagi kuat berjalan jauh, buruh serabutan yang upahnya habis sebelum hari berakhir, hingga keluarga prasejahtera yang sering kali luput dari radar bantuan formal. Bagi mereka, bantuan ini adalah napas tambahan di tengah sesaknya fluktuasi harga bahan pokok menjelang hari raya.

Langkah "jemput bola" ini memancing simpati dari otoritas setempat. Camat Kaliwates, Dwi Sunu Arinugroho, S.Sos., memandang gerakan ini sebagai oase di tengah tantangan kerawanan pangan. Menurutnya, lembaga filantropi seperti Nurul Hidayah mengisi celah-celah yang terkadang tak terjangkau oleh birokrasi pemerintah.

"Ini bukan sekadar bantuan sosial, tapi bentuk kepedulian yang sangat manusiawi karena dilakukan dengan santun dan menyentuh akar rumput," ungkap Dwi Sunu. Ia mengakui bahwa validasi data di lapangan sering kali terbantu oleh pergerakan lembaga yang terjun langsung ke dapur-dapur warga.

Di sudut lain kelurahan, seorang ibu paruh baya tak mampu membendung isak harunya. Di tangannya, paket sembako itu terasa berat, namun hatinya mendadak ringan.

"Saya sempat bingung mau masak apa untuk besok. Terima kasih sudah ingat kami yang di pojokan gang ini," tuturnya lirih, nyaris berbisik.

Bagi warga seperti dia, kehadiran relawan malam itu adalah jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan di atas sajadah. Program bertajuk "Dapur Tetap Mengepul" ini memang tak ingin berhenti pada sekantong beras. Ke depan, pemberdayaan ekonomi jangka panjang telah dirancang untuk memutus rantai ketergantungan.

Namun untuk malam itu, tugas kemanusiaan mereka telah tunai. Di bawah temaram lampu jalan yang mulai redup, para relawan pulang dengan perasaan lega. Mereka telah memastikan satu hal: malam ini, di ujung gang-gang sempit Kaliwates, api harapan di dapur masyarakat akan tetap menyala terang di bawah naungan berkah zakat.

Galeri Foto