Menghalau Cemas di Ruang Kelas, Pendekatan Hati untuk Siswa SMPN 14 Jember Hadapi TKA
- 02 April 2026
- Dibaca 291 Kali
Bagikan Via:
Menghalau Cemas di Ruang Kelas, Pendekatan Hati untuk Siswa SMPN 14 Jember Hadapi TKA
JEMBER, 02 APRIL 2026 - Kamis pagi, 02 April 2026 di SMP Negeri 14 Antirogo, suasana kelas tidak seperti biasanya. Hanya 14 kursi yang terisi. Para siswa duduk dengan tenang, mata mereka sesekali bergerak mengikuti gerak tangan pembicara. Tak ada keriuhan bel sekolah atau suara anak-anak bermain di luar. Di ruangan itu, perhatian tertuju pada tiga sosok dewasa, Kepala Sekolah Dra. Maisaro, M.Si., Guru Bimbingan Konseling Dian Susiloningtyas, S.Pd., serta Babinsa Antirogo Serma Muh Hasan dari Koramil 0824-11 Sumbersari-Jember.
Mereka hadir bukan untuk pelajaran rutin, melainkan untuk berbagi pemahaman tentang Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Asesmen Nasional (AN). Bagi sebagian besar siswa di sekolah ini, kedua istilah tersebut mungkin masih terasa asing atau menakutkan. Apalagi bagi 14 siswa yang mendapat perhatian khusus. Mereka yang membutuhkan pendekatan lebih lembut agar tidak ketinggalan dalam arus pendidikan.
Dra. Maisaro membuka sesi dengan suara tenang namun tegas. “TKA dan AN bukanlah momok yang harus ditakuti. Ini adalah alat untuk mengukur seberapa jauh kita telah belajar, sekaligus menjadi cermin bagi sekolah agar terus meningkatkan kualitas pengajaran,” katanya. Ia menekankan tiga kata kunci, antara lain, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesungguhan. Bukan sekadar diucapkan, tapi ditunjukkan melalui contoh-contoh sederhana sehari-hari, seperti menyelesaikan tugas tepat waktu dan tidak menyerah saat menghadapi soal sulit.
Guru BK Dian Susiloningtyas menambahkan sentuhan yang lebih dekat ke hati siswa. Dengan nada penuh empati, ia menjelaskan bahwa TKA bersifat sukarela dan dirancang untuk memberikan gambaran objektif tentang capaian akademik individu. Sementara Asesmen Nasional lebih fokus memetakan mutu pendidikan di tingkat sekolah. “Kalian tidak sendirian. Kami di sini untuk mempersiapkan kalian agar lebih siap, lebih percaya diri,” ujarnya sambil tersenyum, berusaha menghilangkan rasa cemas yang sering muncul di wajah-wajah muda itu.
Tak hanya dari sisi akademik, pembinaan karakter juga menjadi bagian penting. Serma Muh Hasan, dengan seragam lorengnya yang rapi, berbicara tentang disiplin dan semangat juang ala prajurit. “Belajar itu seperti latihan militer. Butuh ketekunan dan mental kuat. Kalau sikap sudah baik, prestasi akan mengikuti,” katanya. Ia bercerita singkat tentang pengalaman pribadinya membangun karakter sejak kecil, membuat para siswa sesekali mengangguk-angguk paham.
Suasana ruangan terasa hangat meski topiknya serius. Para siswa mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali ada yang mengajukan pertanyaan sederhana, seperti “Kalau saya takut salah, boleh tidak ikut TKA?” Dijawab dengan sabar oleh para pembicara. Kegiatan berlangsung tertib, tanpa paksaan, sesuai semangat TKA yang memang bersifat sukarela dan bertujuan memberikan kesempatan setara bagi setiap murid.
Bagi SMP Negeri 14 Antirogo, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas. Ini adalah upaya nyata agar siswa yang memerlukan perhatian khusus tidak tertinggal. Di era di mana evaluasi nasional menjadi salah satu ukuran kemajuan pendidikan, mempersiapkan mereka dengan pemahaman yang benar dan motivasi yang kuat menjadi kunci. Harapannya, setelah sosialisasi ini, 14 siswa tersebut akan melangkah ke depan dengan lebih mantap, bukan hanya untuk menghadapi tes, tapi untuk membangun masa depan yang lebih cerah.
Keterlibatan Babinsa dalam kegiatan pendidikan seperti ini juga mencerminkan sinergi antara sekolah, guru, dan unsur TNI di wilayah Antirogo, Kabupaten Jember. Bersama-sama, mereka berupaya menanamkan nilai-nilai karakter sekaligus mendukung peningkatan mutu akademik. Sebuah langkah kecil di sebuah kelas kecil, namun dampaknya diharapkan besar bagi generasi muda yang sedang tumbuh. (dan)