logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan

Mengintip Gurihnya Bisnis Bibit Anggrek Botolan: Dari Limbah Rongsokan Menuju Pasar Nasional

  • 17 Maret 2026
  • Dibaca 160 Kali
Bagikan Via:
mengintip-gurihnya-bisnis-bibit-anggrek-botolan-dari-limbah-rongsokan-menuju-pasar-nasional-20260318

Mengintip Gurihnya Bisnis Bibit Anggrek Botolan: Dari Limbah Rongsokan Menuju Pasar Nasional

JEMBER, 17 MARET 2026 - Pernahkah Anda membayangkan bahwa sebuah botol bekas saus bisa menjadi wadah bagi bisnis yang menjanjikan? Di tangan Chandra, seorang laboran di Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP), botol-botol yang semula dianggap sampah kini menjadi "rumah" bagi ribuan bibit anggrek bernilai ekonomi tinggi. Fenomena ini terpantau langsung dalam sesi wawancara di Laboratorium DTPHP pada Selasa, 17 Maret 2036 pukul 14.00 WIB.

Chandra mengungkapkan, permintaan pasar terhadap bibit anggrek botolan miliknya sangat stabil. Salah satu pelanggan setianya adalah komunitas Pecinta Anggrek Indonesia (PAI). Pola bisnisnya pun unik; pelanggan bisa menyerahkan biji anggrek untuk disemai.

"Dia (Mas Habibi) kan ngasih biji, bijinya itu ditebarkan di sini. Nah nanti dia hasil tebarannya kita dibeli dia satu botol. Dia nyerahkan biji, dia pesen sebanyak berapapun yang ada di sini yang punya dia, buahnya dia, mau dibeli gitu," jelas Chandra mengenai kerja sama tersebut.

Secara ekonomi, harga per botol bibit anggrek ini sangat kompetitif, berkisar antara Rp40.000 hingga Rp50.000. Untuk menekan biaya, Chandra memanfaatkan botol saus bekas. "Botolnya ada, per botolnya botol ini. Saya belinya di rongsokan. Kan murah, cuci bersih baru kita pakai," ungkapnya.

Efisiensi ini memungkinkan margin keuntungan yang lebih sehat bagi laboratorium tanpa mengorbankan kualitas. Namun, bisnis ini menuntut kesabaran ekstra karena proses dari biji hingga siap keluar botol memakan waktu sembilan bulan hingga satu tahun.

"Kalau dari biji sampai itu mungkin sembilan bulan baru bisa keluar dari botol. Tergantung dari medianya sama bibit tanamannya, ada kadang-kadang yang lambat gitu satu tahun baru bisa keluar," tambahnya.

Meskipun memakan waktu lama, kepastian pasar dari SMK-SMK yang memesan untuk keperluan ujian praktik membuat usaha ini terus berdenyut. "Dijual kita biasanya ada yang SMK-SMK itu kan pesen botolan untuk ujian untuk praktek ngambil ke sini," tutup Chandra.

Ini adalah bukti nyata bahwa sektor hortikultura di Jember mampu menjadi pilar ekonomi kreatif yang solid dengan memanfaatkan peluang kolaborasi dan efisiensi bahan baku. (fan)

Galeri Foto