logo ppid jember kim
Oleh : Badan Kesatuan Bangsa dan Politik

Momentum Nuzulul Qur’an, Gus Fawait Tegaskan Kepedulian untuk Ojol dan Guru Ngaji

  • 08 Maret 2026
  • Dibaca 317 Kali
Bagikan Via:
momentum-nuzulul-quran-gus-fawait-tegaskan-kepedulian-untuk-ojol-dan-guru-ngaji-20260308

Momentum Nuzulul Qur’an, Gus Fawait Tegaskan Kepedulian untuk Ojol dan Guru Ngaji

JEMBER — Suasana Pendopo Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, Sabtu malam (7/3/2026) terasa berbeda. Di bawah cahaya lampu yang temaram dan nuansa religius yang kental, ratusan undangan dari berbagai latar belakang berkumpul dalam peringatan Nuzulul Qur’an yang digelar Pemerintah Kabupaten Jember.
Tak hanya tokoh agama dan pejabat daerah, acara ini juga menghadirkan para pengemudi ojek online hingga guru ngaji lintas agama. Kehadiran mereka menjadi simbol kuat bahwa peringatan turunnya Al-Qur’an bukan sekadar seremoni spiritual, tetapi juga momentum memperkuat persaudaraan sosial dan kepedulian terhadap masyarakat.

Bupati Jember, Muhammad Fawait yang akrab disapa Gus Fawait, hadir langsung bersama jajaran Forkopimda serta para kepala organisasi perangkat daerah (OPD). Dalam sambutannya, Gus Fawait menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an harus menjadi inspirasi dalam membangun pemerintahan yang berpihak kepada rakyat.
“Peringatan Nuzulul Qur’an bukan hanya mengingat sejarah turunnya wahyu, tetapi juga mengingatkan kita untuk menghadirkan keadilan, kepedulian, dan kesejahteraan di tengah masyarakat,” ujar Gus Fawait di hadapan para tamu undangan.Pada momentum tersebut, Pemerintah Kabupaten Jember juga menghadirkan sejumlah program nyata yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah pemberian perlindungan kerja melalui jaminan BPJS Ketenagakerjaan bagi para pengemudi ojek online.
Langkah ini disambut hangat oleh para pengemudi ojol yang selama ini bekerja di jalanan dengan berbagai risiko. Dengan jaminan tersebut, para pengemudi kini memiliki perlindungan jika mengalami kecelakaan kerja maupun risiko lainnya.
“Ini bentuk perhatian pemerintah kepada para pekerja sektor informal yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga,” kata Gus Fawait.
Selain itu, perhatian juga diberikan kepada para guru ngaji lintas agama yang selama ini berperan penting dalam membangun karakter dan spiritualitas masyarakat. Pada kesempatan tersebut, para guru ngaji menerima insentif secara simbolis dengan mekanisme yang lebih manusiawi dan terhormat, tanpa harus antre seperti yang sering terjadi sebelumnya.
Bagi pemerintah daerah, peran guru ngaji tidak sekadar mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai moral dan kebangsaan kepada generasi muda.
“Kita ingin para guru ngaji dihormati dan dimuliakan. Mereka adalah penjaga nilai-nilai moral masyarakat,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gus Fawait juga menegaskan capaian Universal Health Coverage (UHC) di Kabupaten Jember. Dengan capaian tersebut, masyarakat kini memiliki jaminan layanan kesehatan yang lebih luas dan mudah diakses.
Menurutnya, kesehatan merupakan hak dasar yang harus dijamin oleh pemerintah daerah. Karena itu, Pemkab Jember terus berupaya memastikan seluruh warga mendapatkan akses pelayanan kesehatan tanpa hambatan.

Tak hanya menyampaikan program sosial, Gus Fawait juga memaparkan sejumlah rencana pembangunan strategis yang sedang dipersiapkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.

Beberapa proyek besar yang menjadi perhatian antara lain pembangunan flyover Mangli untuk mengurai kemacetan, pelebaran jalan Tanggul–Mangli guna memperlancar mobilitas barang dan jasa, revitalisasi Pasar Tanjung sebagai pusat ekonomi rakyat, hingga optimalisasi Bandara Jember agar mampu membuka konektivitas yang lebih luas.

“Pembangunan ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jember,” ujarnya.

Di bidang pelayanan publik, Pemkab Jember juga melakukan terobosan dalam layanan administrasi kependudukan. Warga yang berasal dari luar kota kini dapat mengurus dokumen kependudukan melalui kecamatan, sementara warga dalam kota tetap dilayani oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
Kebijakan ini diambil untuk menghindari penumpukan layanan serta mempercepat proses administrasi masyarakat.

Malam peringatan Nuzulul Qur’an itu pun ditutup dengan doa bersama. Di tengah suasana khidmat, pesan yang tersirat dari acara tersebut begitu jelas: pembangunan daerah tidak hanya soal infrastruktur dan angka statistik, tetapi juga tentang merawat nilai spiritual, memperkuat solidaritas sosial, serta memastikan setiap warga merasakan kehadiran negara.

Di Pendopo Wahyawibawagraha malam itu, pemerintah dan masyarakat seakan dipertemukan dalam satu pesan sederhana namun mendalam — bahwa kesejahteraan dan kemajuan daerah hanya bisa terwujud jika dibangun dengan kepedulian, kebersamaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.(But)

Galeri Foto