Pelestarian Budaya Turun-temurun, Omah Seni Sari Budoyo Pangestu Jadi Ikon Kesenian Desa Andongrejo
- 04 April 2026
- Dibaca 244 Kali
Bagikan Via:
Pelestarian Budaya Turun-temurun, Omah Seni Sari Budoyo Pangestu Jadi Ikon Kesenian Desa Andongrejo
JEMBER, 04 April 2026 – Upaya pelestarian seni dan budaya tradisional terus dijaga dengan penuh komitmen oleh masyarakat Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo. Salah satu wujud nyata dari dedikasi tersebut adalah keberadaan Omah Seni Sari Budoyo Pangestu, sebuah sanggar seni yang telah berdiri sejak tahun 1916 dan hingga kini tetap eksis sebagai pusat kegiatan kesenian tradisional di wilayah tersebut.
Dengan usia lebih dari satu abad, Omah Seni Sari Budoyo Pangestu menyimpan berbagai peninggalan seni bernilai tinggi, seperti koleksi topeng tradisional, seperangkat alat musik gamelan, serta kendang yang diperkirakan telah berusia sekitar 100 tahun. Keberadaan benda-benda tersebut tidak hanya menjadi saksi sejarah perjalanan seni budaya, tetapi juga menjadi media pembelajaran bagi generasi muda dalam memahami warisan leluhur.
Sanggar seni ini dikenal sebagai salah satu pelaku utama dalam pelestarian kesenian Tari Jaranan, yang telah menjadi identitas budaya masyarakat setempat. Omah Seni Sari Budoyo Pangestu juga tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Andongrejo, sehingga memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Kegiatan seni yang dilakukan di sanggar ini tidak hanya berfokus pada pertunjukan, namun juga pada proses regenerasi yang berkelanjutan. Nilai-nilai budaya dan keterampilan seni diturunkan secara langsung dari generasi ke generasi, menjadikan kesenian ini tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi.
Menariknya, keterlibatan generasi muda dalam kesenian ini terlihat sangat kuat. Bahkan, terdapat penari cilik Tari Jaranan yang masih berusia 7 tahun dan saat ini masih duduk di bangku sekolah dasar. Hal ini menjadi bukti bahwa minat terhadap seni tradisional masih tumbuh di kalangan anak-anak, sekaligus menunjukkan keberhasilan proses pembinaan yang dilakukan oleh sanggar.
Para penari cilik tersebut dilatih secara rutin untuk memahami gerakan, irama, serta makna filosofis dari Tari Jaranan. Tidak hanya sebagai hiburan, kesenian ini juga mengandung nilai-nilai kearifan lokal, seperti keberanian, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Andongrejo, Teguh Adi dalam keterangannya menyampaikan bahwa keberadaan Omah Seni Sari Budoyo Pangestu menjadi aset penting dalam menjaga identitas budaya desa sekaligus mendukung sektor pariwisata.
“Kami berkomitmen untuk terus melestarikan kesenian tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun ini. Melalui sanggar ini, generasi muda kami libatkan secara aktif agar mereka tidak hanya mengenal, tetapi juga mencintai budaya sendiri. Harapan kami, kesenian Jaranan ini dapat terus berkembang dan menjadi daya tarik wisata yang membanggakan bagi Desa Andongrejo,” ujar Teguh.
Keberadaan Omah Seni Sari Budoyo Pangestu diharapkan dapat terus menjadi benteng pelestarian budaya, sekaligus daya tarik wisata unggulan di Desa Andongrejo. Sinergi antara pelaku seni, masyarakat, dan pemerintah melalui wadah Pokdarwis menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan kesenian tradisional di tengah perkembangan zaman.
Dengan komitmen yang kuat dalam melestarikan warisan budaya, Omah Seni Sari Budoyo Pangestu tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga simbol ketahanan budaya lokal yang terus hidup dan diwariskan lintas generasi. (ram)