logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Sumbersari

Ngabuburit Sambil Bahas Pajak, Cara Kreatif Tegalgede Bangun Kesadaran Warga Bayar PBB-P2

  • 12 Maret 2026
  • Dibaca 265 Kali
Bagikan Via:
ngabuburit-sambil-bahas-pajak-cara-kreatif-tegalgede-bangun-kesadaran-warga-bayar-pbb-p2-20260312

Ngabuburit Sambil Bahas Pajak, Cara Kreatif Tegalgede Bangun Kesadaran Warga Bayar PBB-P2

JEMBER, 12 MARET 2026 - Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, memiliki cara menarik dalam mengemas agenda serius peningkatan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2). Alih-alih menggelar rapat formal, sosialisasi justru dikemas dengan suasana santai melalui kegiatan ngabuburit bersama para ketua RT dan RW menjelang waktu berbuka puasa, Rabu 11 Maret 2026.

Sekilas, kegiatan tersebut tampak sederhana. Para ketua RT dan RW berkumpul di penghujung sore, berdiskusi mengenai pajak, lalu menutup pertemuan dengan buka puasa bersama. Namun, di balik suasana santai itu tersimpan strategi birokrasi yang cukup cerdas sekaligus realistis.

Pemerintah kelurahan memahami bahwa upaya meningkatkan kepatuhan pajak tidak cukup hanya mengandalkan regulasi. Kesadaran masyarakat harus dibangun melalui pendekatan sosial yang lebih dekat dan komunikatif. Dalam konteks ini, RT dan RW menjadi simpul komunikasi paling efektif di tengah masyarakat.

Di tingkat lingkungan, RT dan RW bukan sekadar perangkat administratif. Mereka merupakan tokoh yang dipercaya warga dan memiliki kedekatan sosial yang kuat. Ketika sosialisasi pajak disampaikan melalui mereka, pesan pemerintah tidak lagi terasa sebagai instruksi dari atas, melainkan percakapan yang datang dari tetangga sendiri.

Strategi inilah yang coba dibangun oleh Kelurahan Tegalgede. Sosialisasi PBB-P2 tidak hanya diposisikan sebagai penyampaian target pendapatan daerah, tetapi juga sebagai upaya membangun kesadaran kolektif warga. Pajak dipahami bukan sebagai kewajiban yang menekan, melainkan kontribusi nyata masyarakat untuk pembangunan daerahnya sendiri.

Camat Sumbersari, Deni Hadiatullah, S.IP., M.M., menegaskan bahwa pajak yang dibayarkan masyarakat pada akhirnya akan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan dan peningkatan pelayanan publik.

“Pajak yang dibayarkan masyarakat akan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan dan pelayanan publik. Karena itu, partisipasi aktif semua pihak sangat diperlukan, termasuk RT dan RW,” ujarnya.

Narasi tersebut dinilai penting karena selama ini persoalan pajak kerap terjebak dalam stigma negatif. Warga diminta membayar pajak, tetapi tidak selalu merasakan secara langsung dampak dari kontribusi tersebut. Melalui pendekatan yang lebih komunikatif, pemerintah kelurahan berharap warga dapat memahami hubungan antara pajak dan pembangunan.

Meski demikian, pendekatan ini juga memiliki tantangan tersendiri. Menjadikan RT dan RW sebagai ujung tombak sosialisasi sekaligus penggerak pembayaran pajak berarti menambah tanggung jawab sosial mereka. Di satu sisi mereka merupakan pemimpin lingkungan, tetapi di sisi lain harus berhadapan dengan warga yang terkadang masih enggan membayar pajak.

Jika tidak dikelola dengan baik, posisi tersebut dapat menempatkan RT dan RW dalam dilema, antara menjaga hubungan sosial dengan warga atau mengejar target administrasi yang ditetapkan pemerintah.

Karena itu, pemerintah daerah menekankan pentingnya pendekatan persuasif dalam menyampaikan pesan pajak kepada masyarakat. Sosialisasi tidak boleh dilakukan dengan cara yang menekan, melainkan dengan menumbuhkan kesadaran bahwa pajak merupakan investasi sosial bagi lingkungan mereka sendiri.

Lurah Tegalgede, Shierley Aisyah, S.T., M.M., mengatakan bahwa peran RT dan RW sangat strategis dalam membantu pemerintah memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait kewajiban membayar pajak.

“Peran RT dan RW sangat strategis dalam membantu pemerintah memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait kewajiban membayar pajak. Dengan sinergi yang baik, diharapkan penerimaan PBB-P2 di Kelurahan Tegalgede dapat meningkat,” ujarnya.

Menurutnya, jika komunikasi antara pemerintah kelurahan, RT, RW, dan masyarakat berjalan baik, maka upaya meningkatkan kepatuhan pajak tidak akan terasa sebagai beban, melainkan sebagai bentuk partisipasi bersama dalam pembangunan daerah.

Kegiatan ngabuburit sambil membahas pajak ini akhirnya menjadi simbol kecil dari wajah baru birokrasi lokal. Lebih santai, lebih dekat dengan masyarakat, tetapi tetap membawa agenda yang serius.

Di balik obrolan ringan menjelang senja Ramadan tersebut, tersimpan target besar yang sedang dikejar pemerintah daerah: membangun kesadaran bahwa pembangunan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga hasil gotong royong masyarakat melalui pajak yang mereka bayarkan. (sar)

Galeri Foto