Perkuat Pesantren Sehat, Dinkes PPKB Jember Siapkan Cluster Wilayah Binaan
- 01 Oktober 2026
- Dibaca 15 Kali
Bagikan Via:
Perkuat Pesantren Sehat, Dinkes PPKB Jember Siapkan Cluster Wilayah Binaan
JEMBER, 01 OKTOBER 2026 – Dinas Kesehatan PPKB Kabupaten Jember menyiapkan pola pembinaan berbasis wilayah untuk memperkuat keberlanjutan program Pesantren Sehat. Melalui pembagian cluster atau wilayah binaan, setiap pesantren nantinya akan mendapatkan pendampingan dari tim yang ditetapkan sehingga berbagai persoalan dapat dibahas dan ditindaklanjuti secara lebih terarah.
Rencana tersebut dibahas dalam Pertemuan Koordinasi Tim Pembina Pesantren Sehat Kabupaten Jember yang digelar Rabu, 30 September 2026, di Aula Bawah Pemkab Jember. Kegiatan diselenggarakan Dinkes PPKB melalui Bidang Kesehatan Masyarakat dengan melibatkan organisasi perangkat daerah, akademisi, organisasi masyarakat, CSR, BPOM, Baznas, TP PKK, rumah sakit, Kementerian Agama, serta lintas program terkait.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes PPKB Jember, dr. Gini Wuryandari, M.Kes., mengatakan pembagian wilayah binaan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat koordinasi Tim Pembina Pesantren Sehat di tingkat kabupaten.
“Ke depannya, Dinas Kesehatan akan membagi wilayah binaan atau cluster pondok pesantren yang akan menjadi binaan masing-masing tim agar setiap permasalahan yang ada di masing-masing wilayah binaan dapat disampaikan dan dibahas, sehingga tindak lanjutnya dapat dilakukan dengan lebih terarah,” ujarnya.
Melalui pembagian cluster, persoalan yang muncul di pesantren dapat diidentifikasi sesuai karakteristik wilayah dan kebutuhan masing-masing. Tim yang menjadi pembina dapat berkoordinasi dengan pesantren serta puskesmas setempat untuk mengetahui kondisi secara langsung dan menentukan langkah tindak lanjut.
Pola tersebut juga membuka peluang penanganan masalah secara lintas sektor. Tidak semua persoalan di pesantren dapat diselesaikan melalui sektor kesehatan. Karena itu, setiap permasalahan nantinya dapat dikoordinasikan dengan OPD maupun pihak lain yang memiliki kompetensi dan kewenangan.
Misalnya, persoalan pengelolaan sampah dapat dibahas bersama pihak pesantren dan OPD terkait seperti DPRKPLH. Sementara persoalan pendidikan dan pemberdayaan dapat dikomunikasikan dengan kalangan akademisi. Dengan mekanisme tersebut, pembinaan diharapkan tidak hanya berfokus pada aspek pelayanan kesehatan, tetapi juga menyentuh faktor lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan.
Langkah ini sekaligus memperkuat peran Tim Pembina Pesantren Sehat sebagai penghubung antara pesantren dengan berbagai pihak yang dapat memberikan dukungan. Setiap cluster diharapkan mampu menjadi ruang koordinasi untuk menyampaikan persoalan, mencari solusi, serta memantau tindak lanjutnya.
Ke depan, pola pembinaan berbasis cluster diharapkan membuat program Pesantren Sehat di Kabupaten Jember semakin terarah dan berkelanjutan. Dengan dukungan puskesmas, OPD, akademisi, serta berbagai unsur terkait, pesantren diharapkan semakin mampu menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan santri dan seluruh warga pesantren. (fam)