logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan

Petani Cabai Ambulu Gerakkan Ekonomi, tetapi Masih Terjepit Harga

  • 02 September 2026
  • Dibaca 7 Kali
Bagikan Via:
petani-cabai-ambulu-gerakkan-ekonomi-tetapi-masih-terjepit-harga-20260902

Petani Cabai Ambulu Gerakkan Ekonomi, tetapi Masih Terjepit Harga

JEMBER, 2 SEPTEMBER 2026 — Di balik hamparan cabai di Ambulu, ada roda ekonomi yang ikut berputar. Panen berarti pekerjaan bagi warga, pemasukan bagi pedagang, sekaligus perputaran pembiayaan bagi petani. Namun, besarnya aktivitas ekonomi itu belum selalu membuat petani berada di posisi yang aman.

Gambaran tersebut disampaikan Ketua Kelompok Tani Harapan Maju, M. Suyatno Diantoro, saat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengunjungi petani cabai di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Selasa, 1 September 2026.

Menurut Suyatno, aktivitas pertanian cabai mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Saat panen, petani bahkan harus mencari pekerja hingga ke luar dusun dan desa. Ibu rumah tangga turut terlibat untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di lahan.

“Enggak ada pengangguran di sini, kurang tenaga kerja, Pak. Gitu loh. Kalau dampaknya pedagangnya cabai ini sampean dulu, dengan harga gini, ya otomatis mereka juga enggak mampu,” ujarnya.

Perputaran ekonomi juga terlihat dari tingginya kebutuhan pembiayaan petani. Suyatno menyebut penyerapan KUR di wilayahnya sangat tinggi. Namun, ketika harga cabai jatuh, kemampuan petani membayar pinjaman ikut tertekan. Ia bahkan menyebut ada anggota kelompok tani yang harus menjual sawah karena kesulitan melunasi pinjaman setelah mengalami kerugian.

Kondisi tersebut menunjukkan persoalan cabai tidak hanya berhenti di lahan. Rantai pemasaran dan kemampuan menyerap hasil panen menjadi bagian penting yang menentukan apakah produksi yang besar benar-benar menghasilkan pendapatan layak.

Dari sisi perdagangan, pemerintah daerah melihat peluang untuk memperpendek jalur pemasaran. Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan Kabupaten Jember, Lilik Makhfiyah, S.Pd., M.Pd., menyebut petani dapat diarahkan memasok langsung kebutuhan pasar melalui kerja sama yang lebih terstruktur.

“Kalau semua pasar itu menampung hasil dari petani kita, otomatis kita tidak perlu menjual keluar. Di tempat kita saja sudah kita surplus,” ujarnya.

Sementara itu, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Jember turut mendampingi BRIN untuk menyerap persoalan tersebut. Kepala Bidang Hortikultura Agung Satrio Setiawan, S.P., M.P., menilai kemampuan produksi petani sudah kuat, sehingga perhatian berikutnya perlu diarahkan pada pemasaran dan kesejahteraan petani.

“Jadi petani nggak hanya sukses nanam dan juga panen, tetapi duitnya ya juga sukses,” kata Agung.

Masukan tersebut menjadi bagian dari diskusi BRIN dalam penyusunan naskah kebijakan strategi pemenuhan kebutuhan cabai melalui substitusi impor. Penguatan pengolahan pascapanen, pembentukan asosiasi petani, serta kemitraan dengan pasar dan industri menjadi sejumlah gagasan yang muncul.

Sebab, petani cabai Ambulu telah menunjukkan satu hal: mereka mampu bertahan, terus menanam, dan menggerakkan ekonomi. Tantangannya kini adalah memastikan kerja keras tersebut tidak berhenti sebagai angka produksi, tetapi berubah menjadi kesejahteraan yang benar-benar dirasakan petani. (fan)

Galeri Foto