PM-AAS Diyakini Dongkrak Produktivitas Padi, Petani Mumbulsari Mulai Terapkan Sistem Pertanian Modern
- 21 Juli 2026
- Dibaca 81 Kali
Bagikan Via:
PM-AAS Diyakini Dongkrak Produktivitas Padi, Petani Mumbulsari Mulai Terapkan Sistem Pertanian Modern
JEMBER, 21 JULI 2026 - Upaya mempercepat terwujudnya swasembada pangan nasional terus diperkuat melalui penerapan Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS). Salah satu implementasinya dilakukan bersama Kelompok Tani Moh Seruji di Desa Karang Kedawung, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, dengan melibatkan berbagai unsur lintas sektor, Senin, 20 Juli 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh petani Kelompok Tani Moh Seruji, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Jember, Bulog, Badan Pusat Statistik (BPS), Koramil, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Tim Kerja (Timker), serta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Kolaborasi ini menjadi bagian dari percepatan adopsi teknologi pertanian modern guna meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.
PM-AAS merupakan konsep budidaya padi berbasis pertanian presisi yang mengintegrasikan mekanisasi, digitalisasi, pengaturan jarak tanam yang optimal, hingga sistem irigasi hemat air. Melalui pendekatan tersebut, produktivitas padi ditargetkan mampu mencapai sedikitnya 10 ton per hektare, bahkan pada kondisi optimal dapat menyentuh angka 12,4 ton per hektare.
Angka tersebut jauh melampaui rata-rata produktivitas nasional yang masih berada di kisaran 5 hingga 6 ton per hektare. Peningkatan hasil panen diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung target swasembada beras secara berkelanjutan.
Selain mengejar peningkatan produksi, PM-AAS juga dirancang untuk mempercepat siklus tanam dan panen sehingga indeks pertanaman dapat meningkat. Dengan masa tanam yang lebih efisien, petani memiliki peluang melakukan penanaman lebih banyak dalam satu tahun, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan produksi gabah.
Keunggulan lainnya terletak pada penerapan sistem irigasi Alternate Wetting and Drying (AWD) yang mampu menghemat penggunaan air tanpa mengurangi produktivitas tanaman. Teknologi ini dinilai semakin relevan di tengah tantangan perubahan iklim dan ancaman kekeringan yang kerap memengaruhi sektor pertanian.
Dari sisi usaha tani, penerapan PM-AAS juga memberikan keuntungan berupa efisiensi biaya produksi. Penggunaan alat dan mesin pertanian modern mampu mengurangi kebutuhan tenaga kerja, sementara teknologi presisi membantu menghemat penggunaan benih, pupuk, maupun air. Efisiensi tersebut diharapkan meningkatkan keuntungan yang diterima petani.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Kabupaten Jember, Luhur Prayogo, S.P, mengatakan penerapan PM-AAS merupakan langkah strategis untuk meningkatkan daya saing sektor pertanian sekaligus memperkuat posisi Jember sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional.
"PM-AAS bukan hanya berorientasi pada peningkatan hasil panen, tetapi juga membangun sistem budidaya yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan. Dengan penerapan teknologi presisi, produktivitas padi dapat meningkat secara signifikan, biaya produksi menjadi lebih hemat, sehingga pendapatan petani juga ikut naik. Kami berharap inovasi ini dapat diterapkan lebih luas di Kabupaten Jember sebagai bagian dari upaya mendukung swasembada pangan nasional," ujar Luhur.
Melalui sinergi antara pemerintah, penyuluh, TNI, Bulog, BPS, POPT, dan kelompok tani, penerapan PM-AAS di Desa Karang Kedawung diharapkan menjadi model pertanian modern yang mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus memperkuat kesejahteraan petani. Dengan hasil panen yang lebih tinggi dan sistem budidaya yang semakin efisien, sektor pertanian Jember diyakini memiliki peluang besar untuk berkontribusi terhadap peningkatan produksi beras nasional di masa mendatang. (ima)