Puncak Musim Kemarau, Warga Tegalgede Jember Andalkan Bantuan Air Bersih BPBD
- 17 September 2026
- Dibaca 19 Kali
Bagikan Via:
Puncak Musim Kemarau, Warga Tegalgede Jember Andalkan Bantuan Air Bersih BPBD
JEMBER, 17 SEPTEMBER 2026 – Kekeringan yang melanda Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, semakin dirasakan masyarakat. Memasuki puncak musim kemarau, sejumlah sumur warga mengering sehingga puluhan keluarga kesulitan mendapatkan pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember kembali menyalurkan bantuan air bersih bagi warga terdampak, Kamis, 17 September 2026.
Sebanyak 40 kepala keluarga (KK) di RT 04/RW 07, Kelurahan Tegalgede, menjadi sasaran distribusi air bersih. Bantuan sebanyak 5.000 liter disalurkan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Jember dan ditampung dalam tandon milik warga yang disediakan Ketua RT setempat.
Distribusi air dilakukan sekitar pukul 11.00 WIB. Sebelumnya, petugas telah bergerak menuju lokasi sejak pukul 09.30 WIB untuk melakukan koordinasi dengan perangkat lingkungan dan masyarakat. Penyaluran tersebut menjadi distribusi air bersih ke-14 di wilayah Tegalgede.
Lurah Tegalgede, Shierley Aisyah, ST, MM, menyampaikan bahwa dampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini dirasakan luar biasa oleh masyarakat. Ketersediaan air tanah yang semakin terbatas membuat warga menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar.
“Kekeringan musim kemarau kali ini dampaknya luar biasa bagi masyarakat Tegalgede. Air sumur warga banyak yang mengering. Makanya, bantuan dari pemerintah, dalam hal ini BPBD, sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kami,” ujar Shierley.
Menurutnya, distribusi air bersih menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap kebutuhan warga yang terdampak kekeringan. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat, terutama keluarga yang kesulitan memperoleh sumber air dari sumur di lingkungan tempat tinggalnya.
Anggota TRC BPBD Kabupaten Jember, Rezha Pratama Ensas Pahlevi, menjelaskan bahwa kondisi kekeringan mulai dirasakan warga sejak Juli 2026. Penurunan ketersediaan air terjadi pada sejumlah sumur dengan kedalaman sekitar 8 hingga 10 meter.
“Sejak Juli, beberapa sumur warga mulai mengalami kekeringan. Kedalaman sumur sekitar 8 sampai 10 meter, sedangkan sumber mata air terdekat berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman,” kata Rezha.
Jarak sumber mata air yang cukup jauh menjadi salah satu kendala masyarakat dalam memperoleh pasokan air secara mandiri. Karena itu, keberadaan tandon berkapasitas 5.000 liter menjadi bagian penting dalam mendukung penampungan dan pemanfaatan bantuan air bersih bagi warga terdampak.
Selain menyalurkan air, TRC BPBD Jember juga memberikan edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga dalam menghadapi dampak kekeringan serta mendorong koordinasi yang lebih baik antara masyarakat dan perangkat lingkungan.
Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan, bantuan air bersih sebanyak 5.000 liter telah diterima dan ditampung dalam tandon warga. Distribusi berlangsung aman, kondusif, dan terkendali tanpa kendala berarti.
BPBD Jember merekomendasikan agar distribusi air bersih di wilayah terdampak dilakukan secara berkala, yakni sebanyak 5.000 liter setiap dua hari sekali selama kebutuhan warga masih berlangsung. Penanganan lanjutan juga akan diteruskan kepada dinas terkait guna mencari solusi atas keterbatasan sumber air yang dialami masyarakat. (sar)