logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata

Ritus Pager Gunung Selo Bonang 2026, Disporabudpar Jember Tekankan Makna Harmoni Manusia dan Alam

  • 20 Maret 2026
  • Dibaca 368 Kali
Bagikan Via:
ritus-pager-gunung-selo-bonang-2026-disporabudpar-jember-tekankan-makna-harmoni-manusia-dan-alam-20260320

Ritus Pager Gunung Selo Bonang 2026, Disporabudpar Jember Tekankan Makna Harmoni Manusia dan Alam

JEMBER, 20 MARET 2026 – Ritus Pager Gunung Selo Bonang 2026 yang digelar di kawasan lereng Gunung Argopuro menjadi momentum penting dalam mengangkat nilai budaya sekaligus kesadaran ekologis masyarakat. Mengusung tema Bentang Alam Budaya Hyang Argopuro, kegiatan ini tidak sekadar ritual, tetapi juga refleksi hubungan manusia dengan alam.

Di tengah suasana alam yang sakral, bunyi batu Selo Bonang yang menyerupai gamelan serta hadirnya kunang-kunang saat malam hari menghadirkan pengalaman spiritual yang mendalam. Masyarakat setempat meyakini bahwa gunung bukan untuk ditaklukkan, melainkan dijaga sebagai sumber kehidupan.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporabudpar) Jember, Bobby Arie Sandy, menyampaikan bahwa ritus Pager Gunung memiliki makna filosofis yang kuat dan relevan dengan kondisi saat ini.

“Ritus Pager Gunung ini bukan sekadar tradisi, tetapi mengandung pesan penting tentang bagaimana manusia harus hidup selaras dengan alam. Ini adalah kearifan lokal yang harus terus kita jaga dan lestarikan,” ujarnya, Jumat 20 Maret 2026.

Menurutnya, konsep “memagari gunung” bukan dimaknai secara fisik, melainkan sebagai simbol menjaga keseimbangan ekosistem, mulai dari kelestarian hutan, sumber air, hingga kehidupan di sekitarnya.

“Nilai yang diangkat dalam ritual ini sangat dalam. Bagaimana kita menjaga air tetap mengalir, hutan tetap hidup, dan alam tetap seimbang. Ini menjadi pesan universal yang bisa diterima oleh siapa saja,” jelasnya.

Ritus Pager Gunung sendiri menjadi bagian dari Festival Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 yang digelar sebagai upaya memperkenalkan kekayaan budaya lokal ke tingkat yang lebih luas. Melalui festival ini, pemerintah daerah ingin menghadirkan pengalaman budaya yang tidak hanya bisa dilihat, tetapi juga dirasakan secara langsung oleh masyarakat dan wisatawan.

Bobby menambahkan bahwa kegiatan berbasis budaya seperti ini memiliki potensi besar dalam mendukung sektor pariwisata, khususnya wisata berbasis kearifan lokal dan lingkungan.

“Kami ingin menjadikan Jember tidak hanya dikenal karena event besar, tetapi juga karena kekuatan budaya dan kearifan lokalnya. Ini adalah identitas yang harus kita angkat bersama,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, dan komunitas budaya dalam menjaga keberlanjutan tradisi seperti Pager Gunung. Tanpa keterlibatan semua pihak, nilai-nilai yang terkandung dalam ritual tersebut dikhawatirkan akan memudar seiring perkembangan zaman.

“Kami mengajak semua pihak untuk ikut menjaga dan merawat tradisi ini. Karena dari sinilah kita belajar tentang kehidupan, tentang keseimbangan, dan tentang tanggung jawab terhadap alam,” imbuhnya.

Dengan mengangkat tema dari lokal menuju makna global, Ritus Pager Gunung Selo Bonang 2026 diharapkan mampu menjadi simbol kesadaran baru tentang pentingnya menjaga bumi. Dari cahaya kecil kunang-kunang di lereng Argopuro, lahir pesan besar tentang harmoni antara manusia dan alam yang relevan hingga masa depan. (mel)

Galeri Foto