logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak

Sekolah Berdaya: Strategi Kolektif Menuju Jember Bebas Pernikahan Anak

  • 16 April 2026
  • Dibaca 239 Kali
Bagikan Via:
sekolah-berdaya-strategi-kolektif-menuju-jember-bebas-pernikahan-anak-20260417

Sekolah Berdaya: Strategi Kolektif Menuju Jember Bebas Pernikahan Anak

JEMBER, 15 APRIL 2026 – Tokoh pendidikan nasional sekaligus Pembina Yayasan Guru Belajar Foundation, Najelaa Shihab, menekankan bahwa kunci utama dalam mengatasi masalah sosial kronis, seperti pernikahan dini, adalah melalui konsep “Sekolah Berdaya” yang berfokus pada penguatan sistem keluarga.

Dalam talkshow bertajuk “Sekolah Berdaya Mencegah Pernikahan Dini” pada Rabu, 15 April 2026, Najelaa memaparkan di hadapan para perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) dan undangan lainnya bahwa sekolah tidak boleh lagi hanya menjadi tempat transfer ilmu teknis. Sekolah, menurutnya, harus hadir sebagai ruang refleksi dan intervensi bagi ekosistem terkecil anak, yakni keluarga.

Menurut Najelaa, sekolah berdaya adalah sekolah yang peka terhadap kebutuhan nyata murid serta mampu membangun kolaborasi lintas sektor yang kuat. Ia juga mengkritisi kecenderungan selama ini, di mana beban permasalahan anak sering kali hanya ditimpakan kepada guru di sekolah atau ibu di rumah secara tidak proporsional.

“Beban untuk mengatasi begitu banyak masalah yang terjadi pada anak itu tidak merata. Guru dan ibu sering kali mendapat tanggung jawab ganda, bahkan berlipat dibandingkan aktor lain,” ungkapnya.

Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk melihat pendidikan keluarga sebagai investasi paling menguntungkan bagi kesejahteraan masyarakat di masa depan.

Sementara itu, Penata Layanan Operasional Bidang Perlindungan Anak Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Jember, Solehati Nofitasari, menegaskan bahwa pendidikan merupakan pemutus rantai kerentanan sosial dan kemiskinan.

“Peningkatan kualitas keluarga merupakan modal utama dalam mencegah perkawinan anak,” ujarnya.

Najelaa juga memaparkan bahwa pernikahan dini kerap menjadi hulu berbagai masalah sistemik, mulai dari tingginya angka kematian bayi hingga persoalan stunting. Kondisi tersebut sering terjadi akibat ketidaksiapan calon orang tua yang berakar pada kurangnya pendidikan keluarga. Oleh karena itu, investasi pada sistem keluarga dinilai jauh lebih efektif dibandingkan intervensi yang terlambat.

Lebih lanjut, Najelaa, yang akrab disapa Bu Ela, menekankan pentingnya menumbuhkan talenta sekaligus membangun sistem di sekolah. Ia membedakan antara sekolah yang hanya mengejar nilai akademis dengan sekolah yang mampu mengembangkan potensi murid secara utuh, mencakup dorongan internal, kepribadian, hingga kemampuan kognitif yang kompleks.

“Tujuan pendidikan kita bukanlah individu semata, melainkan cita-cita kolektif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang berkualitas bagi setiap anak,” tegasnya.

Dengan paradigma tersebut, diharapkan sekolah mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga memiliki ketahanan moral dan sosial untuk mencegah praktik pernikahan dini di lingkungannya. (rou)

Galeri Foto