logo ppid jember kim
Oleh : Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Sumber Air Menyusut dan Sungai Tak Layak Konsumsi, Warga Jatian Berjuang Hadapi Kemarau

  • 13 Oktober 2026
  • Dibaca 18 Kali
Bagikan Via:
sumber-air-menyusut-dan-sungai-tak-layak-konsumsi-warga-jatian-berjuang-hadapi-kemarau-20261013

Sumber Air Menyusut dan Sungai Tak Layak Konsumsi, Warga Jatian Berjuang Hadapi Kemarau

JEMBER, 13 OKTOBER 2026 – Krisis air bersih akibat musim kemarau masih menghantui warga Dusun Krajan, Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember. Sejumlah sumur warga mulai mengering hingga memperlihatkan dasar sumur, bahkan sebagian mengeluarkan bau tidak sedap. Kondisi ini membuat sekitar 190 kepala keluarga (KK) membutuhkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember kembali menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 5.000 liter pada Selasa (13/10/2026). Distribusi yang memasuki tahap ke-16 ini menjadi bagian dari upaya penanganan dampak kekeringan yang telah dirasakan masyarakat sejak awal Agustus 2026.

Berdasarkan hasil asesmen di lapangan, kebutuhan air bersih tersebar di sejumlah wilayah permukiman. Di RT 02/RW 08, sekitar 50 KK dari total 129 KK membutuhkan air bersih. Sementara di RT 01/RW 06, jumlah warga yang membutuhkan air bersih mencapai sekitar 140 KK dari total 200 KK.

Adapun warga RT 01/RW 10 dan RT 02/RW 10 relatif masih tercukupi untuk kebutuhan air minum. Namun, masyarakat di kedua wilayah tersebut masih membutuhkan pasokan air untuk mandi dan mencuci.

Persoalan semakin serius karena sumber air alternatif yang selama ini dimanfaatkan warga mulai menyusut. Sumber alami di dekat area persawahan berjarak sekitar 300 meter dari permukiman RT 02/RW 08 dan sekitar 700 meter dari RT 01/RW 06. Sementara itu, sungai yang berjarak sekitar 200 hingga 500 meter dinilai tidak layak untuk dikonsumsi.

Hasil pemeriksaan terhadap delapan sumur warga di RT 02/RW 08 menunjukkan sekitar 90 persen sumur telah memperlihatkan dasar sumur. Sebagian sumur bahkan tercium bau, sehingga kondisinya perlu mendapat perhatian, terutama terkait kelayakan air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan bukan sekadar berkurangnya ketersediaan air, tetapi juga menyangkut kemudahan akses dan kualitas sumber air yang masih dapat dimanfaatkan masyarakat.

Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Kabupaten Jember bergerak menuju lokasi pada pukul 11.00 WIB untuk melakukan koordinasi, asesmen, pemeriksaan sumur warga, dokumentasi, serta edukasi mengenai dampak kekeringan. Dalam kegiatan tersebut, petugas juga mendistribusikan 5.000 liter air bersih ke tandon milik BPBD yang telah tersedia di sejumlah titik permukiman.

Narasumber BPBD Kabupaten Jember, Iwan Mujiartono dari Tim Reaksi Cepat (TRC), menjelaskan bahwa distribusi dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak.

“Berdasarkan hasil asesmen, sebagian warga Dusun Krajan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih karena sumber air alternatif mulai mengecil dan sebagian sumur warga mengering. Karena itu, distribusi air bersih perlu dilakukan secara berkala agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Iwan.

BPBD Kabupaten Jember merekomendasikan penyaluran air bersih menggunakan satu unit truk tangki berkapasitas 5.000 liter setiap lima hari sekali. Selain penyaluran bantuan darurat, kondisi tersebut juga perlu diteruskan kepada dinas terkait untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Pemerintah Desa Jatian sebelumnya telah melaporkan kondisi kekeringan tersebut kepada BPBD Kabupaten Jember. Penanganan dilakukan dengan melibatkan perangkat desa, pengurus RT/RW, dan warga setempat.

Distribusi air bersih ini merupakan bagian dari penanganan berdasarkan Surat Keputusan Bupati Jember tentang Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan, Kebakaran Hutan dan Lahan Kabupaten Jember Tahun 2026.

Di tengah berlanjutnya musim kemarau, pasokan air bersih secara berkala menjadi kebutuhan mendesak bagi warga terdampak. Penanganan berkelanjutan diperlukan agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan tangki dan dapat memperoleh akses air bersih yang aman untuk kebutuhan sehari-hari. (bob)

Galeri Foto