Tak Melulu di Kantor, Ibu-Ibu PKK Kelurahan Slawu Gelar Pertemuan Sambil Belajar Bertani di Kebun Gizi
- 21 September 2026
- Dibaca 52 Kali
Bagikan Via:
Tak Melulu di Kantor, Ibu-Ibu PKK Kelurahan Slawu Gelar Pertemuan Sambil Belajar Bertani di Kebun Gizi
JEMBER, 21 SEPTEMBER 2026 - Pertemuan rutin PKK biasanya identik dengan ruangan kantor, kursi yang berjajar, serta agenda yang berlangsung formal. Namun, pemandangan berbeda terlihat di Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang, Jember.
Para ibu-ibu PKK justru memilih kebun sebagai ruang pertemuan. Bukan sekadar berkumpul, mereka sekaligus mendapat edukasi tentang cara menanam sayuran hortikultura dengan memanfaatkan pupuk organik.
Kegiatan tersebut berlangsung di Kebun Gizi yang berada di Lingkungan Krajan, RW 07, RT 01, Kelurahan Slawu. Pertemuan dipandu Staf Kelurahan Slawu Novi Wahyu Asmaraningsih yang saat ini dipercaya sebagai Ketua TP PKK sementara.
Novi mengatakan, kegiatan PKK tidak harus selalu dilakukan di kantor kelurahan maupun tempat formal lainnya. Kebun Gizi dipilih agar suasana pertemuan lebih segar sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada para anggota PKK.
“Pertemuan PKK tidak harus selalu di kantor. Kami ingin ibu-ibu tidak jenuh. Di sini mereka bisa berkumpul sekaligus belajar menanam tanaman hortikultura dengan pupuk organik,” ujar Novi, Senin (21/9/2026).
Menurut dia, konsep tersebut diharapkan dapat mendorong anggota PKK untuk memanfaatkan lahan yang ada di sekitar rumah. Selain menghasilkan bahan pangan, aktivitas bercocok tanam juga menjadi sarana edukasi bagi keluarga.
Pemilik lahan Kebun Gizi, Mufroni, menjelaskan, kebun tersebut digagas oleh tiga pilar Kelurahan Slawu. Konsepnya tidak hanya berorientasi pada penghijauan, tetapi juga kesehatan dan ketahanan pangan keluarga.
“Kesehatan itu salah satunya dimulai dari dapur. Kita harus tahu makanan yang kita konsumsi berasal dari mana. Kalau membeli di pasar, kita tidak tahu apakah tanaman itu terkontaminasi pestisida atau tidak,” kata Mufroni.
Karena itu, lanjut dia, tanaman di Kebun Gizi menggunakan pupuk organik. Berbagai tanaman lokal seperti cabai, tomat, terong, gambas, dan koro dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Tanaman lokal ternyata tidak kalah dengan tanaman dari luar. Kalau dikelola dengan baik, selain bermanfaat untuk kebutuhan keluarga, tanaman lokal juga memiliki nilai ekonomis,” jelasnya.
Mufroni berharap keberadaan Kebun Gizi dapat mengubah pola pikir masyarakat. Bertani, kata dia, tidak selalu membutuhkan lahan luas.
“Tidak harus punya lahan luas. Di samping atau halaman rumah pun bisa ditanami sayuran untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Ini juga bagian dari ketahanan pangan,” pungkasnya. (Yud)