logo ppid jember kim
Oleh : Badan Kesatuan Bangsa dan Politik

Bakesbangpol Jember Dorong Batik Jadi Kekuatan Budaya dan Ketahanan Ekonomi Masyarakat

  • 04 Oktober 2026
  • Dibaca 17 Kali
Bagikan Via:
bakesbangpol-jember-dorong-batik-jadi-kekuatan-budaya-dan-ketahanan-ekonomi-masyarakat-20261005

Bakesbangpol Jember Dorong Batik Jadi Kekuatan Budaya dan Ketahanan Ekonomi Masyarakat

JEMBER, 04 OKTOBER 2026 - Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Jember mendorong pelestarian budaya lokal agar berjalan beriringan dengan penguatan ketahanan ekonomi masyarakat.

Hal itu ditegaskan melalui kehadiran Staf Bidang Ketahanan Ekonomi, Sosial Budaya, Agama, dan Organisasi Kemasyarakatan Bakesbangpol Jember, Desy Herawati, dalam Batik Culture Festival 2026: Harmony of Heritage, Minggu 04 Oktober 2026, di Jember Creative Center (JCC).

Bagi Bakesbangpol, kegiatan tersebut bukan sekadar festival budaya. Gelaran yang mempertemukan komunitas, pelaku UMKM, kelompok perempuan dan masyarakat tersebut dinilai memiliki ruang strategis untuk membangun kolaborasi sekaligus memperkuat potensi ekonomi berbasis budaya lokal.

Desy Herawati mengatakan, Bakesbangpol melihat pelestarian batik sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan sosial budaya sekaligus membuka ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Bagi kami, batik bukan hanya warisan budaya yang harus dilestarikan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang bisa dikembangkan. Ketika masyarakat mampu mempertahankan budaya sekaligus mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi, maka budaya dapat menjadi salah satu kekuatan dalam membangun ketahanan masyarakat,” ujar Desy.

Menurutnya, pengembangan batik tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, organisasi kemasyarakatan, pelaku UMKM, kelompok perempuan serta masyarakat di tingkat desa dan kecamatan.

“Bakesbangpol mendorong agar komunitas dan organisasi masyarakat tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi juga menjadi mitra pemerintah dalam mengembangkan potensi masyarakat. Salah satunya melalui sektor batik dan UMKM yang dapat membuka peluang usaha serta lapangan pekerjaan,” katanya.

Batik Culture Festival 2026 berlangsung sejak pagi dengan agenda pembukaan pukul 09.00 WIB. Sejumlah kegiatan turut digelar, antara lain lomba mewarnai PAUD, aktivitas UMKM, fashion show siswa dan ibu-ibu Perwira (Perkumpulan Perempuan Wirausaha Indonesia), serta land dance ibu-ibu Perwira.

Acara dibuka oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jember yang diwakili Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Jember, Widiane Aviantie Arif Tjahyono.

Dalam sambutannya, Widiane menyampaikan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Ia mengajak masyarakat untuk bangga menggunakan batik, khususnya batik Jember, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap batik sejak lingkungan keluarga.

“Setiap goresan batik menyimpan doa dan cerita,” menjadi pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Desy menambahkan, pesan tersebut sejalan dengan perspektif Bakesbangpol bahwa budaya memiliki dimensi sosial yang kuat. Pelestarian budaya dapat menjadi sarana memperkuat identitas masyarakat, membangun kebersamaan, sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi yang produktif.

“Yang ingin kita bangun bukan hanya bagaimana batik tetap dikenal, tetapi bagaimana ekosistemnya bisa tumbuh. Perajin mendapat ruang, UMKM berkembang, perempuan semakin berdaya, dan masyarakat di desa maupun kecamatan mempunyai peluang untuk mendapatkan manfaat ekonominya,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, Bakesbangpol Jember berencana membangun kemitraan yang lebih masif bersama komunitas Perwira. Kemitraan tersebut diarahkan pada pengembangan kegiatan membatik dan UMKM hingga tingkat desa dan kecamatan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di tengah berbagai potensi goncangan ekonomi. Dengan mengoptimalkan potensi budaya lokal, masyarakat diharapkan memiliki alternatif sumber pendapatan sekaligus mempertahankan warisan budaya Nusantara.

“Harapannya, kolaborasi ini tidak berhenti pada kegiatan festival. Ada tindak lanjut yang konkret, sehingga budaya bisa tetap hidup, UMKM semakin berkembang, dan masyarakat memiliki peluang untuk menciptakan lapangan pekerjaan dari potensi yang ada di daerahnya sendiri,” pungkas Desy.

Bakesbangpol Jember menilai sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci agar pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Batik, UMKM dan pemberdayaan komunitas diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari penguatan ketahanan sosial budaya sekaligus ekonomi masyarakat Jember. (but)

Galeri Foto