BPBD Jember Asesmen Kekeringan di Banjarsari, 75 KK Kesulitan Air Bersih dan Butuh Distribusi Rutin
- 28 Juli 2026
- Dibaca 180 Kali
Bagikan Via:
BPBD Jember Asesmen Kekeringan di Banjarsari, 75 KK Kesulitan Air Bersih dan Butuh Distribusi Rutin
JEMBER, 28 JULI 2026 – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember melakukan asesmen dampak kekeringan di Dusun Dukuh II RT 02 dan RT 03 RW 02, Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari, Selasa, 28 Juli 2026.
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut atas laporan masyarakat melalui layanan Wadul Gus'e yang mengadukan kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Tim BPBD Kabupaten Jember yang dipimpin personel Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) bergerak menuju lokasi sejak pukul 09.00 WIB.
Setibanya di Desa Banjarsari, tim berkoordinasi dengan kepala desa, sekretaris desa, kepala dusun, serta pelapor sebelum melaksanakan peninjauan langsung ke wilayah terdampak.
Selama asesmen, petugas melakukan pemeriksaan terhadap sumur, kamar mandi, dan jaringan kran air milik warga. Tim juga meninjau sumber mata air di wilayah hulu Desa Tugusari sekaligus memantau pelaksanaan pembangunan sumur bor program Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang saat ini masih berlangsung.
Firman Arifianto dari Tim Pusdalops BPBD Kabupaten Jember, menjelaskan bahwa hasil asesmen menunjukkan warga selama ini mengandalkan jaringan pipanisasi yang mengambil air dari sungai di perbatasan Desa Tugusari dengan jarak sekitar dua kilometer. Namun, kondisi sumber air tersebut sudah tidak layak dikonsumsi karena mengalami pencemaran.
"Air dari pipanisasi saat ini hanya dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci. Debit air pun terus menurun, bahkan pada waktu tertentu tidak mengalir sama sekali. Untuk kebutuhan air minum, masyarakat harus mengambil air dari sumur bor di dekat balai desa yang berjarak sekitar 700 meter dari permukiman," ujar Firman.
Berdasarkan hasil pendataan BPBD, sebanyak 75 kepala keluarga terdampak kekeringan, terdiri atas 30 kepala keluarga di RT 02 dan 45 kepala keluarga di RT 03 RW 02. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan air bersih warga semakin mendesak di tengah musim kemarau.
Firman menambahkan, pemerintah desa sebenarnya telah berupaya mengatasi persoalan tersebut. Dua kali pengeboran sumur telah dilakukan, namun tidak berhasil menemukan sumber air.
Selain itu, warga juga melakukan pengeboran secara mandiri dengan hasil yang sama. Saat ini, pembangunan sumur bor melalui Program JIAT dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur masih dalam proses dan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga dapat dimanfaatkan.
Sebagai tindak lanjut, BPBD Kabupaten Jember merekomendasikan pendistribusian air bersih berkapasitas 5.000 liter setiap lima hari sekali untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat.
BPBD juga merekomendasikan penyediaan pangkon tandon oleh pemerintah desa serta penempatan empat unit tandon air berkapasitas 1.200 liter di lokasi terdampak agar distribusi air bersih dapat berjalan lebih efektif.
Firman menegaskan, hasil asesmen ini menjadi dasar penyusunan langkah penanganan darurat agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi sembari menunggu pembangunan sumur bor permanen selesai.
BPBD Kabupaten Jember akan terus berkoordinasi dengan pemerintah desa, perangkat daerah terkait, dan pemerintah provinsi agar penanganan kekeringan di Desa Banjarsari dapat dilakukan secara cepat, terukur, dan berkelanjutan demi menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat. (tgh)