Pemkab Jember Kolaborasi dengan Bapas, Berdayakan Klien Pemasyarakatan
- 21 April 2026
- Dibaca 164 Kali
Bagikan Via:
Pemkab Jember Kolaborasi dengan Bapas, Berdayakan Klien Pemasyarakatan
JEMBER, 20 APRIL 2026 – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Jember bersama Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kabupaten Jember menggelar pelatihan keterampilan bagi para klien pemasyarakatan. Pelatihan bertajuk "Jahe Cinta: Dari Usaha Menuju Sejahtera" ini diselenggarakan sebagai langkah nyata untuk membekali warga binaan dengan kemandirian ekonomi sebelum kembali sepenuhnya ke masyarakat.
Plh. Kepala Bapas Kelas II Jember, Shinta Yuniar Habsari, S.H., menyampaikan apresiasi mendalam atas sinergi yang terjalin dengan Pemerintah Kabupaten Jember. Menurutnya, kegiatan ini merupakan jembatan bagi para warga binaan untuk membuktikan eksistensi positif mereka di lingkungan sosial.
"Kami berharap klien pemasyarakatan dapat merasakan manfaat langsung dari kegiatan ini saat terjun ke masyarakat nanti. Mereka jadi punya kesibukan yang produktif. Jika sebelumnya ada anggapan bahwa mereka tidak berguna, melalui kemampuan yang dibekali dari program 'Jahe Cinta' ini, mereka bisa membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya," tutur Shinta.
Dalam sesi motivasi, salah satu pemateri dari Bapas Jember, Rizky Rahayu Setyawan, S.H., memberikan pesan menyentuh kepada 30 peserta pelatihan. Ia menekankan bahwa status sebagai warga binaan bukanlah akhir dari perjalanan hidup, melainkan fase titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
"Kami tidak melihat masa lalu Anda, tetapi kami melihat potensi masa depan cemerlang yang ada di dalam diri Anda semua. Di balik masa lalu, selalu ada kesempatan untuk menjemput masa depan yang jauh lebih cerah," tegas Rizky di hadapan para peserta.
Rizky menjelaskan bahwa pemilihan komoditas jahe dalam pelatihan ini dilakukan karena sangat strategis. Selain karena potensi pasar yang luas, proses produksinya pun sangat memungkinkan untuk dilakukan dalam skala rumah tangga. Meski terlihat sederhana, jika ditekuni dengan serius, usaha pengolahan jahe ini diyakini mampu menjadi modal untuk membuka lapangan pekerjaan baru.
Lebih jauh, pelatihan ini juga bertujuan untuk memutus rantai stigma negatif yang sering dialami oleh mantan warga binaan. Rizky meyakini bahwa perubahan perilaku yang dibarengi dengan bukti nyata berupa keterampilan adalah cara terbaik untuk meraih kembali kepercayaan kepada masyarakat.
"Bagaimana cara kita merubah stigma negatif masyarakat? Salah satunya adalah dengan mengubah sikap dan perilaku, serta membuktikan kualitas diri melalui keterampilan yang mungkin sebelumnya belum pernah didapatkan. Pelatihan ini adalah modal usaha yang luar biasa jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh," tambahnya.
Melalui program "Jahe Cinta", pemerintah daerah berharap para warga binaan yang sedang menjalani masa integrasi, baik pembebasan bersyarat, cuti bersyarat, maupun program lainnya dapat memiliki kegiatan positif yang memberikan dampak sosial dan finansial nyata bagi keluarga dan masyarakat. (rou)