BPBD Jember Dorong Penyempurnaan Jalur Evakuasi Tsunami di Puger
- 19 Agustus 2026
- Dibaca 142 Kali
Bagikan Via:
BPBD Jember Dorong Penyempurnaan Jalur Evakuasi Tsunami di Puger
JEMBER, 19 AGUSTUS 2026 - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember bersama Universitas Negeri Jember (Unej), pemerintah desa, PMI, dan masyarakat mengevaluasi jalur evakuasi tsunami di Kecamatan Puger. Evaluasi dilakukan untuk memastikan warga memiliki rute penyelamatan yang aman dan efektif apabila tsunami terjadi.
Pembahasan tersebut dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penentuan Jalur Evakuasi Tsunami di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember” di Balai Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger, Selasa, 18 Agustus 2026.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Jember, Ir. Anang Dwi Resdianto, S.T., M.T., mengatakan penentuan jalur evakuasi tidak cukup hanya berdasarkan jarak menuju titik aman. Kondisi fisik jalan, lebar akses, potensi kepadatan, hingga kemampuan warga melakukan evakuasi dalam situasi panik perlu menjadi pertimbangan.
“Jalur evakuasi harus benar-benar mempertimbangkan kondisi di lapangan. Jangan sampai jalur yang secara jarak terlihat dekat justru menjadi titik hambatan ketika seluruh warga melakukan evakuasi,” ujar Anang dalam FGD tersebut.
FGD yang dimulai pukul 09.30 WIB itu dipimpin Dosen Fakultas Teknik Unej Abdur Rohman, S.T., M.Agr., Ph.D. Sekitar 20 peserta hadir, terdiri atas perangkat dan perwakilan warga Desa Mojomulyo, PMI Jember, Fakultas Teknik Unej, serta BPBD Jember.
Dalam forum dipaparkan hasil pemetaan wilayah yang berpotensi terdampak genangan tsunami di sepanjang Pantai Cemara, Puger. Dari pemetaan sementara teridentifikasi sekitar empat rute evakuasi dengan rata-rata waktu tempuh menuju titik aman sekitar 20 menit.
Namun, hasil evaluasi menunjukkan masih terdapat sejumlah persoalan. Pada rute evakuasi kedua, misalnya, terdapat jalan berpaving dengan lebar kurang dari dua meter. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kemacetan ketika digunakan secara bersamaan oleh banyak warga.
Pengalaman masyarakat saat terdampak banjir rob pada 1996 juga menjadi bahan evaluasi. Warga menilai waktu 20 menit dapat menjadi tantangan apabila evakuasi dilakukan dalam kondisi panik, terutama bagi kelompok rentan dan warga yang memiliki keterbatasan mobilitas.
Menurut Anang Dwi Resdianto, apabila jarak permukiman menuju titik aman terlalu jauh, keberadaan bangunan evakuasi atau escape building dapat menjadi salah satu solusi. Selain pembangunan sarana pendukung, peningkatan kapasitas dan pemahaman masyarakat mengenai kesiapsiagaan tsunami juga dinilai penting.
“Selain jalur dan tempat evakuasi, kapasitas masyarakat harus terus ditingkatkan. Warga perlu memahami kapan harus menyelamatkan diri dan jalur mana yang paling aman,” katanya.
FGD menyepakati perlunya evaluasi lanjutan terhadap seluruh rute evakuasi. Evaluasi akan mempertimbangkan jenis dan lebar jalan, potensi hambatan, serta aspek keselamatan lainnya untuk mendapatkan jalur evakuasi yang paling aman dan efektif bagi masyarakat Puger. (tgh)