logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan

Di Balik Gerakan Pengendalian Hama, Ada Tantangan Pola Tanam dan Adaptasi Petani

  • 01 April 2026
  • Dibaca 276 Kali
Bagikan Via:
di-balik-gerakan-pengendalian-hama-ada-tantangan-pola-tanam-dan-adaptasi-petani-20260402

Di Balik Gerakan Pengendalian Hama, Ada Tantangan Pola Tanam dan Adaptasi Petani

JEMBER, 01 APRIL 2026 - Gerakan pengendalian hama yang dilakukan di Desa Balung Lor, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember, tidak sekadar menjadi kegiatan teknis di lapangan. Dari kegiatan yang digelar pada Selasa, 31 Maret 2026 itu, justru mengemuka sejumlah tantangan yang masih dihadapi petani dalam praktik budidaya sehari-hari.

Selain melakukan identifikasi kondisi tanaman, kegiatan ini juga disertai dengan pembagian racikan pestisida kepada petani sebagai langkah awal pengendalian di lapangan. Upaya ini diharapkan dapat membantu petani merespons serangan hama secara lebih cepat dan tepat.

Tim dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Jember bersama penyuluh BPP Balung melakukan identifikasi langsung terhadap kondisi tanaman padi di lahan petani.

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh Wahyu Indra Suseno, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Balung, bersama Martha Murry Marita, S.P, Koordinator POPT Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan. diperoleh hasil identifikasi adanya serangan wereng batang coklat (WBC) serta indikasi penyakit tanaman yang teridentifikasi sebagai bakteri Xanthomonas.

Selain faktor hama dan penyakit, temuan di lapangan juga menunjukkan bahwa pola tanam masih menjadi perhatian. Jarak tanam yang terlalu rapat dinilai berpotensi memengaruhi kondisi pertumbuhan tanaman, terutama dalam hal sirkulasi udara dan ruang tumbuh.

Di sisi lain, proses pendampingan juga dihadapkan pada tantangan adaptasi. Masih terdapat petani yang belum sepenuhnya terbuka terhadap penerapan pola budidaya yang lebih modern, sehingga perubahan di tingkat lapangan berjalan secara bertahap.

“Dari hasil identifikasi di lapangan, ditemukan serangan wereng batang coklat (WBC), indikasi bakteri Xanthomonas, serta jarak tanam yang masih terlalu rapat. Selain itu, masih ada petani yang sulit diajak untuk menerapkan pola budidaya yang lebih modern,” ujar Martha, Rabu 01 April 2026.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian hama tidak bisa dipandang sebagai langkah yang berdiri sendiri. Diperlukan kesesuaian antara kondisi lapangan, pola tanam, dan kesiapan petani dalam menerima pendampingan agar upaya yang dilakukan dapat berjalan lebih efektif.

Melalui kegiatan ini, diharapkan proses pengendalian tidak hanya berhenti pada identifikasi, tetapi juga berlanjut pada perbaikan praktik budidaya yang lebih terarah dan berkelanjutan di tingkat petani. (fan)

Galeri Foto