Di Pengukuhan Forum Komunikasi Ponpes dan Guru Ngaji, Bupati Jember : Ada Opini Penggiringan Membenci Pemimpin
- 17 Juni 2026
- Dibaca 24 Kali
Bagikan Via:
Di Pengukuhan Forum Komunikasi Ponpes dan Guru Ngaji, Bupati Jember : Ada Opini Penggiringan Membenci Pemimpin
JEMBER, 16 JUNI 2026 - Dalam acara Pengukuhan Forum Komunikasi Ponpes dan Guru Ngaji se - Kabupaten Jember, yang digelar di Pendopo Wahyawibawagraha, Pemkab Jember, pada Selasa, 16 Juni 2026 malam, Bupati Jember, Dr. Muhammad Fawait, S.E., MSc., menyampaikan, bahwa saat ini ramai opini yang menggiring, agar membenci pemimpin dan mencaci maki.
Hal ini tidak lepas dengan naiknya nilai tukar rupiah yang mencapai 17 ribu lebih dan juga kenaikan BBM non subsidi, karena situasi geo politik internasional, sehingga ada opini yang menyatakan, bahwa kondisi saat ini sama dengan era reformasi tahun 1998.
Padahal, kondisi saat ini dengan era reformasi tahun 1998, tidak bisa disamakan dari sisi manapun, hal ini sesuai dengan data dan fakta, dimana pada tahun 1998, nilai tukar rupiah mengalami kenaikan cukup signifikan, dari sebelumnya Rp. 2.000,- naik ke angka Rp. 16.000,-.
Tidak hanya itu, angka inflasi pada tahun 1998, juga mengalami kenaikan cukup tinggi, dan kondisi ini jauh berbeda dengan tahun 2026, dimana kenaikan nilai tukar rupiah, yang sebelumnya di angka Rp. 13.000 - Rp. 14.000,- saat ini naik di angka Rp. 17.000.
"Saat ini, sedang ramai penggiringan opini di masyarakat, untuk membenci pemimpin, dalam hal ini pemerintah, bahwa pemerintah dianggap gagal, sama halnya dengan kondisi di era reformasi tahun 1998, padahal tidak bisa disamakan, hal ini bisa di kalkulasikan dengan presentasi, sangat jauh perbedaannya," ujar Bupati Jember, dihadapan pengasuh dan pengurus pesantren, serta guru ngaji yang ikut pengukuhan.
Perbedaan lainnya antara lain tahun 1998 dengan tahun 2026, adalah, kondisi cadangan devisa negara, jika tahun 1998, cadangan devisa mengalami penurunan, namun ditahun 2026, cadangan devisa ada peningkatan, bahkan tahun ini, pemerintah Indonesia mengalami swasembada pangan.
"Kalau tahun 1998, kita mengalami devisit pangan, tapi tahun 2026, kita swasembada pangan, ini yang membedakan, jadi melalui forum komunikasi ini, kami mengajak seluruh masyarakat untuk bijak dalam menyikapi perkembangan informasi, terutama di era digital," jelasnya.
Bupati juga berharap, dengan adanya forum komunikasi Ponpes dan Guru ngaji ini, sinergi antara pemerintah dengan ulama dan tokoh masyarakat semakin kuat, dan menjadi jembatan komunikasi, antara pemerintah dengan masyarakat.
"Oleh karenanya, kami berharap melalui forum ini, bisa disampaikan kepada masyarakat, untuk lebih bijak lagi dalam menerima informasi yang beredar, terutama di media sosial," jelasnya.
Acara pengukuhan forum komunikasi Ponpes dan Guru ngaji ini sendiri, juga dihadiri oleh jajaran pengurus dari PCNU Kencong, PCNU Jember, Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Ketua DPD LDII, PHDI dan MAG, serta jajaran kepala perangkat daerah, dan camat. (Al)