Di Usia Muda, Wafiq Azizatul Chofifa Lanjutkan Perjuangan Sang Ayah Mengajar Ngaji
- 18 Maret 2026
- Dibaca 202 Kali
Bagikan Via:
Di Usia Muda, Wafiq Azizatul Chofifa Lanjutkan Perjuangan Sang Ayah Mengajar Ngaji
JEMBER, 18 MARET 2026 – Di tengah kesibukan masyarakat menjalani aktivitas sehari-hari, sosok Wafiq Azizatul Chofifa yang berasal dari Desa Semboro, Dusun Kamaran, tetap setia menjalankan perannya sebagai guru ngaji di usia yang masih muda. Perempuan yang telah mengajar selama empat tahun ini memilih jalan pengabdian yang tidak mudah, namun penuh makna.
Wafiq mulai mengajar sejak usia 21 tahun. Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Sejak kecil, ia telah akrab dengan dunia mengaji karena dididik langsung oleh sang ayah yang juga seorang guru ngaji. Setelah ayahnya meninggal dunia, Wafiq merasa memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan tersebut.
“Saya dari kecil sudah belajar ngaji dengan bapak. Karena beliau dulu juga guru ngaji, jadi saya ingin meneruskan apa yang sudah beliau lakukan,” ungkapnya.
Saat ini, Wafiq mengajar 12 santri yang sebagian besar masih berusia anak-anak. Mengajar anak-anak tentu bukan perkara mudah. Dibutuhkan kesabaran ekstra dalam membimbing mereka agar dapat memahami bacaan Al-Qur’an dengan baik.
“Tantangannya memang di situ, karena santri saya masih kecil-kecil, jadi harus sabar dan telaten. Tapi saya tidak pernah putus semangat, karena dari awal memang sudah bertekad untuk mengajar demi anak-anak,” ujarnya.
Di balik kesibukannya mengajar, Wafiq juga memiliki tanggung jawab lain di rumah. Ia merupakan anak dari empat bersaudara, namun saat ini hanya tinggal berdua dengan ibunya. Dalam kesehariannya, ia tidak hanya mengajar ngaji, tetapi juga merawat sang ibu yang sedang sakit.
Meski menjalani peran ganda yang tidak ringan, Wafiq tetap menjalani semuanya dengan penuh keikhlasan. Baginya, kebahagiaan sederhana justru datang dari hal-hal kecil, terutama ketika melihat perkembangan para santrinya.
“Yang paling membuat saya senang itu ketika melihat santri saya yang awalnya belum bisa, akhirnya jadi lancar mengaji. Itu rasanya bahagia sekali,” tuturnya dengan senyum.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Jember melalui program insentif bagi guru ngaji. Menurutnya, selama ini ia mengajar dengan penuh keikhlasan tanpa mengharapkan imbalan, namun adanya insentif tersebut sangat membantu dalam menunjang kebutuhan sehari-hari.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Gus Fawait atas insentif yang diberikan kepada guru ngaji. Selama ini saya mengajar dengan ikhlas, jadi ketika mendapatkan insentif seperti ini tentu sangat membantu dan menjadi penyemangat bagi saya untuk terus mengajar,” ungkapnya.
Kisah Wafiq menjadi gambaran nyata bahwa pengabdian tidak mengenal usia. Dengan semangat dan ketulusan, ia mampu melanjutkan perjuangan sang ayah sekaligus memberikan manfaat bagi generasi muda di lingkungannya.
Di tengah berbagai keterbatasan, dedikasi yang ditunjukkan Wafiq Azizatul Chofifa menjadi inspirasi bahwa mengajar bukan sekadar tugas, melainkan panggilan hati yang dijalani dengan penuh keikhlasan. (maf)