Ketegasan Tanpa Kompromi, Gus Fawait Tutup Sementara 58 Dapur MBG demi Gizi Anak Jember
- 19 Maret 2026
- Dibaca 635 Kali
Bagikan Via:
Ketegasan Tanpa Kompromi, Gus Fawait Tutup Sementara 58 Dapur MBG demi Gizi Anak Jember
JEMBER, 19 Maret 2026 — Di tengah hiruk-pikuk di salah satu dapur SPPG Kabupaten Jember, Bupati Muhammad Fawait berdiri tegak. Matanya tajam, suaranya mantap, tak ada ruang untuk tawar-menawar. “Saya sudah malu sebagai bupati. Dari tiga SPPG yang disuspend, sekarang jadi 58. Ini alarm keras. Standar harus ditegakkan, tidak ada kompromi,” tegasnya dalam arahan virtual sebelum berangkat umrah ke Mekah. Itulah wajah ketegasan Gus Fawait yang kini menjadi sorotan, 58 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditutup sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Semua berawal dari sidak mendadak yang diperintahkan bupati. Awalnya hanya tiga dapur yang terjaring: menu tak sesuai standar gizi Rp 8.000–Rp 10.000 per porsi, anggaran dipangkas, fasilitas ala kadarnya. Tak butuh waktu lama. Gus Fawait memerintahkan Satgas Percepatan MBG melakukan pemeriksaan menyeluruh ke ratusan dapur se-Kabupaten Jember. Hasilnya mencengangkan, IPAL tak berfungsi, SLHS tak memenuhi syarat, mess karyawan tak layak, bahkan beberapa dapur hanya menyajikan lauk “minimalis”. Jumlah melompat jadi 58 unit dalam hitungan hari.
“Suspend ini bukan hukuman, tapi koreksi. Saya tak mau program nasional ini jadi bahan olok-olok karena kelalaian kita,” kata Gus Fawait dalam unggahan media sosialnya. Bahkan saat sedang ihram di Tanah Suci, ia tetap memantau lewat arahan hybrid setiap malam. Ketika pulang dari umroh, Ia turun langsung sidak ke SPPG Curahlele 02, berjalan menyusuri dapur, mengecek setiap panci, dan berbicara langsung dengan pengelola. Reel Instagram @gus.fawait itu kini viral, bupati berbaju krem sederhana, tangan menyentuh rak makanan, caption-nya tegas, “Program ini bukan sekadar makan, tapi pemberdayaan. Kalau ndableg, saya siap usulkan pemutusan kontrak.”
Ketua Satgas Percepatan MBG Akhmad menegaskan, penutupan sementara tak akan dicabut sebelum semua kekurangan diperbaiki. “Evaluasi menyeluruh sedang berjalan. Koordinasi dengan BGN terus dilakukan. Masyarakat dipersilakan melapor lewat Wadul Gus’e,” ujarnya. Bagi Gus Fawait, ini bukan soal sanksi semata. Ini soal masa depan anak-anak Jember. “Saya tak mau ada lagi anak sekolah yang mendapat gizi di bawah standar. Ini komitmen saya,” tambahnya.
Dukungan penuh terhadap ketegasan bupati datang dari tingkat paling bawah. Camat Sumbersari Deni Hadiatullah, S.IP., MM., menyatakan siap mengikuti apa pun keputusan atasannya. “Kami di tingkat kecamatan akan mengikuti dan melaksanakan apa pun yang diputuskan Bupati. Program MBG ini prioritas, dan pengawasan harus terus diperketat agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Camat Deni tegas saat ditemui di lapangan, tepat di depan salah satu dapur yang sedang dievaluasi.
Kini, 58 dapur itu lengang. Beberapa pengelola mulai memperbaiki fasilitas, yang lain masih menunggu keputusan kontrak. Anak-anak sekolah tetap mendapat jatah makan dari dapur lain yang lolos audit. Tapi di balik kesunyian itu, ada pesan kuat dari bupati yaitu ketegasan bukan untuk menghukum, melainkan untuk melindungi. “Jember Maju dan Sejahtera tak bisa dibangun di atas kompromi gizi anak,” kata Gus Fawait.
Di Jember, satu nama kini menjadi simbol, Muhammad Fawait. Bukan karena jabatannya, tapi karena tekadnya yang tak goyah. 58 dapur ditutup sementara bukan akhir cerita, melainkan awal dari perbaikan besar-besaran. Dan Camat Deni Hadiatullah hanya mengulang satu kalimat yang kini menjadi mantra kecamatan: “Kami siap ikut apa pun yang diputuskan Bupati.” (aji)