KWT Pangan Lestari Sumbersari Sukses Wujudkan Ketahanan Pangan Perkotaan Lewat Kompos
- 07 Juni 2026
- Dibaca 40 Kali
Bagikan Via:
KWT Pangan Lestari Sumbersari Sukses Wujudkan Ketahanan Pangan Perkotaan Lewat Kompos
JEMBER, 07 JUNI 2026 โ Masalah sampah perkotaan sering kali menjadi momok yang krusial jika tidak ditangani dengan tepat. Namun, di tangan kreatif ibu-ibu Jalan Sumatera Gang 6 No. 41, Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Sumbersari, tumpukan limbah rumah tangga justru disulap menjadi berkah yang bernilai ekonomis sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal.
Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Pangan Lestari, warga sukses mengintegrasikan pengelolaan sampah organik (kompos) dan anorganik secara mandiri. Langkah konkret ini mendapat apresiasi penuh dari pihak kelurahan yang terus mendorong kawasan padat penduduk untuk melek terhadap kelestarian lingkungan.
Lurah Sumbersari, Bhatara Pragusta, menyatakan rasa bangganya atas konsistensi dan kemandirian warga dalam mengelola lingkungan. Menurutnya, inisiatif ini menjadi proyek percontohan yang ideal bagi wilayah urban lainnya di Jember.
"Kami dari pihak kelurahan sangat mengapresiasi inovasi luar biasa dari KWT Pangan Lestari. Ini adalah bukti nyata bahwa keterbatasan lahan di area perkotaan bukan penghalang untuk produktif. Langkah mengawinkan bank sampah dengan sektor pertanian perkotaan (urban farming) ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, tetapi juga langsung menyentuh pemenuhan gizi dan ekonomi keluarga. Kami berharap lingkungan lain segera mereplikasi gerakan ini," ujar Bhatara Pragusta, Minggu 07 Juli 2026.
๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ๐น ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฒ๐น๐ถ๐๐ฎ๐ต ๐ ๐ฒ๐น๐ถ๐ต๐ฎ๐ ๐ฆ๐ถ๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ฝ๐๐ฟ
Gerakan ramah lingkungan ini diinisiasi oleh Ely Yuliastutik, seorang penggerak lingkungan setempat. Ely menceritakan, ide ini muncul dari kegelisahannya melihat volume sampah domestik yang dibuang percuma setiap hari, khususnya sisa bahan makanan dari dapur.
"Setiap hari masing-masing rumah tangga pasti akan menghasilkan sampah organik, yaitu sisa potongan sayur dan sisa makanan yang tidak habis. Melihat itu semua, saya berusaha menginisiasi ibu-ibu untuk bareng-bareng mengelola limbah organiknya dan mengaplikasikannya ke tanaman," kenang Ely saat ditemui di kebun KWT Pangan Lestari, Minggu, 7 Juni 2026.
Dari kegelisahan tersebut, sampah rumah tangga mulai dipilah menjadi dua jenis. Sampah anorganik disetorkan ke Bank Sampah 'Griya Resik' untuk didaur ulang atau dijual. Sementara itu, sampah organik diolah secara mandiri menjadi pupuk kompos, Pupuk Organik Cair (POC) air lindi, hingga cairan serbaguna Eco-Enzyme.
"Berangkat dari sanalah, maka akhirnya kami mendirikan KWT Pangan Lestari pada 5 Oktober 2025 lalu. Sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan keluarga, kami mengajak ibu-ibu yang sebagian juga nasabah Griya Resik untuk bergabung," tambah Ely.
๐ฆ๐ถ๐ฎ๐๐ฎ๐๐ถ ๐๐ฎ๐ต๐ฎ๐ป ๐ฆ๐ฒ๐บ๐ฝ๐ถ๐, ๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ฝ ๐๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐๐ฟ๐ถ๐๐ถ๐ ๐๐น๐ผ๐ฏ๐ฎ๐น
Kini, kelompok yang diketuai oleh Miftahul Jannah tersebut telah beranggotakan 20 orang ibu rumah tangga aktif. Mengingat lokasi mereka berada di jantung perkotaan dengan keterbatasan lahan, kreativitas pun diuji. Para anggota saling berbagi ilmu tentang teknik bertanam di lahan sempit. Mereka juga memanfaatkan limbah anorganik seperti botol dan ember bekas dari bank sampah untuk disulap menjadi pot tanaman estetis.
Pupuk kompos hasil olahan limbah dapur langsung dijadikan media tanam utama. Di atas lahan yang terbatas itu, kini menghijau aneka jenis sayuran segar dan tanaman hortikultura lainnya yang tumbuh subur dan sepenuhnya organik.
Hasil panen dari kebun kolektif ini pun mulai dirasakan manfaatnya. Sebagian hasil sayuran dijual kepada pedagang keliling (wlijo) untuk menambah kas kelompok, dan sebagian lagi dibagikan gratis untuk dikonsumsi bersama oleh para anggota guna menghemat pengeluaran dapur.
Bagi warga Sumbersari, gerakan ini bukan sekadar urusan perut dan kebersihan lingkungan jangka pendek. Ely menegaskan bahwa ada misi besar yang sedang mereka persiapkan demi masa depan generasi mendatang.
"KWT Pangan Lestari ini kami rawat bareng-bareng. Rasa gotong royong dan kepedulian antar-anggota itu yang menjadi poin terpenting bagaimana kita bersama-sama berusaha mewujudkan ketahanan pangan keluarga dan bersiap-siap menghadapi krisis pemanasan global tahun 2030 nanti," pungkas Ely optimis.