logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Tanggul

Menyusuri Fajar di Manggisan, Kisah Sunyi Kader PKK dan Posyandu Tanggul yang Setia Jaga Kesehatan Warga

  • 21 April 2026
  • Dibaca 256 Kali
Bagikan Via:
menyusuri-fajar-di-manggisan-kisah-sunyi-kader-pkk-dan-posyandu-tanggul-yang-setia-jaga-kesehatan-warga-20260421

Menyusuri Fajar di Manggisan, Kisah Sunyi Kader PKK dan Posyandu Tanggul yang Setia Jaga Kesehatan Warga

JEMBER, 21 APRIL 2026 - Pagi masih sangat muda. Embun belum sepenuhnya menguap dari daun-daun yang menunduk pelan di halaman rumah warga. Di sebuah sudut Desa Manggisan, Kecamatan Tanggul, cahaya lampu temaram sudah lebih dulu menembus gelap, menandai dimulainya aktivitas yang tak pernah benar-benar berhenti.

Di dalam rumah sederhana itu, beberapa ibu tampak sibuk. Tangan-tangan mereka cekatan menata alat timbang, menyusun buku catatan, dan mempersiapkan segala kebutuhan. Tak ada seragam resmi, tak ada panggung megah. Namun, dari tempat inilah denyut kecil pelayanan kesehatan masyarakat berawal. Mereka adalah kader Posyandu dan ibu-ibu PKK, garda terdepan yang setia menjaga kesehatan ibu dan anak di lingkungannya.

Bagi sebagian orang, apa yang mereka lakukan mungkin tampak biasa saja. Menimbang balita, mengukur tinggi badan, memberi penyuluhan, atau sekadar mengingatkan ibu hamil untuk memeriksakan kandungan. Namun, di balik rutinitas itu, tersimpan dedikasi panjang yang tak selalu terlihat, juga pengorbanan yang jarang terhitung.

Satik adalah salah satunya. Lebih dari tiga dekade ia mengabdikan diri sebagai kader. Pertanyaan yang sama kerap ia dengar: lelahkah ia menjalani semua ini dengan imbalan yang tak seberapa?

Perempuan itu hanya tersenyum. Tangannya tetap sibuk mencatat perkembangan seorang balita di hadapannya. “Insentif yang kami terima memang sangat terbatas, kadang hanya cukup untuk ongkos. Tapi ini bukan soal uang. Ini soal tanggung jawab dan rasa sayang kepada sesama,” ujarnya pelan, Selasa 21 April 2026.

Sebagai relawan, mereka bekerja tanpa pamrih. Di sela-sela kesibukan mengurus rumah tangga, mengasuh anak, hingga membantu pekerjaan keluarga, mereka tetap menyisihkan waktu untuk warga. Menyusuri gang sempit, berjalan kaki atau bersepeda, mereka mendatangi satu per satu rumah.

Tak jarang, mereka harus mengetuk pintu yang enggan terbuka. “Ada orang tua yang menolak datang ke Posyandu. Kami datangi, kami yakinkan bahwa ini penting untuk kesehatan anak dan ibu,” tutur Satik.

Keterbatasan bukan hal baru. Timbangan yang rusak, buku catatan yang habis, hingga bahan penyuluhan yang minim sudah menjadi bagian dari keseharian. Namun, itu tak pernah menghentikan langkah mereka. Kertas bekas pun dimanfaatkan, alat seadanya pun diolah, demi memastikan pesan kesehatan tetap sampai.

Ketua TP PKK Kecamatan Tanggul, Siti Khoiriyah, memahami betul denyut perjuangan itu. Baginya, para kader adalah sosok yang paling dekat dengan masyarakat.

“Kami mungkin bukan dokter atau bidan. Kami juga tidak digaji seperti tenaga formal. Tapi kami tahu kondisi warga kami. Kami tahu siapa yang sakit, siapa yang membutuhkan bantuan,” ujarnya.

Peran mereka, lanjut Siti Khoiriyah, jauh melampaui sekadar kegiatan Posyandu. Mereka menjadi jembatan antara masyarakat dan layanan kesehatan. Mereka menyampaikan edukasi tentang gizi, pola hidup sehat, hingga pencegahan penyakit. Bahkan, ketika ada warga yang ragu berobat karena alasan biaya atau rasa takut, merekalah yang pertama datang memberi keyakinan.

“Kalau bukan kami yang peduli, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” katanya tegas.

“Melihat anak-anak tumbuh sehat, ibu melahirkan dengan selamat, dan lingkungan menjadi lebih baik, itu sudah lebih dari cukup bagi kami,” sambungnya.

Di tengah segala keterbatasan, mereka tetap berdiri. Bekerja dengan hati, bergerak dengan semangat, dan mengabdi tanpa pamrih. Bagi mereka, pelayanan bukanlah beban, melainkan kehormatan.

Dan setiap senyum yang mereka berikan kepada warga yang datang, adalah bukti sederhana namun kuat: bahwa pengabdian sejati tidak diukur dari materi, melainkan dari ketulusan yang terus menyala, bahkan sejak fajar belum sepenuhnya datang. (psn)

Galeri Foto