Monitoring Home Care Ajung, BPBD Jember Temukan Lansia Hipertensi hingga Balita Berat Badan Kurang
- 11 September 2026
- Dibaca 5 Kali
Bagikan Via:
Monitoring Home Care Ajung, BPBD Jember Temukan Lansia Hipertensi hingga Balita Berat Badan Kurang
JEMBER, 11 SEPTEMBER 2026 – Pelaksanaan program Home Care di Kecamatan Ajung terus dimonitor untuk memastikan masyarakat sasaran memperoleh pelayanan yang tepat dan berkelanjutan. Dalam monitoring dan evaluasi visite kedua yang digelar Jumat 11 September 2026, tim menemukan sejumlah persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga administrasi kependudukan (adminduk) serta kondisi rumah tidak layak huni.
Kegiatan monitoring diawali di Kantor Desa Rowoindah dan dilanjutkan dengan kunjungan ke lima titik sasaran Home Care di wilayah Kecamatan Ajung. Kegiatan ini melibatkan Kepala BPBD Kabupaten Jember, Camat Ajung, unsur kepolisian, Ketua TP PKK, Tim LRT, LSN dan SRIKANDI, tim monitoring Dinas Kesehatan, Tim Home Care UPTD Puskesmas Ajung, serta perangkat desa dan kepala dusun.
Kepala BPBD Kabupaten Jember sekaligus Koordinator Home Care Kecamatan Ajung, Dr. Drs. Edy Budi Susilo, M.Si., turut hadir langsung untuk memastikan kondisi sasaran serta kesesuaian pelayanan di lapangan.
Dari hasil verifikasi, tercatat sebanyak 557 orang menjadi sasaran Home Care di Kecamatan Ajung. Setelah dilakukan kunjungan pertama, sebanyak 458 orang telah terkonfirmasi dan mendapatkan layanan kesehatan di tujuh desa, yaitu Wirowongso, Sukamakmur, Rowoindah, Pancakarya, Mangaran, Klompangan, dan Ajung.
Sementara itu, 99 orang belum dapat dilayani karena berbagai kendala, di antaranya 47 orang telah meninggal dunia, 32 orang tidak ditemukan alamatnya, 13 orang pindah wilayah, serta tujuh orang tidak masuk kategori sasaran valid. Data tersebut telah dilaporkan kepada Dinas Kesehatan untuk tindak lanjut.
Dalam visite kedua, tim menemukan berbagai kondisi di lapangan. Salah satunya Tita Rohmayanti (17), penyandang disabilitas di Dusun Rowo, Desa Rowoindah. Kondisi fisiknya relatif baik, namun terdapat catatan pada kondisi mental yang kurang stabil. Pendampingan dilakukan melalui pemeriksaan rutin yang akan diintegrasikan dengan kegiatan Posyandu setempat. Rumah yang bersangkutan dinilai layak huni dan administrasi kependudukan lengkap.
Kasus lain ditemukan pada Senamu (76), lansia yang tinggal seorang diri dengan keluhan penglihatan kabur serta riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah tinggi dan indikasi katarak. Tindak lanjut akan dilakukan melalui koordinasi dengan tenaga kesehatan wilayah serta upaya pengajuan operasi katarak gratis.
Pada kelompok ibu dan anak, Fitriyah (20) yang sebelumnya berstatus ibu hamil risiko tinggi kini telah melahirkan dan berada dalam masa nifas dengan kondisi sehat. Pendampingan difokuskan pada pemantauan kesehatan ibu, pemenuhan gizi, serta edukasi ASI eksklusif. Selain itu, proses administrasi kependudukan masih dalam tahap pengurusan melalui pihak kecamatan.
Tim juga menemukan balita atas nama M. Alfarizi (18 bulan) dengan kondisi berat dan tinggi badan kurang. Secara umum anak dalam kondisi sehat dan aktif, namun memerlukan perhatian khusus pada pemenuhan gizi serta pemantauan rutin melalui Posyandu.
Sementara itu, Samu (61) tercatat mengalami hipertensi. Dari hasil pemeriksaan, kondisi pasien stabil dan masih dapat beraktivitas normal, namun tetap memerlukan pemantauan berkala.
Kepala BPBD Kabupaten Jember, Dr. Drs. Edy Budi Susilo, M.Si., menegaskan bahwa program Home Care tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan semata, tetapi juga menyentuh persoalan lain yang saling berkaitan di masyarakat.
“Melalui Home Care, kita tidak hanya melihat kondisi kesehatan, tetapi juga persoalan adminduk dan kondisi tempat tinggal. Ketika ditemukan masyarakat dengan rumah tidak layak huni atau administrasi yang belum lengkap, maka harus ada intervensi dan koordinasi lintas sektor agar penanganannya menyeluruh,” ujarnya.
Menurutnya, kunjungan langsung menjadi langkah penting untuk memastikan kondisi riil masyarakat serta menjamin tidak ada sasaran yang terlewat. Setiap temuan di lapangan akan ditindaklanjuti melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan kecamatan.
Selain itu, dari hasil monitoring juga ditemukan bahwa sebagian besar rumah sasaran dalam kondisi layak huni dan memiliki dokumen kependudukan yang lengkap. Meski demikian, masih terdapat beberapa warga yang memerlukan pendampingan lebih lanjut, baik dalam hal perbaikan rumah maupun pengurusan administrasi.
Melalui monitoring yang berkelanjutan, program Home Care di Kecamatan Ajung diharapkan tidak hanya berhenti pada pemeriksaan kesehatan, tetapi berkembang menjadi sistem layanan terpadu yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, baik dari sisi kesehatan, administrasi, maupun sosial secara menyeluruh. (bob)