logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Arjasa

Ngarak Si Kopek, Desa Biting Hidupkan Kembali Jejak Cerita Leluhur

  • 14 September 2026
  • Dibaca 5 Kali
Bagikan Via:
ngarak-si-kopek-desa-biting-hidupkan-kembali-jejak-cerita-leluhur-20260914

Ngarak Si Kopek, Desa Biting Hidupkan Kembali Jejak Cerita Leluhur

JEMBER, 14 SEPTEMBER 2026 – Desa Biting, Kecamatan Arjasa, kembali menegaskan komitmennya dalam merawat warisan budaya lokal melalui Festival Arak-arakan “Ngarak Si Kopek” yang digelar pada Sabtu, 12 September 2026. Mengusung kekayaan cerita tutur dan mitologi yang tumbuh di tengah masyarakat, festival ini menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali identitas budaya Desa Biting kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Lebih dari sekadar pertunjukan budaya, Ngarak Si Kopek menjadi upaya untuk menghidupkan kembali cerita-cerita yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur. Nilai-nilai sejarah, identitas, serta kearifan lokal yang terkandung di dalamnya dikemas melalui arak-arakan yang menarik dan dekat dengan masyarakat.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, keberadaan tradisi seperti ini menjadi penting. Sebab, kemajuan sebuah desa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuannya menjaga akar budaya dan jati diri masyarakatnya.

Camat Arjasa, R.B. Abdul Kadir, S.IP., M.M., mengapresiasi langkah Desa Biting dalam mengangkat kembali kekayaan budaya yang dimiliki.

“Festival Ngarak Si Kopek ini bukan hanya tentang arak-arakan, tetapi bagaimana kita kembali mengingat cerita, sejarah, dan nilai-nilai yang diwariskan leluhur. Ini penting agar generasi muda tidak hanya mengenal perkembangan zaman, tetapi juga tahu dari mana mereka berasal dan apa yang menjadi jati diri desanya,” ujar R.B. Abdul Kadir.

Menurutnya, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan kemajuan. Tradisi tidak harus ditinggalkan ketika masyarakat memasuki era modern, tetapi justru dapat dikemas secara kreatif agar semakin dikenal dan diminati generasi muda.

Hal senada disampaikan Pembina Sanggar Umah Wetan, Abdurrasyid atau Cak Cid, yang menilai bahwa cerita tutur dan mitologi lokal merupakan bagian penting dari kekayaan pengetahuan masyarakat yang perlu terus diwariskan.

“Cerita-cerita yang ada di Biting ini jangan sampai berhenti hanya pada generasi terdahulu. Ngarak Si Kopek menjadi salah satu cara untuk mengenalkan kembali cerita tutur dan mitologi kepada anak-anak muda, supaya mereka tahu bahwa desanya memiliki sejarah, memiliki cerita, dan memiliki kearifan lokal yang sangat berharga,” ungkap Cak Cid.

Ia berharap festival tersebut tidak berhenti sebagai sebuah perhelatan tahunan, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk semakin mencintai, mempelajari, sekaligus mengembangkan kebudayaan lokal.

Melalui Ngarak Si Kopek, Desa Biting menunjukkan bahwa menjaga tradisi bukan berarti berjalan mundur. Justru, dari cerita masa lalu, masyarakat dapat menemukan identitas untuk melangkah menuju masa depan.

Biting boleh terus maju mengikuti zaman. Namun, jati diri dan warisan leluhur harus tetap hidup di dalam setiap langkah generasinya. (aza)

Galeri Foto