Perkuat Nilai Toleransi, Bupati Jember Rayakan Momen Lebaran Bersama Jemaat Gereja Santo Yusup
- 22 Maret 2026
- Dibaca 233 Kali
Bagikan Via:
Perkuat Nilai Toleransi, Bupati Jember Rayakan Momen Lebaran Bersama Jemaat Gereja Santo Yusup
JEMBER, 21 MARET 2026 - Bupati Jember, Muhammad Fawait, melakukan aksi nyata dalam merawat toleransi beragama pada momentum Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Pemimpin daerah yang akrab disapa Gus Fawait ini memilih merayakan hari kemenangan dengan mengunjungi jemaat Gereja Santo Yusup, Jember, Jawa Timur.
Kehadiran Gus Fawait pada Sabtu, 21 Maret 2026 atau tepat di hari pertama Lebaran tersebut menjadi simbol kuat harmonisasi sosial di tengah keberagaman masyarakat Jember. Didampingi sejumlah tokoh lintas iman, kedatangan rombongan bupati disambut hangat oleh jemaat gereja dalam suasana penuh kekeluargaan.
Dalam sambutannya, Gus Fawait menegaskan bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi pembatas untuk saling berbagi kebahagiaan. Menurutnya, Idulfitri adalah momentum universal untuk memperkuat nilai kemanusiaan dan persaudaraan.
"Kita ingin menunjukkan bahwa daerah ini berdiri di atas nilai kebersamaan. Tidak ada sekat dalam merayakan kebahagiaan. Hari ini kita buktikan bahwa toleransi bukan sekadar wacana, tetapi nyata dalam tindakan," ujar Gus Fawait, di hadapan para jemaat gereja.
Acara yang berlangsung di lingkungan Gereja Santo Yusup tersebut diisi dengan dialog santai dan doa bersama untuk kedamaian serta kemajuan daerah. Langkah ini dinilai sebagai upaya konkret pemerintah daerah dalam menjaga kerukunan umat beragama sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.
Perwakilan Gereja Santo Yusup menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif pemerintah daerah tersebut. Kehadiran bupati di tengah umat Kristiani saat momen besar umat Islam, dinilai dapat memberikan rasa aman sekaligus pengakuan bahwa seluruh elemen masyarakat adalah bagian yang utuh dari pembangunan daerah.
Pemerintah Kabupaten Jember pun berkomitmen untuk terus mendorong kegiatan serupa guna membangun kehidupan sosial yang inklusif, damai, dan berkeadaban. Harapannya, nilai toleransi di Jember tidak lagi sekadar menjadi simbol seremonial, melainkan budaya yang mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari. (ram)