Situs Candi Deres, Menelusuri Jejak Peradaban Kuno di Bumi Jember
- 30 Maret 2026
- Dibaca 369 Kali
Bagikan Via:
Situs Candi Deres, Menelusuri Jejak Peradaban Kuno di Bumi Jember
JEMBER, 30 MARET 2026 - Di tengah hamparan lahan persawahan Desa Purwoasri, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, berdiri sisa-sisa kebesaran sebuah candi yang menyimpan cerita panjang tentang peradaban kuno di tanah Jawa Timur.
Situs sejarah Candi Deres bukan hanya sekadar reruntuhan batu bata yang menganga, melainkan bukti nyata kedalaman akar budaya bangsa yang telah ada jauh sebelum masa kini.
Setiap potongan bata merah yang tersisa seolah berbisik tentang masa kejayaan dan perjalanan panjang yang telah dilalui oleh salah satu situs bersejarah yang patut diperhatikan di wilayah Jawa Timur, Senin, 30 Maret 2026.
Menurut Gunawan Jupel dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember, perjalanan sejarah Candi Deres dimulai ketika pertama kali ditemukan pada tahun 1904, di masa penjajahan Belanda.
Pada saat ditemukan oleh pihak kolonial kala itu, kondisi candi sudah tidak lagi utuh seperti pada masa kejayaannya.
Reruntuhan yang terlihat hingga saat ini ternyata sudah menjadi kondisi awal candi semenjak ditemukan lebih dari satu abad yang lalu. Meskipun tidak pernah mendapatkan rekonstruksi menyeluruh untuk kembali ke bentuk aslinya, keberadaan candi ini tetap menjadi bukti penting tentang keberadaan peradaban kuno di wilayah Jember.
"Meskipun kondisi awalnya sudah rusak, pemerintah tidak tinggal diam terhadap keberadaan Candi Deres. Pada tahun 1980-an, Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan upaya penyelamatan yang menjadi tonggak penting dalam pelestarian situs ini," kata Gunawan.
Selama proses penyelamatan dan penggalian yang dilakukan pada masa itu, berbagai temuan berharga berhasil ditemukan oleh tim arkeolog. Di antara temuan tersebut adalah lingga yoni yang menjadi bukti akan hubungan candi dengan ajaran agama Hindu, serta berbagai potongan arca yang diperkirakan memiliki makna filosofis dan sejarah yang mendalam.
Semua benda cagar budaya hasil temuan tersebut kini tidak lagi dibiarkan di lokasi candi, melainkan disimpan dengan sangat baik di ruang koleksi benda cagar budaya Kabupaten Jember. Penyimpanan yang terpadu ini bertujuan untuk melindungi benda-benda bersejarah dari kerusakan lebih lanjut, sekaligus memudahkan proses penelitian dan studi bagi para akademisi serta masyarakat yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah candi.
"Berdasarkan dugaan para ahli dan data yang telah dikumpulkan, Candi Deres memiliki hubungan erat dengan kejayaan Kerajaan Majapahit," ujarnya.
Diperkirakan bahwa candi ini dulunya pernah difungsikan kembali pada masa pemerintahan Raja Majapahit ke-IV, Hayam Wuruk. Raja yang dikenal sebagai salah satu pemimpin besar dalam sejarah Indonesia ini pernah melakukan perjalanan panjang yang mencakup jarak tempuh sekitar 1700 km melintasi berbagai wilayah di Nusantara.
"Selama perjalanan tersebut, Raja Hayam Wuruk diduga juga pernah singgah di lokasi yang kini dikenal sebagai Candi Deres. Menariknya, kala itu candi ini tidak bernama Deres, melainkan dikenal dengan nama Candi Reco," katanya.
Perubahan nama yang terjadi dari waktu ke waktu menjadi bagian dari cerita panjang candi, yang mencerminkan bagaimana dinamika sejarah dan kehidupan masyarakat sekitar situs ini berkembang seiring berjalannya waktu.
Camat Gumukmas, Dannie Allcholin, menyampaikan bahwa situs Candi Deres memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap. Menurutnya, situs ini bisa menjadi referensi utama bagi para peneliti yang ingin mengkaji tentang peradaban kuno di wilayah Jember dan sekitarnya.
"Diharapkan dengan semakin banyaknya studi dan penelitian yang dilakukan terhadap Candi Deres, informasi mengenai sejarah, fungsi, serta makna di balik keberadaan candi ini akan semakin melimpah dan dapat diakses oleh khalayak luas," katanya.
Pentingnya pelestarian dan eksplorasi lebih lanjut terhadap Candi Deres tidak hanya terletak pada aspek sejarah semata, melainkan juga sebagai sarana untuk memberikan wawasan kepada generasi muda tentang peradaban dan kerajaan kuno di Indonesia.
Mengingat masih banyak informasi yang belum terungkap secara menyeluruh dari situs ini, setiap langkah penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memperkaya pengetahuan dan wawasan generasi muda mengenai akar budaya bangsa. Dengan demikian, Candi Deres tidak hanya menjadi situs sejarah yang diam dan sunyi, melainkan juga menjadi jembatan penghubung antara masa lalu dengan masa kini, serta jembatan yang membawa nilai-nilai budaya kepada generasi penerus bangsa. (rir)