Tracing TBC Terintegrasi CKG, Warga Pakusari Bisa Cek Kesehatan Sekaligus
- 08 September 2026
- Dibaca 16 Kali
Bagikan Via:
Tracing TBC Terintegrasi CKG, Warga Pakusari Bisa Cek Kesehatan Sekaligus
JEMBER, 08 SEPTEMBER 2026 – Upaya mendeteksi tuberkulosis (TBC) sejak dini terus diperkuat di Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember. UPTD Puskesmas Pakusari berkolaborasi dengan Pemerintah Kecamatan Pakusari mengintegrasikan tracing TBC dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), Selasa, 08 September 2026.
Layanan yang dipusatkan di Kantor Kecamatan Pakusari itu menawarkan konsep pelayanan satu pintu. Warga yang menjalani pemeriksaan TBC juga dapat memeriksa kondisi kesehatan umum, seperti kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat, tanpa dipungut biaya.
Kegiatan tersebut menyasar masyarakat yang mengalami gejala TBC, termasuk mereka yang memiliki kontak erat atau kontak serumah dengan pasien TBC. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat deteksi dan penanganan penyakit menular sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi kesehatan secara menyeluruh.
Pemeriksaan TBC juga mulai memanfaatkan teknologi radiologi. Jika sebelumnya pemeriksaan lebih banyak mengandalkan pemeriksaan dahak, kini deteksi dilakukan dengan bantuan foto rontgen yang difasilitasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui kerja sama dengan RSUD dr. Soebandi Jember.
Camat Pakusari Muhammad Sifak Beni Kurniawan mengapresiasi kolaborasi lintas sektor tersebut. Menurut dia, integrasi layanan kesehatan menjadi langkah penting untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.
“Kami ingin memberikan pelayanan kesehatan yang makin mudah dan komprehensif bagi warga Pakusari. Melalui integrasi ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan pemeriksaan TBC berbasis teknologi rontgen, tetapi juga bisa langsung mengecek kolesterol, gula darah, hingga asam urat secara gratis dalam satu kali datang,” ujar Muhammad Sifak Beni Kurniawan saat meninjau kegiatan.
Dia menambahkan, keberhasilan deteksi dini TBC tidak hanya bergantung pada kesiapan fasilitas dan tenaga kesehatan. Partisipasi aktif masyarakat juga menjadi kunci untuk menemukan kasus lebih awal dan mencegah penularan lebih luas.
Karena itu, sinergi antara pemerintah kecamatan, puskesmas, Muspika, tenaga kesehatan, Kementerian Kesehatan, dan RSUD dr. Soebandi terus diperkuat. Edukasi kepada masyarakat juga diperlukan agar warga tidak ragu memeriksakan diri, terutama ketika mengalami gejala yang mengarah pada TBC atau memiliki riwayat kontak dengan pasien.
Melalui layanan terpadu tersebut, mata rantai penularan TBC di Kecamatan Pakusari diharapkan dapat ditekan. Di sisi lain, masyarakat juga semakin terbiasa melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai langkah pencegahan penyakit sejak dini. (zal)