logo ppid jember kim
Oleh : Badan Kesatuan Bangsa dan Politik

Dari Soto Madura hingga Nasionalisme: Mahasiswa Unej Diajak Merawat Wawasan Nusantara Lewat Kuliner

  • 07 Mei 2026
  • Dibaca 254 Kali
Bagikan Via:
dari-soto-madura-hingga-nasionalisme-mahasiswa-unej-diajak-merawat-wawasan-nusantara-lewat-kuliner-20260507

Dari Soto Madura hingga Nasionalisme: Mahasiswa Unej Diajak Merawat Wawasan Nusantara Lewat Kuliner

JEMBER, 07 MEI 2026 - Aroma rempah soto bening khas Pamekasan Madura memenuhi sebuah rumah sederhana di kawasan Jalan Teuku Umar, Tegal Besar, Jember, Kamis 07 Mei 2026. Namun, kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.30 WIB itu bukan sekadar belajar memasak. Lebih dari itu, puluhan mahasiswa diajak memahami makna persatuan Indonesia melalui kekayaan kuliner Nusantara.

Program bertajuk Nusantara Kreatif: Eksplorasi Kuliner Nusantara sebagai Wujud Implementasi Wawasan Nusantara digelar oleh Rumah Edukasi Creative bekerja sama dengan Komunitas Kuliner Nusantara Jember. Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 50 mahasiswa kelas Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) Universitas Jember (Unej) bersama dosen pendamping, Katrina Leba.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kabid Politik Dalam Negeri Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Jember, Dwi Handarisasi, kemudian Debora, owner kuliner Madura Halimatus Sadiah, serta para mahasiswa peserta kegiatan.

Kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Para mahasiswa tidak hanya mendengarkan pemaparan materi tentang budaya kuliner Nusantara, tetapi juga terlibat langsung dalam proses memasak soto bening khas Pamekasan Madura bersama pelaku usaha kuliner lokal.

Dalam sambutannya, Dwi Handarisasi menegaskan bahwa kuliner Nusantara merupakan warisan budaya turun-temurun yang memiliki nilai pemersatu bangsa.

“Kuliner Nusantara adalah warisan yang mencerminkan identitas suku, budaya, dan etnis di Indonesia. Melalui kuliner, berbagai kalangan dapat berkumpul dan menikmati rasa yang sama. Berbeda-beda, tetapi tetap satu lidah Nusantara,” ujarnya.

Ia menambahkan, generasi muda memiliki tanggung jawab penting untuk menjaga dan memperkenalkan kekayaan kuliner lokal kepada masyarakat luas. Menurutnya, mahasiswa harus mampu menjadi agen promosi budaya sekaligus pelestari nilai-nilai kebangsaan.

“Mahasiswa hari ini belajar membuat dan mengolah kuliner Nusantara agar sejarah lokal, nilai budaya, dan bahan baku lokal tetap hidup dan dikenal lintas generasi. Ini penting untuk membangun rasa nasionalisme,” katanya.

Dwi juga mengapresiasi konsep kegiatan yang dinilai mampu menjadi ruang perjumpaan lintas budaya bagi anak muda dari berbagai latar belakang.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Keren dan menarik bagi kalangan pemuda dengan ragam latar belakang. Ini adalah wujud nyata bahwa Jember merupakan miniatur Nusantara,” tambahnya.

Sementara itu, dosen pendamping mahasiswa, Katrina Leba, menjelaskan bahwa pembelajaran mengenai Wawasan Nusantara tidak cukup hanya dipahami secara teoritis di ruang kelas. Menurutnya, mahasiswa perlu mengalami langsung realitas keberagaman budaya Indonesia.

“Indonesia memiliki keberagaman budaya yang sangat kaya, salah satunya tercermin dalam ragam kuliner daerah. Kuliner bukan sekadar kebutuhan konsumsi, tetapi juga identitas budaya yang mengandung nilai sejarah, sosial, dan filosofi kehidupan masyarakat,” ungkapnya.

Ia menilai pendekatan experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman menjadi metode efektif dalam menanamkan pemahaman kebangsaan kepada mahasiswa. Dengan turun langsung ke sentra kuliner, mahasiswa dapat melihat bagaimana makanan tradisional menjadi simbol identitas sekaligus perekat persatuan bangsa.

“Kunjungan ke sentra kuliner Madura di Jember menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa untuk memahami keberagaman budaya Indonesia. Mereka bisa berinteraksi langsung dengan pelaku usaha kuliner, mengamati proses produksi, hingga memahami nilai budaya di balik setiap hidangan,” jelasnya.

Di sisi lain, Direktur Rumah Edukasi Creative menyampaikan bahwa program Nusantara Kreatif dirancang sebagai gerakan kampanye budaya melalui jalur kuliner yang menyasar kalangan mahasiswa.

Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis dalam memperkenalkan kembali kuliner tradisional kepada masyarakat luas, terutama di era digital saat ini.

“Mahasiswa adalah generasi muda yang aktif di media sosial dan melek teknologi. Mereka dapat menjadi agen perubahan yang efektif dalam melestarikan warisan budaya Indonesia, termasuk melalui promosi kuliner Nusantara,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata, tetapi mampu melahirkan gerakan kolektif anak muda dalam menjaga identitas bangsa di tengah derasnya arus globalisasi budaya.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para mahasiswa tampak aktif berdiskusi, mencatat resep tradisional, hingga ikut meracik bumbu dan memasak bersama. Suasana kebersamaan semakin terasa saat seluruh peserta menikmati hasil masakan secara bersama-sama.

Bagi para peserta, kegiatan tersebut memberikan pengalaman berbeda dibanding pembelajaran di dalam kelas. Mereka tidak hanya belajar tentang teori kebangsaan, tetapi juga merasakan langsung bagaimana keberagaman budaya Indonesia dapat menyatukan masyarakat melalui cita rasa makanan tradisional.

Melalui kegiatan ini, Rumah Edukasi Creative bersama Bakesbangpol Jember dan Komunitas Kuliner Nusantara Jember ingin menegaskan bahwa menjaga persatuan bangsa tidak selalu dilakukan melalui forum formal atau diskusi akademik semata. Dari dapur sederhana dan semangkuk soto Madura, nilai-nilai Wawasan Nusantara justru dapat tumbuh dan dirasakan secara nyata oleh generasi muda Indonesia. (but)

Galeri Foto