Era AI Mengubah Dunia Pendidikan, Guru dan Kepala Sekolah Jember Didorong Adaptif
- 05 Oktober 2026
- Dibaca 23 Kali
Bagikan Via:
Era AI Mengubah Dunia Pendidikan, Guru dan Kepala Sekolah Jember Didorong Adaptif
JEMBER, 05 OKTOBER 2026 – Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mulai mengubah wajah dunia pendidikan. Kondisi tersebut menuntut guru dan kepala sekolah tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu mengintegrasikannya ke dalam proses pembelajaran.
Tantangan itu menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial FKK 4 (Luring 3) yang digelar di SMPN 5 Jember, Senin 05 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan agar mampu merespons perubahan pola pembelajaran di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Peserta kegiatan berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pengawas sekolah jenjang pendidikan dasar (Dikdas), kepala sekolah jenjang nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), kepala sekolah jenjang formal SD dan SMP, hingga guru dari PKBM, SD, dan SMP.
Keterlibatan lintas jenjang tersebut menunjukkan bahwa transformasi pendidikan membutuhkan kesiapan seluruh ekosistem sekolah. Adaptasi terhadap teknologi tidak cukup dilakukan oleh guru secara individual, tetapi juga harus didukung kepala sekolah dan unsur pendidikan lainnya.
Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Tulus Wijayanto, S.Pd., M.Si., menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas pendidik di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Menurut Tulus, guru dan kepala sekolah harus terus mengembangkan kompetensi agar mampu mengikuti perkembangan zaman. Terlebih, AI kini berkembang pesat dan mulai bersentuhan dengan berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan.
“Guru dan kepala sekolah harus terus mengembangkan kompetensinya. Perubahan teknologi berlangsung cepat sehingga dunia pendidikan juga harus mampu beradaptasi agar pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan peserta didik,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai konsep pembelajaran mendalam, tetapi juga diperkenalkan dengan koding dan pemanfaatan AI yang dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran mendalam menekankan pemahaman secara utuh, bukan sekadar menghafal materi. Peserta didik didorong untuk berpikir kritis, memahami konsep, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari, serta menghasilkan proses belajar yang lebih bermakna.
Sementara itu, pengenalan koding dan AI menjadi bekal bagi pendidik agar satuan pendidikan lebih siap menghadapi perubahan teknologi. Pemanfaatan teknologi diharapkan tidak sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar mendukung kualitas dan relevansi pembelajaran.
Salah satu peserta, Raden Achmad Jauhari, S.Pd., menilai kegiatan tersebut memberikan wawasan yang relevan dengan tantangan pendidikan saat ini.
“Kegiatan ini memberikan pemahaman baru kepada kami, terutama bagaimana perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran, tentunya tetap disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan sekolah,” ungkapnya.
Pelaksanaan kegiatan juga mendapat monitoring dan evaluasi langsung dari Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Timur, Mohamad Nasikh Lil Sidi, S.Pd., M.M.
Monitoring dilakukan untuk melihat secara langsung pelaksanaan kegiatan sekaligus memastikan program berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Kehadiran pimpinan BBGTK Jawa Timur tersebut sekaligus menjadi momentum untuk melihat kesiapan peserta dalam mengikuti perkembangan kebijakan dan inovasi pembelajaran. Hasil evaluasi di lapangan diharapkan dapat menjadi bahan penguatan pelaksanaan program pada tahap berikutnya.
Di tengah semakin cepatnya perkembangan AI, penguasaan teknologi bagi pendidik bukan lagi sekadar pilihan. Guru tetap menjadi aktor utama dalam proses pembelajaran, tetapi kemampuan memanfaatkan teknologi secara tepat menjadi kompetensi yang semakin penting.
Karena itu, kegiatan FKK 4 (Luring 3) di SMPN 5 Jember diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan di sekolah maupun lembaga masing-masing.
Dengan demikian, pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial tidak hanya menjadi materi pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari transformasi pembelajaran di satuan pendidikan.
Transformasi tersebut menjadi penting agar dunia pendidikan tidak sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya untuk menghadirkan proses pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan peserta didik di era digital. (hz)