Harga Cabai Naik di Pasar, Petani Jember Masih Tertekan
- 02 September 2026
- Dibaca 7 Kali
Bagikan Via:
Harga Cabai Naik di Pasar, Petani Jember Masih Tertekan
JEMBER, 2 SEPTEMBER 2026 — Ada jarak yang mencolok dalam perjalanan cabai dari lahan menuju pasar. Ketika harga di tingkat konsumen dapat mencapai belasan ribu rupiah per kilogram, petani di sentra produksi justru menghadapi harga yang jauh lebih rendah. Di tengah tingginya biaya produksi, kondisi ini menjadi persoalan yang tidak hanya menyangkut pendapatan, tetapi juga masa depan petani cabai.
Gambaran tersebut mengemuka dalam diskusi antara petani, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Jember, serta Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Selasa, 1 September 2026.
Ketua Kelompok Tani Harapan Maju, M. Suyatno Diantoro, menyebut petani membutuhkan harga sekitar Rp10.000 per kilogram agar berada pada titik aman. Menurutnya, biaya pupuk, pestisida, mulsa, hingga kebutuhan produksi lainnya terus menjadi beban usaha tani.
Di sisi lain, Suyatno mengungkapkan adanya perbedaan harga yang cukup besar antara tingkat petani dan pedagang. “Di sini Rp6.000, di tingkat pedagang induk itu 14, 12. Separuh lebih,” ujarnya.
Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks karena cabai merupakan komoditas yang cepat rusak. Saat panen raya, petani memiliki pilihan terbatas untuk menahan hasil panen. Tanpa pengolahan atau akses pasar alternatif, cabai harus segera dijual meski harga sedang rendah.
Kepala Bidang Hortikultura Dinas TPHP Jember, Agung Satrio Setiawan, S.P., M.P., menilai persoalan utama saat ini tidak lagi sekadar produksi. “Kalau dikatakan swasembada cabai, kita sudah swasembada sebetulnya. Cuma mungkin permasalahannya kebetulan di pemasaran,” katanya.
Ketimpangan tersebut juga membawa persoalan jangka panjang. Suyatno mengaku tidak ingin anaknya mengikuti jejaknya sebagai petani karena melihat beratnya risiko yang harus ditanggung petani. Baginya, jika kondisi tersebut terus berlangsung, regenerasi petani dapat menjadi persoalan.
"Makanya anak saya, mohon maaf, kalau pribadi tidak akan jadi petani. Enggak mau saya. Saya suruh pondok, harapannya biar bagus, sekolah yang tinggi, jangan jadi petani, karena paling susah," tegas Suyatno.
Karena itu, dalam pertemuan tersebut muncul sejumlah gagasan, mulai dari pembentukan asosiasi petani cabai, pemangkasan rantai pemasaran, kemitraan langsung dengan pasar dan industri, hingga penguatan pascapanen melalui cabai kering dan produk olahan.
BRIN sendiri tengah menyusun naskah kebijakan strategi pemenuhan kebutuhan cabai melalui substitusi impor. Temuan di Jember diharapkan menjadi bahan untuk merumuskan kebijakan yang tidak hanya menjaga ketersediaan cabai, tetapi juga memperkuat posisi petani dalam rantai ekonomi komoditas tersebut. (fan)