Hidup Sebatang Kara, Bu Tini Tak Bisa Berjalan, Tetangga Jadi Sandaran, Lurah Gebang Turun Tangan
- 15 Oktober 2026
- Dibaca 22 Kali
Bagikan Via:
Hidup Sebatang Kara, Bu Tini Tak Bisa Berjalan, Tetangga Jadi Sandaran, Lurah Gebang Turun Tangan
JEMBER, 15 OKTOBER 2026 - Di sebuah rumah di Gang Wijayakusuma, Lingkungan Krajan, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Bu Tini menjalani hari-harinya dalam keterbatasan.
Di rumahnya, Bu Tini menjalani hari-hari seorang diri. Langkah kakinya tak lagi bisa diandalkan untuk bergerak, sementara urusan makan pun bergantung pada uluran tangan warga sekitar.
Bagi sebagian orang, berjalan ke dapur atau menyiapkan makanan mungkin perkara biasa. Namun, bagi Bu Tini, yang mengalami keterbatasan fisik dan tidak mampu berjalan, aktivitas sederhana itu menjadi persoalan yang tak mudah.
Ketika waktu makan tiba, kepedulian tetangga menjadi berarti. Warga sekitar membantu menyediakan makanan agar Bu Tini tetap bisa memenuhi kebutuhan hariannya. Bantuan sederhana itu menjadi bentuk perhatian di tengah keterbatasan yang ia hadapi.
Kondisi Bu Tini bukan sekadar persoalan yang terjadi di dalam rumah. Ada kebutuhan dasar, kesehatan, dan pendampingan sosial yang perlu mendapat perhatian bersama.
Kabar mengenai kondisinya mendorong Lurah Gebang Nanang Suwono turun langsung. Bersama Ketua RT setempat, petugas UPTD Kesehatan Puskesmas Patrang, serta Kasi PMKS) Kelurahan Gebang, Nanang mendatangi rumah Bu Tini untuk melakukan asesmen.
Kunjungan itu menjadi langkah awal untuk melihat lebih dekat kondisi yang dialami Bu Tini. Bukan hanya memastikan bagaimana ia menjalani keseharian, tetapi juga mengidentifikasi kebutuhan yang perlu ditindaklanjuti oleh pihak terkait.
Nanang Suwono mengatakan, pemerintah kelurahan berupaya hadir ketika mengetahui ada warga yang membutuhkan perhatian, terlebih mereka yang hidup sendiri dan mengalami keterbatasan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Kami datang untuk melihat langsung kondisi Bu Tini, mengetahui kebutuhan yang harus menjadi perhatian, dan berkoordinasi dengan pihak terkait agar bisa diupayakan penanganan yang sesuai. Kami ingin warga yang mengalami kesulitan seperti ini tetap mendapatkan perhatian,” ujar Nanang Suwono, Kamis 15 Oktober 2026.
Menurut dia, persoalan sosial seperti yang dialami Bu Tini membutuhkan kepedulian bersama. Pemerintah kelurahan tidak bisa berjalan sendiri. Peran pengurus RT, tenaga kesehatan, dan masyarakat sekitar diperlukan agar kondisi warga dapat diketahui secara menyeluruh.
Terlebih, Bu Tini tinggal seorang diri dan tidak mampu berjalan. Kondisi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan sehari-hari perlu menjadi perhatian serius. Asesmen diharapkan dapat membantu memetakan kebutuhan kesehatan maupun dukungan sosial yang dibutuhkan.
Kehadiran petugas Puskesmas Patrang dalam kegiatan itu juga menjadi bagian dari upaya melihat kondisi kesehatan Bu Tini. Sementara itu, pemerintah kelurahan dan pengurus lingkungan dapat berkoordinasi untuk mencari langkah pendampingan yang sesuai.
Di tengah keterbatasan tersebut, kepedulian tetangga menjadi gambaran bahwa rasa kemanusiaan masih tumbuh di lingkungan masyarakat. Mereka membantu menyediakan makanan, meski bantuan itu belum tentu mampu menjawab seluruh kebutuhan Bu Tini.
Sebab, perhatian kepada warga rentan tidak cukup berhenti pada bantuan sesaat. Dibutuhkan kepedulian yang berkelanjutan agar kebutuhan dasar, kesehatan, dan keselamatan mereka tetap terjaga.
Nanang berharap, melalui asesmen dan koordinasi lintas pihak, kondisi Bu Tini dapat ditindaklanjuti sesuai kebutuhan. Langkah berikutnya diharapkan tidak berhenti pada pendataan, tetapi juga mengarah pada bentuk dukungan yang benar-benar diperlukan. (rus)