Inovasi Pangan Unik, Mahasiswi Politeknik Negeri Jember Olah Kulit Pisang Jadi Abon di Kelurahan Gebang
- 12 Mei 2026
- Dibaca 212 Kali
Bagikan Via:
Inovasi Pangan Unik, Mahasiswi Politeknik Negeri Jember Olah Kulit Pisang Jadi Abon di Kelurahan Gebang
JEMBER, 12 MEI 2026 - Inovasi pengolahan limbah kulit pisang menjadi abon diperkenalkan mahasiswi Politeknik Negeri Jember di lingkungan RW 7 RT 1 Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Selasa 12 Mei 2026.
Program tersebut mendapat apresiasi dari Lurah Gebang Nanang Suwono dan masyarakat setempat, karena dinilai mampu menghadirkan alternatif produk pangan kreatif sekaligus bernilai ekonomi.
Gagasan itu dikembangkan oleh Ina Maulina Tri Wulandari, mahasiswi Jurusan Manajemen Agribisnis Program Studi Manajemen Agroindustri. Melalui inovasi tersebut, ia berupaya mengubah limbah organik yang selama ini kurang dimanfaatkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai jual.
Lurah Gebang, Nanang Suwono, menilai pembuatan abon berbahan dasar kulit pisang menjadi terobosan baru dalam pengolahan limbah pangan di Kabupaten Jember.
“Pembuatan abon dari kulit pisang di RW 7 RT 1 ini luar biasa. Mungkin ini pertama kali ada di Kabupaten Jember. Kulit pisang bisa dibuat menjadi oleh-oleh,” ujar Nanang dalam keterangannya, Selasa pagi.
Menurut dia, inovasi tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk usaha masyarakat karena bahan bakunya mudah diperoleh dan tersedia melimpah di lingkungan sekitar. Selama ini, kulit pisang umumnya hanya dibuang sebagai limbah rumah tangga tanpa pengolahan lebih lanjut.
Nanang berharap olahan abon kulit pisang tidak berhenti sebagai produk percobaan, melainkan dapat berkembang menjadi usaha produktif yang membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
“Kami berharap mudah-mudahan ini bisa berkembang di Kabupaten Jember dan menambah pemasukan atau income, khususnya bagi Mbak Maulina,” katanya.
Sementara itu, Ina Maulina menjelaskan proses pembuatan abon dilakukan dengan mengolah kulit pisang menggunakan berbagai bumbu rempah hingga menghasilkan cita rasa gurih menyerupai abon pada umumnya.
Menurut dia, inovasi tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi limbah organik, tetapi juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemanfaatan bahan pangan alternatif yang bernilai ekonomis.
“Selain untuk mengurangi limbah organik, inovasi ini juga menjadi bentuk edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemanfaatan bahan pangan alternatif yang bernilai ekonomis,” ujarnya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari penerapan ilmu manajemen agroindustri yang dipelajari di bangku kuliah agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui pengembangan produk pangan kreatif berbasis potensi lokal. (yud)