Jejak Panjang Pengabdian: Kisah Pak Muzaki, Pendidik Disabilitas Penerima Honor Guru Ngaji
- 19 Maret 2026
- Dibaca 368 Kali
Bagikan Via:
Jejak Panjang Pengabdian: Kisah Pak Muzaki, Pendidik Disabilitas Penerima Honor Guru Ngaji
JEMBER, 19 MARET 2026 – Pagi di Pendopo Kecamatan Jenggawah, Selasa 17 Maret 2026, tak sekadar menjadi ruang administrasi penyaluran insentif. Di antara deretan nama penerima, terselip satu kisah yang berjalan lebih panjang dari sekadar angka Rp1,5 juta: kisah tentang ketekunan, kesunyian pengabdian, dan harapan yang lama menunggu pengakuan.
Ia adalah Muzaki yang akrab disapa Pak Muzaki. Seorang guru ngaji yang telah menapaki jalan sunyi pengabdian sejak 1987. Di saat banyak orang mengukur kerja dari upah yang diterima, Pak Muzaki justru menakar hidup dari seberapa banyak huruf-huruf Al-Qur’an berpindah dari lisannya ke anak-anak kampungnya.
Puluhan tahun ia mengajar, dalam kondisi fisik yang tak sepenuhnya sempurna. Namun, keterbatasan itu tak pernah menjadi alasan untuk berhenti. Langkahnya mungkin tak secepat yang lain, tetapi kesabarannya melampaui waktu. Di ruang-ruang sederhana, dengan penerangan seadanya, ia terus hadir. Mengulang, membimbing, dan menguatkan.
Honor guru ngaji, bagi Pak Muzaki, bukan sekadar bantuan. Tapi bentuk pengakuan yang selama ini nyaris tak terdengar. Seperti gema yang akhirnya kembali setelah lama hilang di kejauhan.
“Baru kali ini saya merasa benar-benar diperhatikan. Terima kasih kepada pemerintah daerah. Terimakasih untuk Bupati Jember, Gus Fawait,” ujarnya lirih, dengan mata yang menyimpan haru.
Pada tahap kedua ini, Pemerintah Kabupaten Jember menyalurkan insentif kepada guru ngaji di sejumlah desa yang belum terjangkau sebelumnya. Dari Desa Cangkring tercatat 62 penerima, Desa Kemuningsari Kidul satu orang, Desa Jatisari empat orang, Desa Kertonegoro 15 orang, dan Desa Wonojati satu orang.
Bagi Pak Muzaki, uang yang diterimanya bukan untuk dirinya semata. Seperti biasa, ia lebih dulu memikirkan anak-anak yang setiap hari duduk bersila di hadapannya.
“Kalau anak-anak semangat, saya juga ikut senang. Insyaallah sebagian rezeki ini untuk mereka juga,” tuturnya.
Berbekal uang itu, ia berencana membeli kitab, alat tulis, dan perlengkapan sederhana lain. Hal-hal kecil yang kerap luput, tetapi berarti besar bagi proses belajar mereka. Sebab, bagi dia, mengajar bukan hanya soal menyampaikan, melainkan juga menyiapkan.
Program insentif ini memang menjadi wujud perhatian pemerintah daerah terhadap peran guru ngaji dalam membangun karakter masyarakat. Namun, lebih dari itu, kisah Pak Muzaki mengingatkan bahwa di balik setiap kebijakan, selalu ada manusia-manusia yang telah lama berjalan tanpa sorot kamera.
Pak Muzaki tidak pernah menuntut. Ia hanya terus mengajar. Dan mungkin, justru dari kesunyian itulah, lahir suara yang paling jernih tentang arti pengabdian. (fnd)