KUBIK 2.0 Gelar Pelatihan Social Emotional Learning bagi Pemuda Disabilitas, Camat Ledokombo Diharapkan Perkuat Dukungan Inklusi
- 14 Oktober 2026
- Dibaca 3 Kali
Bagikan Via:
KUBIK 2.0 Gelar Pelatihan Social Emotional Learning bagi Pemuda Disabilitas, Camat Ledokombo Diharapkan Perkuat Dukungan Inklusi
JEMBER, 14 OKTOBER 2026 — Upaya memperkuat pemberdayaan pemuda penyandang disabilitas membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah kecamatan, pemerintah desa, lembaga sosial, hingga masyarakat. Semangat tersebut menjadi landasan penyelenggaraan kegiatan Pelatihan Social Emotional Learning bagi orang muda dengan disabilitas yang diinisiasi oleh KUBIK 2.0 (Kelompok Usaha Bisnis Inklusif) bersama pihak terkait di wilayah Kabupaten Jember.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu, 14 Oktober 2026, pukul 08.00–13.00 WIB, bertempat di Ruang Rapat Kantor Kecamatan Ledokombo, Jalan Stasiun Nomor 6, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Dalam agenda tersebut, Camat Ledokombo, Roni Herman Baza, AP, menghadiri kegiatan tersebut sekaligus membuka acara secara resmi dan memberikan sambutan. Kehadiran unsur pemerintah kecamatan diharapkan menjadi bagian dari penguatan sinergi antara pemerintah dan pemangku kepentingan dalam mendukung program inklusi sosial, khususnya bagi orang muda dengan disabilitas.
Kegiatan ini tidak hanya diarahkan pada peningkatan pemahaman mengenai aspek sosial dan emosional, tetapi juga berkaitan dengan upaya membangun basis data yang komprehensif di tingkat desa. Data yang memadai dinilai penting sebagai landasan untuk memahami kondisi, kebutuhan, potensi, serta tantangan yang dihadapi orang muda dengan disabilitas dalam mengakses kesempatan dan berpartisipasi di lingkungan sosialnya.
Social Emotional Learning (SEL) merupakan pendekatan pembelajaran yang membantu seseorang mengenali dan mengelola emosi, membangun hubungan yang sehat, mengembangkan empati, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, serta meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain.
Bagi pemuda dengan disabilitas, penguatan kemampuan sosial dan emosional dapat menjadi salah satu unsur pendukung untuk meningkatkan kepercayaan diri, kemandirian, komunikasi, dan partisipasi dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, keberhasilan pemberdayaan tidak cukup hanya bertumpu pada kemampuan individu. Lingkungan yang inklusif, akses terhadap layanan, kesempatan yang setara, serta dukungan keluarga dan masyarakat juga menjadi faktor penting.
Oleh karena itu, pelatihan ini memiliki relevansi dengan kebutuhan membangun ekosistem pemberdayaan yang lebih responsif terhadap keberagaman. Pendekatan inklusi menempatkan penyandang disabilitas bukan semata-mata sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai individu yang memiliki hak, potensi, aspirasi, dan kemampuan untuk berkontribusi dalam pembangunan.
Dorong Penguatan Data dan Kolaborasi Lintas Sektor
Salah satu tujuan kegiatan tersebut adalah mengembangkan basis data komprehensif di tingkat desa sekaligus meningkatkan pemahaman dan keterlibatan para pemangku kepentingan dalam mendukung pemberdayaan orang muda dengan disabilitas di Kabupaten Jember.
Fokus kegiatan tersebut mencakup wilayah Ledokombo, Arjasa, dan Silo. Ketiga wilayah ini menjadi bagian dari sasaran penguatan perhatian terhadap kebutuhan dan potensi pemuda disabilitas melalui keterlibatan berbagai pihak.
Ketersediaan data yang akurat dan diperbarui secara berkala dapat membantu pemerintah serta lembaga terkait menyusun program yang lebih tepat sasaran. Data tersebut, dengan tetap memperhatikan perlindungan privasi dan persetujuan yang diperlukan, dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi kebutuhan aksesibilitas, pendidikan, pelatihan keterampilan, kesempatan kerja, layanan sosial, serta bentuk dukungan lainnya.
Di sisi lain, keterlibatan pemangku kepentingan perlu diwujudkan melalui kerja sama yang berkelanjutan. Pemerintah kecamatan dan desa memiliki peran strategis dalam menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan program pembangunan. Sementara itu, organisasi sosial, keluarga, komunitas, dan lembaga pemberdayaan dapat berkontribusi dalam pendampingan, pengembangan kapasitas, serta penciptaan lingkungan yang ramah disabilitas.
Dalam agenda kegiatan tersebut, Roni Herman Baza, AP, selaku Camat Ledokombo, membuka pelatihan sekaligus menyampaikan sambutan. Kehadiran camat diharapkan memperkuat dukungan pemerintah terhadap inisiatif pemberdayaan orang muda dengan disabilitas.
Pesan yang relevan untuk mengiringi kegiatan ini adalah bahwa pembangunan yang berkeadilan harus memberikan ruang partisipasi kepada seluruh warga tanpa terkecuali. Pemuda dengan disabilitas perlu memperoleh kesempatan yang setara untuk mengembangkan kemampuan, menyampaikan aspirasi, membangun kemandirian, dan mengambil bagian dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.
Dalam sambutannya, Camat Ledokombo Roni Herman Baza, AP, menekankan pentingnya membangun lingkungan yang memberikan kesempatan setara kepada seluruh masyarakat.
“Pemberdayaan pemuda dengan disabilitas harus menjadi perhatian bersama. Mereka memiliki potensi, kemampuan, dan hak yang sama untuk berkembang serta berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu, kita perlu membangun lingkungan yang inklusif, memberikan kesempatan yang adil, dan memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam proses pembangunan,” ujar Roni.
Ia juga dapat menegaskan bahwa pemerintah kecamatan perlu terus mendorong koordinasi dengan pemerintah desa, lembaga sosial, serta unsur masyarakat agar kebutuhan penyandang disabilitas dapat dipahami secara lebih menyeluruh.
“Pendataan yang akurat menjadi salah satu langkah penting agar program yang direncanakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Namun, pendataan harus diikuti dengan tindak lanjut yang jelas, mulai dari penguatan akses pelayanan, pengembangan keterampilan, hingga pembukaan peluang bagi pemuda dengan disabilitas untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan ekonomi,” lanjutnya.
Dukungan pemerintah juga perlu diterjemahkan ke dalam langkah nyata, antara lain memperkuat koordinasi antarlembaga, mendorong pendataan yang akurat, meningkatkan aksesibilitas pelayanan publik, serta membuka ruang keterlibatan penyandang disabilitas dalam perencanaan dan evaluasi program pembangunan.
Dengan demikian, inklusi tidak berhenti sebagai slogan atau agenda seremonial, tetapi menjadi prinsip yang diterapkan dalam kebijakan, pelayanan, dan praktik kehidupan bermasyarakat.
Sebagai penyelenggara, KUBIK 2.0 memiliki posisi penting dalam mendorong penguatan inisiatif pemberdayaan dan inklusi di tingkat lokal. Kegiatan ini juga membawa harapan agar komunikasi antara lembaga penyelenggara, pemerintah, dan para pemangku kepentingan dapat berkembang menjadi kerja sama yang berkesinambungan.
Dra. Farha Abdul Kadir Assegaf, M.Si., selaku Direktur Tanoker, serta Sutopo, S.Sn., selaku Koordinator Program KUBIK. Pelibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan pentingnya dukungan kelembagaan dalam membangun program yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Dari sisi penyelenggara, penguatan kapasitas sosial dan emosional serta penyediaan data yang memadai menjadi dua aspek yang saling melengkapi. Data membantu memetakan kebutuhan dan potensi, sedangkan pelatihan dapat mendukung pengembangan kapasitas individu agar lebih percaya diri dan mampu berpartisipasi secara aktif.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi penguatan kerja sama lintas sektor dalam mendorong pemberdayaan pemuda disabilitas.
“Pelatihan ini diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pemahaman peserta, tetapi juga mendorong keterlibatan pemerintah desa, pemerintah kecamatan, keluarga, dan masyarakat dalam membangun lingkungan yang lebih inklusif. Dengan pemahaman kebutuhan dan potensi yang lebih baik, dukungan yang diberikan dapat menjadi lebih tepat sasaran dan berkelanjutan,” jelasnya. (yus)