Langkah Preventif Pemkab Jember, Jaring Ibu Hamil Risiko Tinggi Lewat Penguatan Kapasitas Kader
- 22 April 2026
- Dibaca 141 Kali
Bagikan Via:
Langkah Preventif Pemkab Jember, Jaring Ibu Hamil Risiko Tinggi Lewat Penguatan Kapasitas Kader
JEMBER, 22 APRIL 2026- Pemerintah Kabupaten Jember terus memperkuat garda terdepan kesehatan masyarakat melalui skema proaktif dalam menekan angka kematian ibu dan bayi. Melalui Gerakan 1200 Nakes (Gerakan Cinta Kesehatan Ibu dan Anak), Pemerintah Kabupaten Jember menggelar penguatan kapasitas kader posyandu di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, sebagai langkah strategis untuk menjaring ibu hamil dengan risiko tinggi secara lebih dini dan komprehensif.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini dihadiri langsung oleh Camat Kaliwates, Dwisunu Arinugroho, S.Sos., Lurah Mangli beserta Ibu Lurah, serta menghadirkan pakar dari akademisi, Andy Asmara, S.AP., M.PSDM., selaku Dosen STIKES Griya Husada Surabaya. Fokus utama agenda ini adalah membekali para kader dengan kemampuan deteksi dini untuk memastikan tidak ada ibu hamil yang luput dari pengawasan medis, terutama mereka yang berada dalam kategori risiko tinggi (risti).
Dalam sambutannya, Camat Kaliwates, Dwisunu Arinugroho, menegaskan bahwa kolaborasi antara birokrasi dan kader lapangan adalah kunci keberhasilan program kesehatan daerah. Ia mengapresiasi dedikasi para kader yang selama ini menjadi jembatan informasi antara masyarakat dan fasilitas kesehatan.
"Kader adalah ujung tombak kita di lapangan. Kehadiran bapak dan ibu sekalian memastikan bahwa kebijakan pemerintah tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar menyentuh langsung masyarakat yang membutuhkan, khususnya dalam memberikan perlindungan bagi ibu dan anak di wilayah Kaliwates," ujar Dwisunu Arinugroho.
Materi inti mengenai peningkatan kompetensi dasar kader disampaikan oleh Tri Yaningsih, SKM., M.Kes., dari Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan KB Kabupaten Jember. Ia menekankan bahwa meskipun kader bukan merupakan tenaga kesehatan (nakes), peran mereka dalam ekosistem kesehatan di posyandu sangat krusial dan tidak tergantikan. Tugas utama kader saat ini adalah memperluas jangkauan sasaran untuk menemukan ibu hamil baru sedini mungkin.
Fenomena yang sering terjadi di lapangan adalah ditemukannya ibu hamil yang sudah memasuki usia kandungan besar namun belum pernah tersentuh layanan pemeriksaan rutin. Hal inilah yang menjadi target intervensi melalui penguatan kapasitas kader. Dengan penemuan sasaran yang lebih awal, risiko komplikasi kehamilan hingga potensi stunting pada balita dapat dimitigasi secara sistematis melalui penanganan medis yang tepat.
Tri Yaningsih dalam paparannya menjelaskan alur koordinasi yang harus dijalankan: kader bertugas menemukan sasaran, nakes melakukan pendampingan intensif, dan dokter yang telah ditugaskan khusus untuk Kelurahan Mangli akan melakukan penanganan medis profesional.
"Kami sangat berharap melalui gerakan ini, para kader dapat lebih jeli dalam menyisir wilayahnya. Tujuannya jelas, yakni membantu mengurangi angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), serta menekan prevalensi stunting. Jika kita bisa menjaring ibu hamil lebih awal, maka intervensi risiko dapat ditangani lebih dini sehingga keselamatan ibu dan bayi lebih terjamin," tegas Tri Yaningsih.
Melalui sinkronisasi antara Gerakan 1200 Nakes dan peran aktif kader posyandu, Kabupaten Jember optimis dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi ibu hamil. Upaya preventif ini diharapkan menjadi preseden baik dalam pembangunan sumber daya manusia unggul yang dimulai sejak masa kehamilan, sekaligus menjadi bukti nyata kehadiran pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan kesehatan yang inklusif bagi seluruh warga Jember.(bjk)