logo ppid jember kim
Oleh : Kelurahan Tegal Gede

Mahasiswa KKN Kolaboratif Kelompok 238 Kelurahan TegalGede Galakkan Program Budidaya Maggot Untuk Kelola Sampah Organik

  • 06 Agustus 2025
  • Dibaca 385 Kali
Bagikan Via:
mahasiswa-kkn-kolaboratif-kelompok-238-kelurahan-tegalgede-galakkan-program-budidaya-maggot-untuk-kelola-sampah-organik

Mahasiswa KKN Kolaboratif Kelompok 238 Kelurahan TegalGede Galakkan Program Budidaya Maggot Untuk Kelola Sampah Organik

Jember- 6 Agustus 2025, Mahasiswa KKN Kolaboratif Kelompok 238 melaksanakan program unggulan Budidaya Maggot di Kelurahan TegalGede, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, yang berlangsung sejak 17 Juli hingga 22 Agustus 2025. Program ini mendapat dukungan penuh dari Kepala Lurah TegalGede Pak Abdul Khamil, S.Si., S.Sos., M.M., NL,P beserta seluruh jajaran staf kelurahan, serta turut dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Pak Sugeng Hartanto, S.E., M.Akun, sebagai inovasi pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan, bernilai ekonomi, dan berpotensi mendukung penanggulangan stunting.

Budidaya maggot memanfaatkan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) yang efektif mengurai limbah organik rumah tangga seperti sisa makanan, sayur, dan buah. Dengan kemampuan penguraian yang cepat, maggot membantu mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sehingga berdampak positif terhadap kebersihan lingkungan.

Selain manfaat lingkungan, maggot memiliki kandungan protein 40 sampai 50% dan lemak 30 sampai 35%, menjadikannya pakan ternak berkualitas tinggi untuk ikan, unggas, dan hewan peliharaan lainnya. Dengan tersedianya pakan bergizi dan terjangkau, diharapkan produktivitas peternakan meningkat, sehingga ketersediaan protein hewani masyarakat lebih terjamin. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mencegah stunting, mengingat protein hewani berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Siklus hidup maggot dimulai dari telur lalat BSF yang menetas dalam 24 hari menjadi larva. Larva berkembang selama 14 sampai 18 hari sebelum memasuki tahap prepupa, lalu mencari tempat kering dan gelap untuk berubah menjadi pupa dalam 7 sampai 10 hari. Pupa kemudian bermetamorfosis menjadi lalat dewasa yang hidup selama 5 sampai 8 hari dan menghasilkan telur baru. Keseluruhan siklus ini berlangsung sekitar 40 sampai 43 hari.

Tahapan pelaksanaan program meliputi persiapan kandang lalat BSF, pembuatan media penetasan telur, pembesaran larva dalam maggot box, pemberian pakan dari limbahorganik rumah tangga, hingga panen maggot pada usia 12 sampai 15 hari. Hasil panen dapat dimanfaatkan langsung sebagai pakan ternak atau diolah menjadi produk turunan seperti maggot kering, tepung maggot, dan pupuk organik dari kasgot (sisa metabolisme maggot) yang memiliki nilai jual tinggi.

Pupuk organik dari kasgot menjadi alternatif ramah lingkungan bagi petani karena dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sekaligus meningkatkan kualitas tanah. Dengan manfaat yang mencakup aspek lingkungan, pertanian, peternakan, dan kesehatan, program budidaya maggot diharapkan menjadi solusi berkelanjutan bagi Kelurahan Tegal Gede.

Mahasiswa KKN Kolaboratif 238 optimis program ini dapat menjadi contoh inspiratif bagi daerah lain dalam mengelola sampah organik secara efektif, menciptakan peluang usaha baru, dan mendukung target pemerintah dalam menurunkan angka stunting di Indonesia.