Memutus Mata Rantai Stunting, Balai KB Kecamatan Panti Gelar Pembinaan Terpadu Melalui Program Dahsat
- 26 Juni 2026
- Dibaca 24 Kali
Bagikan Via:
Memutus Mata Rantai Stunting, Balai KB Kecamatan Panti Gelar Pembinaan Terpadu Melalui Program Dahsat
JEMBER, 26 JUNI 2026 – Pemerintah Daerah Kabupaten Jember bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) serta jajaran lintas sektor bergerak cepat mengakselerasi penurunan angka stunting nasional. Langkah ini diwujudkan melalui Pembinaan Terpadu Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) yang berpusat di Balai Pertemuan Warga, Jumat 26 Juni 2026.
Kegiatan ini fokus pada peningkatan asupan gizi bagi Keluarga Risiko Stunting (KRS) melalui optimalisasi program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dahsat). Langkah taktis tersebut diambil sebagai respons nyata dalam menangani masalah gizi kronis pada balita akibat kurangnya asupan nutrisi dalam jangka panjang.
Camat Panti, Hendra Kusuma, dalam sambutannya menegaskan bahwa Kampung KB bukan sekadar papan nama resmi. Wadah ini merupakan pusat integrasi program pembangunan yang dampaknya harus dirasakan langsung oleh masyarakat demi melahirkan generasi emas yang bebas stunting.
"Penurunan stunting tidak bisa dilakukan dengan cara-cara biasa. Kehadiran program Dahsat di Kampung KB ini adalah intervensi langsung ke dapur-dapur masyarakat. Kita ingin memastikan bahwa apa yang tersaji di piring anak-anak kita adalah sumber gizi yang tepat, bukan sekadar mengenyangkan," ujar Hendra.
Inti dari pembinaan terpadu kali ini adalah pemanfaatan potensi pangan lokal. Melalui Dahsat, para kader institusi masyarakat pedesaan, TP-PKK, dan penasihat gizi memberikan edukasi praktis mengenai cara mengolah bahan makanan murah dan mudah didapat menjadi hidangan kaya protein serta mikronutrien yang disukai anak-anak.
Bahan pangan lokal seperti daun kelor, ikan sungai, telur, dan tahu dipilih untuk mengikis miskonsepsi bahwa makanan bergizi harus selalu mahal. Melalui demonstrasi memasak (cooking demo) yang interaktif, para ibu diajarkan teknik mengolah makanan yang benar agar kandungan nutrisinya tidak hilang selama proses memasak.
Untuk memastikan keberlanjutan program, pembinaan dilakukan melalui lima tahapan yang saling terintegrasi. Tahap awal dimulai dengan identifikasi dan validasi data KRS oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) melalui penapisan (screening) serta pemutakhiran data ibu hamil, ibu menyusui, dan batita/balita guna menetapkan sasaran prioritas.
Langkah ini dilanjutkan dengan tahap kedua berupa edukasi teoretis serta konseling gizi mengenai pentingnya Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) dan pola asuh sehat. Memasuki tahap ketiga, para ibu dipandu langsung oleh ahli gizi Puskesmas dalam praktik pengolahan menu gizi seimbang berbasis pangan lokal serta menjaga higiene sanitasi makanan.
Sebagai stimulan untuk mempraktikkan menu Dahsat di rumah, tahap keempat diisi dengan pendistribusian paket bahan pangan tinggi protein seperti telur, susu, dan ikan. Seluruh rangkaian ini ditutup dengan tahap keberlanjutan berupa pemantauan dan evaluasi berkala terhadap berat serta tinggi badan anak di Posyandu setiap bulan.
Keberhasilan program Dahsat di Kampung KB ini bertumpu pada kuatnya konvergensi antarlembaga. Dinas Kesehatan melalui Puskesmas bertindak sebagai pengawas mutu gizi, sementara Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan menggalakkan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) melalui pemanfaatan pekarangan rumah untuk budidaya sayur dan ikan dalam ember (Budikdamber).
Kegiatan ini diakhiri dengan komitmen bersama seluruh elemen desa untuk mengawal program DAHSAT secara konsisten demi mewujudkan Desa Zero Stunting. (jha)