logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Sumbersari

Mengais Sisa Gabah, Menyimpan Asa: Kisah Bu Santi Menjelang Hari Raya

  • 19 Maret 2026
  • Dibaca 150 Kali
Bagikan Via:
mengais-sisa-gabah-menyimpan-asa-kisah-bu-santi-menjelang-hari-raya-20260319

Mengais Sisa Gabah, Menyimpan Asa: Kisah Bu Santi Menjelang Hari Raya

JEMBER, 19 MARET 2026 – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, suasana di sebuah rumah sederhana di kawasan Jalan Tawangmangu, Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Sumbersari, Jember, terasa berbeda. Pagi itu, pintu rumah Bu Santi (68) diketuk dengan lembut, bukan oleh kerabat, melainkan oleh tangan kepedulian.

Di balik pintu kayu yang mulai lapuk, perempuan sepuh itu menyambut dengan wajah penuh kehangatan. Ia tak menyangka, di tengah keterbatasannya, bantuan benar-benar datang langsung ke rumahnya.

Di hadapannya berdiri Shierley Aisyah, lurah perempuan yang pagi itu turun langsung mengantarkan paket sembako kepada warga yang membutuhkan. Tanpa jarak, tanpa formalitas, ia menyerahkan bantuan itu dengan senyum tulus.

Rumah lansia tersebut memang jauh dari kata layak. Ia hidup sebatangkara, menjalani hari-hari dalam sunyi. Untuk bertahan hidup, nenek 68 tahun itu bekerja sebagai buruh tani serabutan, menunggu panggilan saat musim tanam atau panen tiba. Jika tidak ada pekerjaan, ia tak jarang menyusuri sawah, memunguti sisa-sisa padi yang tertinggal setelah panen usai.

Penghasilannya tak menentu. Untuk makan sehari-hari, perempuan lanjut usia itu kerap bergantung pada uluran tangan saudara. Hidup dijalani dengan kesederhanaan yang nyaris tanpa pilihan.

“Saya sangat terbantu… terima kasih kepada Bapak Bupati dan Ibu Lurah,” ucapnya lirih, matanya berkaca-kaca.

Bantuan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Bupati Jember Muhammad Fawait agar tidak ada warga yang kekurangan bahan pokok menjelang Lebaran. Arahan itu menjelma nyata, hadir hingga ke rumah-rumah kecil yang sering luput dari perhatian.

Di sudut rumahnya, paket sembako itu kini tersusun rapi—beras, minyak, dan kebutuhan pokok lainnya. Bagi sebagian orang mungkin sederhana, tetapi bagi dirinya, itu adalah kepastian bahwa dapurnya tetap bisa mengepul di hari raya nanti.

Sementara di luar, langkah Shierley Aisyah masih berlanjut, mengetuk pintu-pintu lain yang menyimpan kisah serupa. Baginya, ini bukan sekadar tugas administratif, melainkan amanah untuk memastikan tak ada warga yang merasa sendiri di momen penting seperti Lebaran.

Di dalam rumah kecil itu, sang nenek kembali duduk. Tangannya menyentuh bungkusan beras di sampingnya, seolah memastikan semuanya nyata. Ia tersenyum pelan.

Lebaran tahun ini mungkin tetap sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu, ada rasa tenang yang akhirnya datang, dan harapan yang kembali tumbuh, di rumah kecil yang tak lagi terasa begitu sunyi. (aji)

Galeri Foto